Oleh: Anita Martha Hutagalung (Oni)
Sangat-sangat prihatin melihat bencana yang terjadi di Tapanuli Tengah. Banyak orang terkejut tersentak melihat betapa mengerikannya gelondongan kayu yang menerjang terbawa air. Menghantam apa saja yang dilaluinya , tanpa ada yang bisa menahan.
Banyak yang panik karena tiba-tiba saja tak bisa mengirim dan menerima berita dari Tapteng dan sekitarnya. Putus komunikasi. Seketika waktu terasa sangat lambat bahkan seperti terhenti.
Sampai terasa degup jantung sendiri yang berpacu dengan doa-doa yang dipanjatkan bak mantera, karena berulang-ulang dan berulang-ulang dilafalkan.
Saat yang paling mencekam menatap layar HP siapa tau notifikasi datang dari orang yang ditunggu. Menanti berita valid sebenarnya bagaimana kondisi disana. Selamatkah…?
Kalau selamat dimana posisi? Apakah terluka? Apakah mereka makan? Apakah…apakah…? Pertanyaan belum terjawab .
Hari ini Oni dapat khabar Medan sekitar juga banjir parah. Kran air mati, arus listrik mati, ada kampus tutup padahal hari ini ada yang mau wisuda ntah bagaimana jadinya.
Ibu-ibu mengeluh anaknya sudah kelaparan, lansia apalagi dan seterusnya…dan lain sebagainya. Cucu Oni yang di Medan juga gak sekolah akibat cuaca ekstrim sekolah diliburkan. Bisalah pulak Medan cuaca dinginnya minta ampun.
Alam kali ini benar-benar marah. Inilah yang selama ini kami khawatirkan terjadi makanya tak putus-putusnya untuk teriak Tutup TPL Tutup Perusak Lingkungan.
Tapi banyak diantara kalian menganggap kami itu orang gila yang kurang kerjaan, cari perhatian. Dan Oni sendiri mengalami itu secara pribadi, bahkan teman-temanku sendiri mencibir ketika ikut Aksi Jalan Kaki Tutup TPL dari Balige ke Istana Presiden di Jakarta.
Mereka merasa dunia ini baik-baik saja, aman-aman saja. Mereka merasa tak punya masalah dengan perusak lingkungan. Ngapain cari masalah? Lah apa kalian pikir aku punya masalah pribadi dengan TPL? Apa kalian pikir aku dapat duit dengan adanya aksi?
Aku dan kawan-kawan teriak #TutupTPL bukan untuk kepentingan pribadi tapi untuk keberlangsungan hidup anak cucu. Sekarang ??? Setelah bencana yang beruntun ini terjadi , apa tanggapanmu?
Kali ini jujurlah bicara…Please. Awak media dan siapapun yang menshare berita tolonglah cerdas sedikit menuliskan narasi. Jangan menyalahkan hujan yang datang dari langit.
Karena sejak jaman nabi Adam hujan emang jatuhnya dari langit. Kenapa begitu syulit untuk mengatakan bahwa, akibat hutan gundul, pohon pohon besar penyangga lereng habis di tebang sehingga tidak bisa menampung curah hujan bla..bla..bla.
Maka banjir melanda. Jadi jelas sebab akibatnya adalah karena POHON habis ditebang oleh perusak lingkungan. Oni merasa ini adalah bencana yang diciptakan sendiri. Bukan bencana alam , bukan Natural Disaster.
Semoga saja bencana kali ini menyadarkan kita bahwa alam ini harus dijaga. Tuhan memberi mandat kepada kita untuk MENGUASAI alam ini bukan menghabisi. Menguasai dalam arti mengelola, memanage bukan mengeksploitasi sampai babak belur.
Bencana kali ini juga mengarahkan semua mata ke Tapanuli Tengah, banyak hati orang baik tergerak untuk berdonasi membantu saudara kita yang terkena bencana dan yang terimbas bencana.
Hanya dalam tempo sehari sudah terkumpul dana 1 miliar lebih. Yang di inisiasi Serli Napitu Sarma Hutajulu dan kawan kawan. Terimakasih untuk orang baik.
Sapala sudah kalian berikan hati kalian untuk membantu yang tertimpa bencana, sekalian serukan kalian juga untuk #TutupTPL dan Perusak lingkungan lainnya. Agar bencana seperti ini tak terulang lagi. Semoga badai ini cepat berlalu.
Sabarlah saudara saudaraku yang sedang kesusahan. Semoga bala bantuan segera kalian dapatkan. Bertahanlah dalam pengharapan, Tuhan tak pernah meninggalkan kalian. (S24-Penulis Adalah Pejuang Tutup PT TPL)
.jpg)

0Komentar