. Usaha Abon Patin Wanita Tani Muarojambi Berjuang Menjaring Pelanggan

Usaha Abon Patin Wanita Tani Muarojambi Berjuang Menjaring Pelanggan


Abon ikan patin dalam kemasan siap jual hasil produksi Kelompok Wanita Tani (KWT) Tunas Baru, Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi. (Matra/Rds)

(Matra, Jambi) – Kabupaten Muarojambi yang memiliki luas wilayah sekitar 5.246 kilometer persegi (km²) sudah cukup lama terkenal sebagai penghasil ikan air tawar di Provinsi Jambi. Kabupaten yang terbentuk berdasarkan Undang-undang nomor 54 Tahun 1999 tersebut selama ini menjadi salah satu pemasok kebutuhan ikan air tawar ke Kota Jambi. 


Kabupaten Muarojambi yang memiliki kawasan perairan cukup luas di Sungai Batangari  sangat potensial dengan usaha kolam terapung atau keramba serta kolam. Karena itu, kabupaten yang berpenduduk sekitar 350.000 jiwa tahun 2017 tersebut memiliki produksi ikan yang cukup tinggi. Komoditas usaha perikanan yang menjadi favorit di kabupaten yang berbatasan dengan Kota Jambi itu, yakni ikan lele, nila dan patin.


Selama lima tahun terakhir, produksi perikanan Kabupaten Muarojambi rata-rata mencapai 11.144 ton/tahun. Produksi ikan perairan umum rata-rata 859 ton dan budidaya rata-rata 10.284 ton/tahun. Namun besarnya produksi ikan di daerah itu menjadi beban bagi para petani ikan karena harga yang sering merosot.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Tunas Baru, Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Triwarni (berdiri) mengolah abon patin. (Matra/Rds)


Abon Patin

Karena itu, untuk meningkatkan nilai tambah hasil usaha perikanan di daerah itu, para petani ikan di daerah itu mengembangkan usaha abon dan kerupuk ikan patin (Pangasius). Industri rumah tangga (home industri) pengolahan abon dan kerupuk abon patin di kabupaten yang memiliki 129 desa/kelurahan dan 9 kecamatan tersebut pertama kali dirintis Kelompok Wanita Tani (KWT) Tunas Baru, Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi sejak tahun 2005.

Perjuangan wanita tani Desa Pudak tersebut ternyata tidak sia-sia. KWT Tunas Baru, Desa Pudak berhasil mengembangkan usaha pengolahan abon dan kerupuk ikan patin. Saat ini abon dan kerupuk ikan patin Desa Pudak sudah berhasil menembus pasar-pasar swalayan di Kota Jambi. Produk abon dan kerupuk ikan patin mereka juga dipasarkan di pusat pemasaran Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jambi dan pusat penualan oleh-oleh khas Jambi di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin Jambi.



Ketua KWT Tunas Baru, Desa Pudak, Triwarni baru-baru ini mengatakan mengatakan, modal usaha dan pemasaran abon dan kerupuk ikan patin mereka banyak dibantu pemerintah setempat. Kemudian pemerintah setempat juga membantu mereka dalam pengolahan abon dan kerupuk ikan patin serta pembuatan kemasan.



Melalui bantuan pemerintah dan kerja keras anggota kelompok, KWT Tunas Baru kini mampu menghasilkan 37,5 kilogram (kg) abon patin/hari dan kerupuk ikan patin 10 kg/hari. Produksi abon patin kelompok wanita tani tersebut dalam sebulan rata-rata 825 kg. Produksi kerupuk ikan patin mereka rata-rata  220 kg/bulan. Sedangkan waktu kerja pengolahan abon patin KWT Tunas Baru dalam sebulan saat ini baru 22 hari.



Kemudian bahan baku ikan patin segar yang dibutuhkan dalam usaha pengolahan abon ikan patin KWT Tunas Baru dalam sehari mencapai 150 kg. Namun produksi abon ikan patin yang mampu mereka pasarkan saat ini baru mencapai 200 kg/bulan dan kerupuk ikan patin rata-rata 50 kg/bulan.



“Kami belum mampu memasarkan produk abon patin dan kerupuk ikan patin ke luar Provinsi Jambi karena keterbatasan jaringan pemasaran. Karena itu kami  baru mampu memasarkan abon ikan patin dan kerupuk ikan patin di Kota Jambi dan di sentra usaha kami ini,”katanya.
Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Tunas Baru, Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi mengambil daging ikan patin untuk diolah menjadi abon. (Matra/Rds)

Harga Terjangkau

Menurut Triwarni, produksi abon patin KWT Tunas Baru Desa Pudak sudah memenuhi standar kesehatan. Usaha mereka juga sudah mendapat izin Departemen Kesehatan. Produk abon patin dan kerupuk ikan patin mereka diberi merek “Tri & T”. Harga abon ikan dan kerupuk ikan patin KWT Tunas Baru, Desa Pudak juga cukup terjangkau.



Harga abon patin dan kerupuk ikan patin “Tri & T” dalam kemasan 100 gram di pasar swalayan hanya Rp 14.000,- dan di sentra usaha abon patin Desa Pudak hanya Rp 12.000. Sedangkan harga abon patin dan kerupuk ikan patin secara kiloan di Desa Pudak hanya Rp 100.000/kg. Pembelian abon dan kerupuk patin secara kiloan minimal 5 kg.



Triwarni mengatakan, melalui pengembangan usaha pengolahan abon patin dan kerupuk patin tersebut, KWT Tunas Baru Desa Pudak mampu menghasilkan uang Rp 20 juta/bulan. Modal yang dikeluarkan untuk pengolahan abon patin dan kerupuk patin dalam sebulan sekitar Rp 7,5 juta.



Dengan demikian penghasilan bersih KWT Tunas Baru sebulan mencapai Rp 12,5 juta. Penghasilan tersebut dibagi kepada enam anggota dan pengurus KWT Tunas Baru. Masing-masing anggota dan pengurus mendapatkan penghasilan Rp 2 juta/bulan.



Pembentukan KWT Tunas Baru sejak tahun 2005 diprakarsai enam wanita tani – nelayan Desa Pudak, Muarojambi, yakni Triwarni (Ketua), Sumarni (Sekretaris), Sumirah (Bendahara) dan empat anggota marangkap pekerja, yakni Sulastri, Salimah, Sumarni dan Suparti. 
Pusat usaha pengolahan abon dan kerupuk ikan patin Kelompok Wanita Tani (KWT) Tunas Baru, Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi. (Matra/Rds)

Bantu Petani Ikan

Triwarni mengatakan, KWT Tunas Baru mengembangkan usaha pengolahan ikan patin menjadi abon dan kerupuk untuk menampung hasil panen ikan patin dari desa mereka, meningkatkan nilai tambah ikan patin, membuka lapangan kerja, khususnya tenaga kerja wanita. Cita-cita tersebut pun berhasil mereka capai.



Usaha pengolahan abon patin dan kerupuk patin KWT Tunas Baru kini mampu menampung ikan patin hasil budidaya Kelompok Budidaya Perikanan (Pokdakan) Tunas Baru, Desa Pudak rata-rata 150 kg/hari. Kemudian nilai tambah ikan patin di desa itu pun berhasil mereka dongkrak berkat hasil industri pengolahan abon dan kerupuk ikan patin. Kemudian kelompok mereka juga mampu menyerap puluhan wanita desa untuk bekerja sebagai pengolah abon dan kerupuk ikan patin.



Sementara itu Ketua Pokdakan Tunas Baru, Desa Pudak, Timan mengatakan, usaha budidaya ikan patin Pokdakan Tunas Baru sangat terbantu berkat kehadiran usaha pengolahan abon patin dan kerupuk patin di desa tersebut. Sebanyak 60 orang anggota Pokdakan Tunas Baru pun kini bergairah mengembangkan usaha perikanan mereka karena produksi ikan mereka ada yang menampung. Sedangkan 500 unit kolam ikan patin mereka pun kini dikelola dengan baik.



“Produksi ikan patin Pokdakan Tunas Baru saat ini rata-rata 5 ton/hari. Sebagian produksi ikan kami dipasarkan ke Kota Jambi dan ke beberapa kabupaten di Jambi. Sisa produksi ikan patin kami dipasok kepada usaha pengolahan abon dan kerupuk ikan patin di desa ini. Jadi tidak ada lagi masalah dalam pemasaran ikan patin di desa ini,”katanya. (Matra/Rds)
Kerupuk patin produksi Kelompok Wanita Tani, Desa Pudak, Muarojambi sudah berhasil menembus pasar swalayan, khususnya di Kota Jambi. (Matra/Rds)

Berita Lainya

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama