Pamatangsiantar, S24 - Setelah berhasil mendesak penutupan PT TPL karena dinilai merusak hutan di Sumatera Utara dan pencabutan ijin PT TPL oleh pemerintah, kini kembali menggema soal penertiban keramja jaring apung (KJA) di Danau Toba. Gerakan ini mulai disuarakan Pdt Dr Victor Tinambunan (Ephorus HKBP Periode 2024-2028).

"Kini tibalah saatnya hati nurani kita menoleh pada jeritan Danau Toba, danau agung yang selama ini setia menerima limpahan kehidupan, namun kini tak lagi sanggup mengolah beban pencemaran yang kita curahkan ke dalam tubuhnya. Airnya menyimpan luka, dan luka itu perlahan berubah menjadi ancaman serius bagi ekosistem, masyarakat sekitar, serta masa depan pariwisata kawasan Danau Toba," tulis Pdt Dr Victor Tinambunan lewat akun media sosial.

Menurut Pdt Dr Victor Tinambunan, salah satu sumber tekanan terbesar terhadap danau ini adalah maraknya KJA yang beroperasi melampaui daya dukung lingkungan. Sisa pakan ikan, kotoran, serta limbah organik dari aktivitas KJA telah menumpuk di dasar danau, memicu penurunan kualitas air, eutrofikasi, hingga kematian biota air. Danau yang seharusnya menjadi sumber kehidupan kini dipaksa menanggung beban yang tak lagi sanggup ia pulihkan sendiri.


"Karena itu, kepada setiap perusahaan maupun individu yang selama ini bersentuhan langsung dengan pencemaran Danau Toba, inilah waktunya untuk bersiap, berpikir jernih, berani berubah, dan merintis jalan usaha yang lebih selaras dengan kelestarian alam. Penertiban KJA bukanlah upaya mematikan ekonomi masyarakat, melainkan langkah korektif agar kegiatan ekonomi berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan," jelas Pdt Dr Victor Tinambunan.


"Kita patut mengapresiasi kepedulian Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, yang menempatkan kelestarian alam sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang. Dalam berbagai diskusi dengan banyak pihak, termasuk dengan Menteri Maruarar Sirait, tergambar kehendak kuat negara untuk memulihkan Danau Toba agar tetap hidup, bernapas, dan memberi harapan. Komitmen politik ini harus diterjemahkan ke dalam kebijakan tegas, terukur, dan berkeadilan, termasuk dalam penataan dan pembatasan KJA," terang Pdt Dr Victor Tinambunan.

Lebih jauh Pdt Dr Victor Tinambunan menjelaskan, Danau Toba bukan sekadar bentang air yang luas. Ia adalah salah satu danau vulkanik terbesar dan terindah di dunia, mahakarya Tuhan Yang Maha Esa yang seharusnya menjadi kebanggaan nasional dan destinasi wisata kelas dunia. 

Namun, potensi besar itu belum sepenuhnya terwujud karena luka-luka ekologis masih menutupi pesonanya. Wisatawan mancanegara tak hanya mencari keindahan, tetapi juga kejernihan air, keseimbangan alam, dan komitmen nyata terhadap lingkungan.

"Bila kita mau berjalan bersama, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, untuk menertibkan KJA dan memulihkan Danau Toba, masa depan yang lebih cerah bukanlah angan-angan. Ekosistem akan pulih, masyarakat di sekeliling danau akan tumbuh lebih sejahtera melalui ekonomi berkelanjutan, dan dari tepian Danau Toba, denyut kehidupan itu akan turut menguatkan perekonomian nasional," ujarnya.

Disebutkan, merawat Danau Toba berarti merawat kehidupan, hari ini dan esok. Sudah saatnya kita tidak lagi menutup telinga. Danau Toba sedang bersuara, dan ia meminta kita bertindak.


Apresiasi patut diberikan kepada para pihak yang telah mempersiapkan kajian komprehensif yang direncanakan terbit dalam bentuk buku “Mendengar Jeritan Danau Toba”. Semoga karya ini menjadi panggilan nurani bersama, sekaligus pijakan ilmiah dan moral untuk menata ulang relasi manusia dengan Danau Toba secara lebih adil dan berkelanjutan.

Kini tibalah saatnya hati nurani kita menoleh pada jeritan Danau Toba, danau agung yang selama ini setia menerima limpahan kehidupan, namun kini tak lagi sanggup mengolah polusi yang kita curahkan ke dalam tubuhnya. Airnya menyimpan luka, dan luka itu memanggil tanggung jawab kita bersama.

Karena itu, kepada setiap perusahaan dan pribadi yang selama ini bersentuhan dengan pencemaran danau, inilah waktu untuk bersiap: berpikir jernih, berani berubah, dan mulai merintis jalan usaha yang baru, yang lebih selaras dengan kehidupan dan kelestarian ciptaan.

"Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mulai mempersiapkan kajian yang lebih komprehensif yang direncanakan akan terbit dalam bentuk buku "Mendengar Jeritan Danau Toba" pungkas Pdt Dr Victor Tinambunan. (S24-AsenkLeeSaragih)