Indragiri Hilir, S24 – Kebocoran pipa gas milik PT Trans Gas Indonesia (TGI) berubah menjadi kobaran api raksasa di Dusun Nibul, Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, Jumat (2/1/2026) sore. Semburan api setinggi lebih dari 15 meter itu mengamuk selama 13 jam lebih, memicu kepanikan warga dan memaksa polisi menutup akses jalan umum demi mencegah jatuhnya korban.
Insiden berbahaya ini terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Api baru dapat dijinakkan pada Sabtu (3/1/2026) pukul 05.35 WIB, setelah aliran gas akhirnya dihentikan dengan penutupan kompresor dan seluruh section valve terdekat. Selama berjam-jam, area sekitar berubah menjadi zona rawan ledakan.
Kuatnya semburan api di tengah permukiman kembali memunculkan pertanyaan serius soal keamanan infrastruktur energi yang melintasi wilayah masyarakat. Beruntung, hingga api padam, tidak dilaporkan adanya korban jiwa, meski ancaman terhadap keselamatan warga berlangsung nyata.
Pihak kepolisian mengambil langkah tegas dengan menutup jalan di sekitar lokasi kejadian, mengingat potensi bahaya yang dapat terjadi sewaktu-waktu akibat tekanan gas tinggi dan panas ekstrem dari kobaran api.
Corporate Secretary PT TGI, Emil Ismail, mengakui bahwa insiden tersebut berdampak luas terhadap masyarakat. Dalam keterangan resminya, Emil menyebut keselamatan publik sebagai prioritas utama perusahaan.
“Prioritas utama kami adalah memastikan pengamanan lokasi dan keselamatan masyarakat serta melakukan pemulihan operasional secepatnya. Seluruh tahapan penanganan dilakukan sesuai standar Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) oleh personel yang berkompeten,” ujar Emil, Sabtu (3/1/2026).
Meski demikian, penyebab kebocoran hingga kini belum diungkap. PT TGI menyatakan masih melakukan investigasi internal, di tengah sorotan publik yang menuntut transparansi dan evaluasi menyeluruh atas sistem pengamanan pipa gas.
“Perbaikan pipa diperkirakan memakan waktu maksimal lima hari ke depan. Perusahaan juga melakukan monitoring tekanan gas kepada shipper dan buyer di jalur Grissik–Duri, serta berupaya meminimalkan dampak lingkungan,” kata Emil.
Insiden ini menambah daftar risiko laten infrastruktur energi di daerah yang bersinggungan langsung dengan aktivitas masyarakat. Warga berharap kejadian serupa tidak kembali terulang, mengingat potensi bahayanya yang bisa berujung pada tragedi besar bila terjadi di waktu dan kondisi berbeda.
Sebagai informasi, PT Trans Gas Indonesia berdiri sejak 2002 sebagai perusahaan patungan antara PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk, Transasia Pipeline Pvt Ltd, dan YKPP PGN, dengan komposisi saham masing-masing 59,87 persen, 40 persen, dan 0,13 persen.(S24-Red)


0Komentar