Jakarta, S24 - Beberapa jenis obat diresepkan untuk dikonsumsi sebanyak tiga kali sehari atau 3 x 1.
Biasanya, pasien akan mengonsumsinya pada pagi, siang, dan malam hari, baik sebelum makan maupun sesudah makan sesuai dengan aturan dari dokter.
Sering kali, patokan waktu mengonsumsi obat ini menjadi tidak menentu. Misalnya, jika pada pagi hari, seseorang makan pukul 08.00, maka obat akan dikonsumsi sekitar pukul 08.00 (jika obat diminum setelah makan).
Lalu di siang hari, obat mungkin akan dikonsumsi pada pukul 12.00 setelah jeda makan siang. Kemudian, pada malam harinya, obat kembali diminum pada pukul 20.00, setelah makan malam.
Jadwal minum obat seperti itu dinilai tidak konsisten dengan jarak waktu yang tidak beraturan. Padahal, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. apt. Zullies Ikawati, Ph.D mengatakan bahwa obat yang diresepkan 3 kali sehari tidak boleh dikonsumsi sembarang waktu.
"Begini ya, aturan 3×1 itu artinya obat diminum 1 tablet/kapsul, sebanyak 3 kali dalam sehari. Tujuannya agar kadar obat di dalam tubuh tetap stabil sepanjang hari sehingga obat bisa bekerja optimal," kata dia, saat dikonfirmasi Kompas.com, baru-baru ini.
Menurut Zullies, idealnya obat diminum setiap kurang lebih 8 jam sekali. Lantas, kapan waktu yang tepat untuk mengonsumsi obat 3x1?
Jam Ideal Minum Obat 3x1
Zullies menjelaskan, obat yang diresepkan 3x1 harus diminum setiap 8 jam sekali. Waktu tersebut diperoleh dari satu hari yang terdiri dari 24 jam dan dibagi ke dalam 3 bagian.
"Berapa lama jeda antar minum obat? Idealnya ±8 jam. Masih bisa ditoleransi 7–9 jam, asal tidak terlalu dekat atau terlalu jauh," kata dia.
Zullies mengimbau waktu minum obat sebaiknya dilakukan dengan jarak waktu yang relatif sama. "Yang penting jaraknya relatif sama, tidak harus persis jamnya, tetapi mendekati 8 jam," ungkap Zullies.
Dia mencontohkan jadwal mengonsumsi obat 3x1 untuk pagi, siang, dan malam hari:
Pagi: sekitar 06.00 – 07.00 waktu setempat
Siang: sekitar 14.00 – 15.00 waktu setempat
Malam: sekitar 22.00 – 23.00 waktu setempat.
Menurut Zullies, jika seseorang mengonsumsi obat 3x1 pada pukul 07.00, 15.00, dan 23.00, itu masih dianggap baik dan konsisten.
"Untuk lebih mudah, dengan mempertimbangkan waktu tidur, bisa juga dibuat selang 7 jam, misalnya jam 06.00, jam 13.00, jam 20.00," kata Zullies.
Dampak jika obat diminum tidak sesuai jamnya, seperti yang sudah dijelaskan Zullies, minum obat dengan dosis 3 x1 bertujuan untuk menjaga agar kadar obat di dalam tubuh tetap stabil sepanjang hari.
Dengan begitu, obat bisa bekerja dengan optimal. Sebaliknya, jika obat terlalu cepat atau terlalu lama diminum jedanya, bisa menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.
Zullies menjelaskan, obat yang terlalu cepat diminum, kadarnya bisa terlalu tinggi sehingga menimbulkan efek samping, seperti mual, pusing, iritasi lambung, dan sebagainya.
"Jika obat terlalu lama (diminum) jaraknya, kadar obat bisa turun terlalu rendah. Obat jadi kurang efektif dan penyakit bisa lebih lama sembuh atau gejala kambuh," ungkap dia.
Oleh sebab itu, Zullies mengimbau kepada pasien agar tidak mengubah-ubah waktu mengonsumsi obat yang sudah diresepkan oleh dokter. Sebab, ketidakkonsistenan mengonsumsi obat bisa menyebabkan terapi menjadi tidak optimal.
Pada obat antibiotik, tindakan tersebut juga bisa membuat kuman tidak mati secara sempurna. Sebaliknya, kuman justru akan kebal terhadap antibiotik.
Sementara itu, pada obat untuk penyakit kronis, seperti tekanan darah, diabetes, asma, ketidakonsistenan bisa menyebabkan kondisi kesehatan menjadi tidak terkontrol.(S24-KOMPAS.com)

0Komentar