Tapanuli Tengah, S24 - Di balik reruntuhan rumah, tumpukan kayu besar, dan lumpur tebal yang menutup sisa-sisa kehidupan masyarakat Kelurahan Huta Nabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapteng, terdapat sebuah kisah keteguhan hati yang menyentuh ribuan orang.
Kisah itu datang dari Pdt Irwan Ritonga, STh, gembala sidang Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI), yang tetap berdiri teguh meski diterpa badai kehilangan.
Banjir bandang yang terjadi 25 November 2025 bukan sekadar bencana alam. Air bah itu datang seperti amukan besar, menghancurkan ratusan rumah dalam hitungan menit, termasuk gereja dan tempat tinggal Pdt Irwan sendiri.
Namun dari puing-puing tersebut, justru lahir sebuah kesaksian tentang keikhlasan, keberanian, dan keyakinan bahwa harapan selalu menemukan jalannya.
Detik-detik Mencekam yang Mengubah Segalanya
Hari itu, Pdt Irwan berada di rumah bersama istrinya. Tak ada tanda-tanda peringatan besar. Namun hujan lebat tiba-tiba berubah menjadi ancaman. Dalam sekejap, air meluap dan menyeret apa pun yang dilewatinya.
“Saya sempat ke gereja saat air mulai naik. Tapi hujan semakin deras dan air meluap besar sekali. Istri saya dan gereja ikut terseret arus. Semua warga hanya bisa lari menyelamatkan diri,” ujarnya dengan suara yang bergetar menahan duka.
Di tengah keterpurukan itu, ia memilih bersyukur. Bersyukur karena masih diberi kehidupan, walau harus kehilangan istri tercinta dan gereja yang selama ini menjadi rumah rohani bagi 60 KK jemaat GPDI.
Kehilangan adalah bagian paling berat dari ujian hidup. Namun Pdt Irwan menunjukkan kepada dunia bahwa duka bukan akhir dari perjalanan.
“Saya sangat berduka, tapi saya percaya Tuhan masih punya rencana. Saya bersyukur bisa selamat,” katanya.
Ucapan sederhana itu bukan hanya kalimat, melainkan penyemangat bagi siapa saja yang mendengarnya, bahwa setiap manusia bisa bangkit bahkan dari titik paling gelap sekalipun.
Doa dan Harapan untuk Huta Nabolon
Kini, gereja yang dulu menjadi tempat masyarakat menguatkan hati telah hilang tersapu arus. Rumah-rumah pun rata dengan tanah. Namun, justru dalam kehilangan besar itu muncul tekad baru untuk membangun kembali.
“Kami berharap pemerintah dapat membantu membangun dan merelokasi gereja dan rumah kami. Terima kasih kepada semua yang sudah membantu. Istri saya sampai sekarang belum ditemukan,” tutur Pdt Irwan dengan keteguhan yang luar biasa.
Harapan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dibawa arus. Pemandangan pilu, tetapi jiwa yang tidak terkalahkan. Ketika melihat lokasi kejadian, yang tampak hanyalah lumpur, batang kayu besar, dan puing-puing.
Namun di balik pemandangan itu, ada semangat masyarakat yang tidak runtuh. Mereka saling menguatkan, saling menopang, dan saling mengingatkan bahwa hidup harus terus berjalan.
Kisah Pdt Irwan adalah bukti bahwa manusia memiliki kekuatan lebih besar dari yang mereka kira. Bahwa badai bisa merobohkan bangunan, tetapi tidak bisa meruntuhkan iman, cinta, dan harapan.
Kisah ini bukan hanya tentang banjir bandang. Ini tentang bagaimana seseorang tetap teguh ketika dunia seolah runtuh di hadapannya. Tentang bagaimana air yang menghancurkan, justru mengalirkan pesan kuat, bahwa setiap manusia mampu bangkit, selama ia tidak menyerah.



0Komentar