Aceh, S24 - Ini adalah kisah Ari Fanda (30 tahun), warga Desa Blang Cut, Pidie Jaya, Aceh, saat banjir meluluhlantakkan desanya.
Dia mengisahkan bagaimana dia bertahan hidup dari terjangan banjir, menyelamatkan ibunya, serta orang-orang lain yang membutuhkan pertolongan.
Pada 26 November malam, Ari Fanda, 30 tahun, menggendong ibunya, berjibaku melawan arus air yang meluap dari Sungai Meureudu.
"Air saat itu dalamnya sampai leher. Saya berjalan sambil menggendong ibu sejauh sekitar 50 meter, menuju rumah salah seorang warga lainnya yang rumahnya merupakan rumah panggung," kata Ari kepada Rino Abonita, wartawan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (03/12/2025).
Malam itu, Ari yang mulai dilanda gelisah memutuskan untuk mengecek debit air di sungai. Dia melihat tinggi permukaan sungai tidak lazim—mulai naik secara perlahan.
Ari lantas bergegas memikul ibunya yang berusia 65 tahun, Syariani. Keduanya mengarungi banjir, melewati pintu belakang rumah, saat ketinggian air sudah mencapai lehernya.
"Saya sempat menelepon seseorang, agar dihubungkan dengan pihak SAR, tapi mereka bilang tidak bisa datang saat itu," kata Ari.
"Karena itu saya akhirnya memutuskan menggendong ibu. Waktu itu jam 2 pagi," tuturnya.
Ari mengevakuasi ibunya ke rumah tetangga yang bertingkat dua, tak terlalu jauh dari rumahnya.
Ari dan ibunya, bersama beberapa warga desa lainnya, bertahan di rumah tersebut.
Pagi harinya, Desa Blang Cut sudah tidak berbentuknya. Air terlihat di mana-mana, sementara orang-orang berteriak, saling bersahut-sahutan meminta pertolongan.
Ari dan beberapa orang tetangganya berusaha menolong dua anak yang bertahan di sebuah tiang beton di tengah derasnya aliran air.
Dia berkata, dia bersusah payah berenang mencapai dua anak itu. Dia lantas berteriak agar tetangganya melempar tali untuk mengikat dua anak tersebut.
Seorang warga ikut terjun ke air bersama Ari. Secepat mungkin, kata Ari, mereka mengikat dua anak itu, lalu menarik mereka secara perlahan dari tengah arus air yang deras.
Tali tambang yang digunakan untuk menyelamatkan dua anak itu disebut Ari sempat putus. Warga yang menyaksikan upaya penyelamatan dramatis tersebut seketika panik.
"Namun orang yang berusaha menyelamatkan dua anak tadi akhirnya berhasil meraih tali itu," katanya.
Dua anak tersebut kemudian juga dievakuasi ke rumah bertingkat, yang menjadi lokasi pengungsian sementara.
Jelang tengah hari, Ari menyebut sepasang suami-istri terlihat berusaha menyelamatkan diri dari terjangan air dengan cara bertahan pada sebuah kulkas yang terseret arus.
Ari berkata, beberapa tetangganya hanya berhasil menyelamatkan sang istri. Sementara sang suaminya, menurut Ari, terbawa arus ke arah desa tetangga, yakni Desa Buangan.
Sore harinya, Ari dan warga lainnya bersepakat untuk mencari bantuan ke desa lain.
Langkah itu mereka ambil, kata Ari, karena mereka mulai merasa lapar. Mereka juga penasaran dengan kondisi di desa-desa lain.(S24-Red)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

0Komentar