Lima di antaranya telah dimakamkan dengan ibadah penghiburan yang dipimpin Pdt. Dani Firmanto Simanjuntak, Pendeta Resort GKPI Adiankoting.(IST)

Tapanuli Tengah, S24 - Bumi Tapteng kembali bersuara. Namun kali ini bukan lewat riuh ombak pantainya atau semilir angin pegunungannya. Melainkan lewat banjir dan longsor yang merenggut nyawa, menghapus tawa, memisahkan keluarga, dan meninggalkan kepedihan yang tak dapat diukur dengan kata-kata.

Hujan deras yang mengguyur wilayah Tapanuli Tengah dalam beberapa hari terakhir memicu banjir besar dan longsor di sejumlah titik. Rumah-rumah hanyut, jalan terputus, dan ribuan warga terpaksa mengungsi. Di balik angka dan data kerusakan, tersimpan kisah-kisah manusia yang tak pernah sempat mereka ceritakan.

Satu Keluarga Tertimbun, Sebuah Desa Tenggelam dalam Duka

Di sebuah desa yang biasanya tenang, Sibalanga, Adiankoting, suasana berubah menjadi lautan air mata. Enam anggota satu keluarga tertimbun longsor, hanya menyisakan doa dan kenangan yang tak lagi bisa disentuh. 

Lima di antaranya telah dimakamkan dengan ibadah penghiburan yang dipimpin Pdt. Dani Firmanto Simanjuntak, Pendeta Resort GKPI Adiankoting.

Prosesi pemakaman berlangsung sederhana, namun penuh haru. Di tengah tanah yang masih basah oleh hujan dan lumpur, jerit tangis keluarga pecah bersama setiap gumpalan tanah yang menutupi peti. Pdt. Dani berdiri di hadapan jemaat yang menggigil bukan hanya karena dingin, tapi karena pilu kehilangan.

“Tuhan Yesus, Sang Sumber Penghiburan, peluklah keluarga yang ditinggalkan,” doanya lirih namun tegas, seakan mencoba menahan langit yang masih terus menangis.

Satu anggota keluarga lainnya masih dalam pencarian. Harapannya kecil, tetapi doa masyarakat tidak pernah berhenti.

Tak jauh dari lokasi longsor, banjir melanda permukiman lain di Tapteng. Ratusan rumah terendam, beberapa hanyut terbawa arus. Warga yang selamat hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, tempat tinggal mereka berubah menjadi genangan lumpur dan puing.

Di posko pengungsian, anak-anak duduk memeluk lutut mereka, bertanya kapan bisa kembali tidur di kasur sendiri. Para orang tua hanya bisa tersenyum pahit, mencoba menenangkan meski mereka sendiri tak tahu bagaimana masa depan menunggu.

Ketangguhan dan Kepedulian

Di balik kesedihan yang menyelimuti Tapteng, terlihat secercah harapan. Tim SAR, relawan, dan masyarakat bergerak tanpa kenal lelah menyelamatkan, mencari, mengevakuasi, dan menguatkan satu sama lain. Bahkan bantuan yang dikumpulkan pegiat media sosial mulai diserahkan ke Posko-Posko atau dapur umum pengungsian.

Para pemuda mendirikan dapur umum. Organisasi gereja membuka posko doa. Aparat melakukan pembersihan jalan. Semua bergerak dalam satu gerak: bergotong-royong untuk bertahan dan bangkit.

Bencana ini mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendirian. Bahwa kasih dan kepedulian masih menjadi jembatan yang menghubungkan sesama dalam saat-saat tergelap.

Saatnya Berbenah

Musibah di Tapteng bukan hanya peristiwa alam, namun alarm keras bagi semua pihak. Daerah rawan longsor, kondisi hutan yang rusak, serta sistem drainase yang tidak memadai menjadi kombinasi mematikan ketika hujan datang menghantam.

Pemerintah daerah diminta memperkuat mitigasi bencana, memperbaiki alur air, serta memastikan bahwa seluruh wilayah rawan memiliki sistem peringatan dini. Karena bencana boleh datang kapan saja, tetapi nyawa manusia tak bisa terulang.

Duka Tapteng adalah duka kita. Musibah ini mengajarkan kembali bahwa alam bukan musuh, namun sahabat yang harus dirawat. Dan ketika alam terluka, manusialah yang menerima pilu terbesarnya.

Di tengah tanah yang retak dan air yang belum surut, masyarakat Tapteng tetap berdiri. Dengan tangan saling menggenggam, mereka membangun harapan baru di atas luka lama.

Semoga Tuhan menguatkan setiap keluarga yang berduka, memulihkan yang kehilangan, dan menjaga mereka yang masih berjuang. Tapteng menangis hari ini, tetapi suatu saat akan bangkit kembali.(S24-Red)