Kota Jambi, S24 - Hujan deras yang mengguyur sejak malam hingga dini hari kembali mengubah sebagian wilayah Kota Jambi menjadi genangan luas, merendam permukiman warga dan melumpuhkan aktivitas masyarakat, Sabtu (2/5/2026). Peristiwa ini bukan sekadar bencana musiman, melainkan cerminan persoalan struktural yang belum terselesaikan.
Di sejumlah titik, seperti di Perumahan Kembar Lestari, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, Mendalo Darat, air menggenangi rumah warga dengan ketinggian bervariasi. Aktivitas warga terganggu, sebagian harus berjaga semalaman, sebagian lagi hanya bisa pasrah melihat air masuk ke rumah mereka. Siklus yang, ironisnya, terasa terlalu familiar.
Secara ilmiah, banjir memang bukan fenomena misterius. Curah hujan tinggi, kapasitas drainase terbatas, serta aliran air yang terhambat adalah kombinasi klasik penyebab banjir .
Namun di Kota Jambi, persoalannya tidak berhenti di faktor alam. Drainase tidak memadai. Saluran air tersumbat sampah. Tata kota yang kurang adaptif terhadap air. Minimnya pengelolaan lingkungan berbasis risiko. Semua ini menjadikan hujan deras bukan lagi ancaman potensial, tapi kepastian bencana.
Pemerintah Kota Jambi sebenarnya tidak sepenuhnya diam. Beberapa langkah seperti peninjauan drainase dan pembangunan infrastruktur pengendalian banjir sudah dilakukan .
Ada juga kegiatan gotong royong dan program “kota tangguh bencana” yang digaungkan pemerintah. Namun masalahnya satu, hasilnya belum terasa signifikan bagi warga.
Banjir masih datang dengan pola yang sama, hujan deras, air naik cepat, permukiman terendam. Kalau ini film, penontonnya pasti sudah bosan karena plot-nya tidak pernah berubah.
![]() |
| Banjir Kembar Lestari 1 Alam Barajo Kota Jambi-Sabtu 2 Mei 2026. |
Indikasi Masalah Lebih Dalam
Sejumlah kasus di wilayah Jambi menunjukkan bahwa banjir tidak selalu murni akibat alam. Aktivitas manusia, termasuk praktik ilegal seperti pertambangan tanpa izin, juga bisa memperparah kondisi lingkungan dan meningkatkan risiko banjir .
Artinya, persoalan banjir bukan hanya soal hujan atau drainase. Tapi juga soal pengawasan lingkungan, penegakan hukum, dan perencanaan jangka panjang. Di sisi lain, masyarakat mulai “beradaptasi” dengan cara yang tidak sehat meninggikan barang, membuat tanggul darurat, menerima banjir sebagai rutinitas.
Adaptasi ini bukan solusi, tapi tanda bahwa sistem gagal melindungi mereka. Fenomena ini sebenarnya bukan unik. Banyak kota di Indonesia mengalami hal serupa, terutama yang berkembang cepat, padat penduduk, minim ruang resapan.
Ketika pembangunan tidak diimbangi dengan sistem air yang baik, maka setiap hujan deras berubah menjadi ancaman nyata.
Banjir di Kota Jambi bukan lagi sekadar peristiwa alam. Ini adalah kombinasi dari kelemahan infrastruktur, pengelolaan lingkungan yang belum optimal dan kebijakan yang belum menyentuh akar masalah.
Selama solusi yang dilakukan masih bersifat sementara, maka setiap musim hujan akan selalu menghadirkan berita yang sama, hanya dengan tanggal yang berbeda.
Dan warga? tetap jadi pihak yang paling sering kebagian air, tanpa pernah benar-benar mendapat solusi.(S24-AsenkLeeSaragih)



0Komentar