Paket MBG dirappel 3 hari, Kamis, Jumat, Sabtu.

Jambi, S24 - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya lahir dari niat mulia, memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang layak demi masa depan yang lebih sehat dan berkualitas. Di tengah persoalan stunting dan ketimpangan akses pangan, program ini seharusnya menjadi jawaban, bukan sekadar proyek seremonial.

Namun ketika pelaksanaan MBG di Kota Jambi dirapel hingga tiga hari berturut-turut, Kamis, Jumat, dan Sabtu, muncul pertanyaan besar di ruang publik, apakah ini murni soal teknis distribusi, atau ada persoalan manajemen dan orientasi yang perlu dibenahi?

Program publik sebesar MBG tentu melibatkan banyak pihak, mulai dari penyedia bahan pangan, katering, hingga distribusi. Di sinilah potensi masalah muncul. Ketika orientasi pelayanan bergeser menjadi orientasi keuntungan semata, maka kualitas bisa jadi korban pertama.

Makanan bergizi bukan sekadar soal ada atau tidaknya paket yang dibagikan. Ia menyangkut standar nutrisi, kebersihan, kelayakan bahan baku, hingga ketepatan distribusi. Jika dirapel tanpa perencanaan matang, risiko makanan tidak segar, kualitas menurun, atau bahkan pemborosan anggaran menjadi ancaman nyata.

Program sosial tidak boleh diperlakukan seperti proyek kejar target serapan anggaran. Transparansi dan pengawasan adalah kunci. MBG harus dikelola dengan prinsip transparansi. Siapa penyedianya? Bagaimana mekanisme penunjukannya? Bagaimana standar kontrol kualitasnya? Apakah ada audit berkala?

Masyarakat berhak tahu. Orang tua berhak memastikan anaknya menerima makanan yang benar-benar layak konsumsi. Sekolah berhak mendapatkan distribusi tepat waktu dan sesuai standar.

Tanpa pengawasan ketat, celah penyimpangan akan selalu ada. Mulai dari pengurangan porsi, penggantian bahan dengan kualitas rendah, hingga markup anggaran. Jika itu terjadi, maka yang dirugikan bukan hanya negara, tetapi masa depan anak-anak.

Jangan Halalkan Segala Cara

Program sebesar MBG tidak boleh menjadi ladang bisnis yang menghalalkan segala cara demi keuntungan. Jangan sampai, kualitas ditekan demi margin laba.

Standar gizi dikompromikan demi efisiensi biaya. Distribusi dirapel demi kemudahan operasional semata. Jika orientasinya berubah dari “melayani” menjadi “mengambil keuntungan sebesar-besarnya”, maka ruh program ini hilang.

MBG bukan sekadar bagi-bagi makanan. Ia adalah investasi sumber daya manusia. Ia adalah langkah strategis membangun generasi yang sehat dan produktif.

Pemerintah daerah, penyelenggara, dan seluruh pihak yang terlibat harus memastikan bahwa setiap rupiah anggaran benar-benar kembali kepada anak-anak dalam bentuk gizi yang layak. Evaluasi terbuka perlu dilakukan. Jika ada kekurangan, perbaiki. Jika ada penyimpangan, tindak tegas.

Karena pada akhirnya, program yang menyangkut perut anak-anak tidak boleh dikotori oleh kepentingan sempit.

MBG di Kota Jambi harus menjadi contoh keberhasilan tata kelola yang bersih dan profesional, bukan sekadar proyek yang selesai di atas kertas, tetapi gagal di lapangan. Masa depan generasi tidak boleh dirapel, apalagi dikorbankan demi keuntungan sesaat.(S24-AsenkLeeSaragih)