Turut Berdukacita.

NTT, S24- Nelayan yang sedang mencari ikan menemukan bangkai kapal di perairan Pulau Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Selasa, 6 Januari 2026 sore. Sebelumnya juga nelayan yang menemukan Jazad korban. Terima Kasih Nelayan yang sudah membantu tanpa beban biaya dan alat bantu tambahan yang canggih.

Tragedi tenggelamnya kapal pinisi Putri Sakinah di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, 26 Desember 2025 lalu meninggalkan kisah pilu kepada Ibu Mar Martinez Ortuno.

Momen haru terekam saat istri pelatih Valencia memeluk anggota tim SAR usai ditemukannya jenazah Fernando Martin dan anaknya. Pelukan tersebut menjadi ungkapan duka sekaligus rasa terima kasih atas upaya pencarian yang telah dilakukan sejak kabar hilangnya korban.

Proses pencarian yang melibatkan tim SAR akhirnya berakhir dengan ditemukannya kedua jenazah. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan pihak terkait, sekaligus menjadi pengingat akan beratnya tugas tim penyelamat dalam menjalankan misi kemanusiaan.

Pulang ke Spanyol ibu Mar Martinez Ortuno ini nanti dengan Hati Penuh Luka, karena kehilangan suami dan tiga anak tercinta. Tuhan beri dia kekuatan hati tegar, untuk menghadapi musibah ini.

Dekaplah mereka dengan kekuatan Kasih Mu Yesus. Agar mereka menerima dengan Hati Yang Ikhlas dengan hilangnya seorang suami dan anaknya. Tuhan berkati dia dengan Mukjizat Mu Amin.

Sangat sedih, nanti pas dia mau' pulang nanti. Gak genap lagi keluarganya, seperti waktu mereka datang ke Labuan Bajo, NTT Desember 2025 lalu. Sedih sekali. 


Kronologi Kejadian

Kronologi tenggelamnya kapal Pinisi pelatih Valencia dan 3 anaknya di Labuan Bajo. Pelatih sepakbola wanita Valencia CF, Martin Carreras Fernando, bersama tiga anaknya dilaporkan terjebak di kabin saat kapal pinisi Putri Sakinah yang mereka tumpangi tenggelam dihantam gelombanng di perairan Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (26/12/2025) malam.

Nakhoda kapal, Lukman, mengungkapkan Martin dan tiga anaknya tidur di kabin di bagian lambung kapal. Sementara istri Martin, Mar Martinez Ortuno dan satu anak perempuan mereka berusia tujuh tahun tidur di kabin atas. Mar dan anak perempuan itu berhasil keluar dari cabin dan selamat dari insiden itu.

Lukman menjelaskan kru kapal tak bisa menolong Martin bersama tiga anaknya karena kapal terus turun ke dalam laut. Karena kapal terus turun ke dalam laut. Menurut dia, Martin dan tiga anaknya tidak memungkinkan lagi untuk keluar dari kabin karena kapal sudah terendam.

"Kapal sudah terendam di laut," ujar Lukman seperti dikutip Detik, Minggu (28/12/2025). Menurut Lukman, dia bersama kru lain yang sudah diselamatkan sekoci kapal lain sempat berusaha menolong Martin dan tiga anaknya. Sekoci mengitari kapal tenggelam itu. Namun upaya tersebut tak berhasil.

"Sempat mutar-mutar (di laut) cari yang empat (Martin dan tiga anaknya). Ternyata masih dalam kabin. Tidak sempat mereka keluar. Mutar-mutar dengan sekoci sekitar lima menit begitu. Gelombang susul terus, kami juga mau terbalik dengan sekoci," terang Lukman.

Pengakuan Lukman ini sama dengan kesaksian Mar. Saat kejadian, Mar dan anak perempuannya berada di bagian atas kapal. Ibu dan anak ini berhasil menyelamatkan diri dengan memanjat dinding kapal sebelum ditolong sekoci kapal lain.

"Ibu dan anak perempuan posisi di ruang atas kapal dan berhasil memanjat ke dinding kapal lalu berenang ke sekoci. Kapten dan kru juga ke sekoci. Bapak dan tiga anak sedang tidur di kamar lambung. Mereka tidak terlihat bisa keluar dari kamar," ungkap Mar dalam keterangan tertulis yang dibagikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gabungan Pengusaha Wisata Bahari dan Tirta Indonesia (Gahawisri) Labuan Bajo, Budi Widjaja, Minggu (28/12/2025).

Mar sudah mengizinkan Detik mengutip kronologi tenggelamnya kapal pinisi tersebut. Namun, dia menolak diwawancarai karena masih syok terhadap insiden nahas itu. 

Insiden itu terjadi begitu cepat. Suasana makin mencekam karena kondisi di perairan itu gelap gulita. Mar dan anak perempuan yang selamat pindah ke sekoci kapal lain yang datang menolong mereka. Mereka kemudian dievakuasi ke Labuan Bajo oleh tim SAR gabungan.

"Ibu dan anak dengan sekoci pindah ke beberapa kapal sebelum akhirnya dijemput Basarnas dan kembali ke Labuan Bajo malam itu," kata Budi.

Hingga hari ketiga operasi pencarian, Martin dan ketiga anaknya masih hilang. Demikian pula bangkai kapal wisata Hingga hari ketiga operasi pencarian, Martin dan ketiga anaknya masih hilang. Demikian pula bangkai kapal wisata tersebut yang belum ditemukan.

Tim SAR gabungan juga terkendala cuaca buruk selama operasi pencarian korban hari ini. Mereka menghadapi arus yang cukup deras saat penyelaman hingga hujan lebat yang mengakibatkan jarak pandang terbatas.

"Pencarian terhadap empat korban WNA akan dilanjutkan besok hari pada pencarian hari keempat," ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Maumere selaku SAR Mission Coordinator, Fathur Rahman, Minggu malam.

Pov : Putri bungsu Ibu Mar

"Dear Ibu, sekarang tinggalah kita berdua. Aku tahu  Ibu sangat sedih dan hancur, ini tidak mudah bagi kita, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku ada di sini untukmu. Aku akan mencoba menjadi anak yang baik dan membantu kamu dalam segala hal, termasuk menghiburmu. Aku  sangat mencintaimu , Ibu, dan aku tidak bisa membayangkan kalau kamu juga pergi. 

Tenanglah, Kita akan melewati ini bersama, seperti keluarga yang kuat dan bahagia.  Mari kita belajar menerima takdir ini. Mengikhlaskan apapun yang terjadi. 

Jalani perlahan, tumbuh dalam kerinduan yang dalam. Aku juga ingin berterima kasih kepada Ayah dan kakak yang telah pergi, karena mereka telah memberikan kita kenangan indah dan pelajaran berharga. Tapi sekarang, kita harus fokus pada masa depan kita dan membuat kenangan baru bersama. Kita bahagia, mereka juga bahagia.

Di sini, Ibu...Di tempat di mana matahari terbenam dengan tenang, Ayah mendekap kami bertiga dalam pelukan paling panjang. Laut Labuan Bajo bukan lagi air yang asing bagi kami, Ia telah menjelma selimut beludru, menghangatkan raga yang kini telah tuntas tugasnya di bumi.

​Jangan lagi Ibu memandang ombak dengan amarah, sebab mereka tidak merebut kami dengan paksa. Ada janji dengan langit yang harus kami penuhi tepat di titik ini, sebuah panggilan pulang yang datang lebih awal, sebelum senja benar-benar hilang dari garis pantai.

​Ibu, jika kakimu lelah berdiri di tepian pasir putih, lepaskanlah kami dengan ikhlas yang paling luas. Biarlah raga kami menyatu dengan karang dan beningnya Flores, agar saat angin laut menyentuh keningmu kelak, itu adalah cara kami membelaimu tanpa suara.

​Untuk adik kecil, pelita yang tersisa. Jadilah kuat, jadilah separuh jiwa yang utuh untuk Ibu. Genggam jemarinya, tuntun ia melangkah pulang, bawa serta tawa-tawa kita yang pernah pecah di udara.

Jangan biarkan duka menenggelamkan duniamu, karena kami berempat, dari pintu langit yang terbuka, akan selalu menjagamu dalam setiap sujud dan doa.

​Kami tidak hilang, Bu...Kami hanya berlayar lebih dulu, menunggumu di dermaga yang tak lagi mengenal badai, di tempat di mana air mata tak akan pernah lagi jatuh ke bumi. (S24-Berbagaisumber/AsenkLeeSaragih)