TOBA, S24 - Riak air di kawasan Situmurun, Danau Toba, tampak tenang pada Sabtu (18/4/2026). Namun di balik ketenangan itu, tersimpan duka mendalam yang dirasakan keluarga Frater Cristoper Muda Dua, yang hilang setelah tenggelam sepekan sebelumnya.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (11/4/2026) di perairan Situmurun, Desa Jonggi Nihuta, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba. Sejak hari pertama, tim gabungan melakukan pencarian intensif di salah satu kawasan danau terdalam di dunia tersebut. Namun hingga hari ketujuh, keberadaan korban belum juga ditemukan.

Operasi pencarian resmi dihentikan pada Jumat (17/4/2026). Selama tujuh hari, keluarga setia menunggu di tepian danau. Setiap perahu yang kembali dari tengah perairan membawa harapan dan sering kali, kekecewaan.

Tim pencari menyisir area sekitar lokasi kejadian, menghadapi tantangan arus dan kedalaman Danau Toba yang tidak mudah diprediksi. Meski berbagai upaya dilakukan, hasil yang diharapkan belum terwujud.

Bagi keluarga, penghentian pencarian bukanlah akhir dari harapan, melainkan awal dari proses menerima kenyataan yang sulit.

Doa, Air Mata, dan Upaya Mengikhlaskan

Sehari setelah pencarian dihentikan, keluarga dan kerabat berkumpul di lokasi hilangnya korban. Mereka menggelar ibadah dan menabur bunga di atas permukaan danau—sebuah simbol perpisahan yang sarat makna.

Dalam suasana haru, keluarga menyampaikan pesan yang menyentuh. Seolah menjadi suara dari hati terdalam, ungkapan itu menggambarkan upaya mereka untuk tetap tegar.

“Jangan marah pada Tuhan. Jangan berpikir doa tidak didengar,” demikian pesan yang disampaikan dalam doa keluarga.

Ungkapan tersebut mencerminkan pergulatan batin antara kehilangan dan keimanan. Bagi mereka, kepergian Cristoper bukan sekadar kehilangan, tetapi juga panggilan untuk menerima kehendak Ilahi.

Mengenang Sosok yang Dikasihi

Cristoper dikenang sebagai pribadi yang membawa kebahagiaan bagi keluarga. Dalam pesan yang dibacakan saat ibadah, keluarga mengungkapkan rasa syukur atas waktu singkat yang pernah dilalui bersama.

“Terima kasih untuk waktu yang indah. Untuk kasih, perhatian, dan kebahagiaan yang pernah ada,” demikian kutipan yang disampaikan.

Nama yang disematkan kepadanya, Cristoper Muda Dua, kini menjadi kenangan yang hidup dalam ingatan orang-orang terdekatnya.

Danau yang Menyimpan Cerita

Danau Toba, dengan keindahan alamnya, kembali menjadi saksi peristiwa yang menyisakan duka. Di tempat yang sama, wisatawan biasanya menikmati panorama air terjun Situmurun yang langsung jatuh ke danau.

Namun kali ini, yang tersisa adalah doa-doa yang mengapung bersama bunga-bunga di permukaan air. Keluarga berharap, suatu saat mereka dapat kembali ke tempat itu, bukan dengan tangis, tetapi dengan senyum, seperti pesan yang mereka ucapkan sendiri dalam doa.

“Jika rindu, datanglah kembali. Tapi berjanjilah untuk tidak menangis,” demikian harapan yang mereka titipkan.

Hingga kini, Frater Cristoper Muda Dua masih dinyatakan hilang. Namun bagi keluarga, kehadirannya tetap terasa dalam doa, kenangan, dan keyakinan bahwa ia telah kembali “pulang.”(S24-Red)