Jambi, S24 - Kasus hilangnya dana nasabah akibat serangan siber di Bank 9 Jambi memang telah diselesaikan dengan penggantian dana secara penuh. Namun publik tak boleh berhenti pada rasa lega semata. Masalah utamanya bukan sekadar uang kembali, tetapi bagaimana insiden serupa tak pernah terjadi lagi.

Pengembalian dana 100 persen patut diapresiasi. Itu adalah kewajiban moral dan hukum. Tetapi kejadian ini membuka fakta pahit: sistem keamanan digital perbankan daerah masih rentan. Di era serba online, satu celah saja bisa menggerus kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.

Nasabah bukan objek uji coba sistem. Mereka mempercayakan tabungan, hasil kerja keras, bahkan dana usaha dan kebutuhan hidup kepada bank. Ketika saldo tiba-tiba lenyap, yang hilang bukan hanya angka di layar yang runtuh adalah rasa aman.

Manajemen menyatakan menunggu hasil audit forensik dan persetujuan dari Bank Indonesia sebelum layanan digital kembali normal. Langkah ini benar, tetapi publik berhak tahu lebih dari sekadar “sedang diaudit”.

Transparansi adalah kunci. Apa titik lemahnya? Bagaimana pola serangannya? Sistem apa yang akan diperbarui? Apakah ada peningkatan standar keamanan internasional?

Tanpa keterbukaan, kasus ini hanya akan menjadi catatan sementara, bukan pelajaran permanen. Insiden ini seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh jajaran manajemen dan pemegang saham. Jika perlu, lakukan, audit keamanan menyeluruh oleh pihak independen.

Kemudian upgrade sistem enkripsi dan firewall. Penerapan multi-factor authentication yang lebih ketat. Simulasi serangan siber berkala (penetration testing). Edukasi keamanan digital kepada nasabah. Keamanan siber bukan biaya, melainkan investasi kepercayaan.

Kepercayaan Publik Dipertaruhkan

Mengembalikan dana adalah langkah awal. Mengembalikan kepercayaan jauh lebih sulit. Dalam dunia perbankan, reputasi adalah segalanya. Sekali masyarakat ragu, efeknya bisa sistemik.

Hari ini dana memang sudah kembali. Tetapi publik menunggu komitmen jangka panjang: jaminan bahwa kejadian serupa tak akan pernah menggerus hak nasabah lagi.

Bank 9 Jambi harus menjadikan insiden ini sebagai titik balik, bukan sekadar badai yang berlalu. Karena jika serangan serupa kembali terjadi, maaf saja, publik tak lagi hanya menuntut penggantian dana, tetapi pertanggungjawaban yang jauh lebih besar. Kepercayaan dibangun dengan integritas. Dan integritas diuji saat krisis datang. (S24-Red/Lee)