Foto Istimewa facebook Siantar Channel.
.
Tapanuli Tengah, S24- Banjir bandang disertai tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Tapanuli, termasuk Tapanuli Utara (Taput), Sibolga, Tapanuli Tengah (Tapteng), hingga Padangsidimpuan, pada Selasa (25/11/2025). Musibah ini menimbulkan kepanikan hebat dan menelan korban jiwa, termasuk anak-anak.

Setelah berhasil dievakuasi, keempat jenazah korban telah disemayamkan di rumah keluarga di Dusun 1 Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis. Identitas korban adalah: 1.Dewi Hutabarat (33), seorang Ibu Rumah Tangga, 2.Tio Arta Rouli Lumbantobing (7), seorang pelajar SD, 3.Vania Aurora Lumbantobing (4), 4.Ilona Lumbantobing (3).

Informasi dari warga dan rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan kondisi sungai yang meluap deras hingga membawa potongan kayu berukuran besar. Di beberapa titik, tanah longsor terjadi dan menyebabkan akses jalan terputus akibat tertimbun material tanah dan batu.

Situasi semakin mencekam ketika sejumlah warga, terutama kaum ibu, terpaksa mengungsi ke menara lonceng gereja untuk menyelamatkan diri. Mereka terdengar berteriak meminta pertolongan kepada siapa pun yang dapat memberikan bantuan. “Tolong..! Bantu kami..!” demikian teriakan yang terekam dalam beberapa video warga.

Kesaksian warga juga menyebutkan adanya korban jiwa dari kalangan anak-anak yang tidak mampu bertahan dari dinginnya arus banjir dan kuatnya terjangan material kayu. Beberapa di antara mereka ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

Foto dan video yang dibagikan masyarakat menunjukkan kerusakan parah pada pemukiman, fasilitas umum, serta lahan-lahan yang tersapu banjir. Kondisi ini diperparah dugaan kerusakan lingkungan di kawasan hulu, yang memperbesar risiko banjir bandang setiap kali hujan lebat mengguyur.

Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi dan pendataan korban masih berlangsung. Aparat pemerintah daerah, relawan, dan warga sekitar terus berupaya memberikan bantuan darurat kepada para korban.

Pemerhati lingkungan kembali mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian hutan dan kawasan resapan air untuk mencegah terulangnya bencana serupa. Kerusakan lingkungan di hulu sungai dinilai berkontribusi besar terhadap masifnya dampak banjir bandang.

Masyarakat luas turut menyampaikan duka dan doa bagi warga terdampak di Tapanuli. Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah cepat dalam penanganan darurat serta penanggulangan bencana ke depan.

Kabar Duka Tanah Tapanuli

Hujan deras yang mengguyur selama lima hari berturut mendatangkan musibah. Banjir hingga tanah longsor. Berikut ini deretan bencana alam banjir bandang hingga longsor yang terjadi di Tapteng hingga Sibolga.

Banjir Bandang Hutanabolon. Di Tapteng, duka mendalam sedang dirasakan warga Hutanabolon, Tukka. Banjir bandang di sana terjadi, Selasa (25/11/2025).

Air berwarna coklat keruh bercampur kayu mendadak muncul dari arah pegunungan menyebabkan banjir bandang. Dari video amatir yang beredar di Facebook, banjir bandang di Hutanabolon, Tukka, viral di media sosial.

Air coklat keruh bercampur kayu-kayu besar melintas hingga hampir menutup rumah-rumah warga. Seorang warga berbaju hijau terlihat sedang melihat suasana banjir bandang yang melintas di depan rumahnya.

Pria ini terlihat sedang berada di lantai dua rumah sedang melihat terjangan banjir bandang. Beberapa kayu besar bersandar di rumahnya, nyaris menutupi hingga lantai dua rumah.

Longsor Sitahuis

Di lokasi lain, bencana alam juga terjadi di Desa Mardame, Sitahuis, Tapteng. Pada Selasa 25 November pagi, dilaporkan bencana longsor menimbun rumah warga di sana. Kejadian longsor diperkirakan terjadi pada dini hari setelah hujan deras mengguyur wilayah Tapteng.

Akibat longsor di Sitahuis ini, seorang ibu dan tiga anaknya dilaporkan tewas. Penemuan korban dimulai sekitar pukul 07.00 WIB.

Awal mula terungkapnya ibu dan tiga anak tewas tertimbun longsor ketika Kepala Desa Mardame, Master Gulton melihat rumahnya tertutup. Setelah diperhatikan lagi, sang kepala desa melihat sudah ada bagian rumah yang tertimbun longsor.

Ia kemudian mendapati pintu rumah terkunci, lalu bersama warga berinisiatif mendobrak pintu. Saat dicek ke dalam, mereka mendapati salah satu kamar telah tertimpa material longsor dan menemukan keberadaan korban yang tertimbun.

"Saya curiga terus lihat belakang rumah, sudah ada longsor. Ibu dan tiga anaknya ditemukan sudah meninggal dunia tertimbun longsor," kata Master Gultom.

Bhabinkamtibmas setempat, Aipda Rindu Hutabarat, segera tiba di lokasi bersama masyarakat untuk melakukan proses evakuasi. Dari hasil evakuasi, ditemukan total empat korban meninggal dunia yang merupakan ibu dan tiga orang anaknya.

Suami korban, Poliman Lumbantobing (37), diketahui sedang tidak berada di tempat karena sedang bekerja sebagai sopir angkutan di luar kota.

Setelah berhasil dievakuasi, keempat jenazah korban telah disemayamkan di rumah keluarga di Dusun 1 Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis.

Identitas korban adalah:

1. Dewi Hutabarat (33), seorang Ibu Rumah Tangga.

2. Tio Arta Rouli Lumbantobing (7), seorang pelajar SD.

3. Vania Aurora Lumbantobing (4).

4. Ilona Lumbantobing (3).

Ratusan Warga Mengungsi

Di tempat lainnya, ratusan warga di Sibuni-buni, Sarudik, terpaksa mengungsi akibat banjir. Curah hujan yang tinggi selama lima hari berturut, mengakibatkan Tapteng lumpuh. Banjir di mana-mana. Banjir di Sibuni-buni ini dimulai sejak pukul 05.00 WIB, Selasa (25/11/2025).

Kondisi terkini air mencapai pinggang orang dewas, masih menggenangi ratusan rumah warga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut mencatat sebanyak tujuh kabupaten/Kota di Sumut alami bencana alam berupa banjir bandang dan longsor hari ini, Selasa (25/11/2025).

Kepala Bidang Peralatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati mengatakan,  saat ini pihaknya belum mendapatkan data pastinya,  Sebab timnya masih melakukan evakuasi hingga saat ini.

"Ini masih data sementara ya, karena (tim) masih di lapangan semua," jelasnya kepada Tribun Medan, Selasa (25/11/2025).  

Berdasarkan data BPBD Sumut yang Tribun Medan dapatkann tujuh kab/kota yang mengalami bencana alam adalah, Kota Sibolga, Gunung Sitoli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Nias Selatan, Mandailing Natal, dan Padang Lawas.

"Untuk Kota Sibolga ada empat kecamatan yang dilanda banjir bandang.  Hal itu disebabkan intensitas air hujan tinggi sejak Senin,  24 September  kemarin," katanya.

Saat ini ketinggian air mencapai 30-50 centimeter. Namun tidak ada korban jiwa ataupun luka-laku dan pengungsi. 

"Empat kecamatan itu adalah  Sibolga Kota,  Sibolga Sambas, Sibolga Selatan, dan Sibolga Utara. Saat ini kita masih Melakukan evakuasi ke rumah warga dan berkoordinasi dengan pemerintah setempat," jelasnya.

Sementara untuk Kabupaten Tapteng, kata Sri terdapat Tujuh Kecamatan yang terdampak Banjir Bandang. 

"Tujuh Kecamatan itu, Pandan, Sarudik, Badiri, Barus, Kolang, Tukka, dan Lumut.  Banjir bandang ini disebabkan hujan deras dengan intensitas tinggi  yang mengguyur Kabupaten Tapteng sejak 17-22 November kemarin," katanya.

Dikatakannya, atas kejadian ini, sebanyak 10 KK atau 45 jiwa diungsikan ke lokasi pengungsian Gereja. 

"Kecamatan Pandan : itu 150 KK terdampak, Sarudik : 338 KK terdampak, Barus : 65 KK terdampak, Kolang: 1.261 KK, Tukka : 10 KK, Lumut : 78 KK. Tidak ada korban jiwa atau luka-luka dalam kejadian ini," katanya.

Selanjutnya Kabupaten Tapanuli Selatan. Daerah ini mengalami bencana banjir bandang. Ada tiga kecamatan yang terdampak.

"Kecamatan Angkola Sangkunur, Batang Angkola dan Angkola Barat. Banjir bandang ini disebabkan karena hujan deras dengan intensitas tinggi sejak Senin 24 November tadi malam," katanya.

Dijelaskannya, tidak ada korban jiwa akibat bencana ini. Selain itu, tidak ada warga yang diungsikan.

"Ketinggian air mencapai 10- 162 Cm. Saat ini kami masih melakukan evakuasi dan banjir masih berlangsung," ucapnya. Untuk angkola Barat, kata Sri ada dua rumah yang mengalami rusak berat yang diisi oleh 6 KK. (S24-Berbagaisumber/AsenkLeeSaragih)