Jambi, S24-Dua artis asal Korea Selatan, Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee, semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia setelah aktif meng-cover berbagai lagu Indonesia, termasuk lagu-lagu berbahasa Batak. Konten musik mereka yang dipublikasikan melalui media sosial berhasil menarik perhatian penonton dari Indonesia maupun Korea Selatan.
Salah satu penampilan yang paling mendapat perhatian adalah cover lagu “Mardua Holong”, lagu Pop Batak yang dipopulerkan oleh Omega Trio. Video tersebut disebut telah ditonton lebih dari 6 juta kali di Facebook, menunjukkan besarnya respons publik terhadap upaya kedua penyanyi Korea itu membawakan lagu dalam bahasa Batak.
Popularitas tersebut tidak hanya muncul karena mereka menyanyikan lagu Indonesia. Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee juga berusaha memahami karakter bahasa, melodi, serta emosi yang terkandung dalam lagu-lagu daerah Indonesia. Bagi sebagian penonton, kehadiran mereka menjadi fenomena menarik karena lagu Batak yang selama ini sangat dekat dengan masyarakat Batak justru mendapat perhatian dari penyanyi asal Korea Selatan.
Dari Lagu Korea ke Pop Indonesia dan Batak
Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee dikenal melalui berbagai konten cover lagu yang diproduksi dan dipublikasikan melalui kanal YouTube HoonDoo-TV. Produksi tersebut berada di bawah tim kreatif HoonDoo yang menangani berbagai kebutuhan produksi, mulai dari pengambilan gambar, penyuntingan video, penulisan lirik Korea, hingga aransemen musik.
Eksplorasi mereka terhadap musik Indonesia kemudian berkembang dari lagu-lagu Pop Indonesia ke lagu-lagu daerah. “Mardua Holong” menjadi salah satu lagu Batak yang mereka pilih dan sekaligus menjadi penanda awal perjalanan mereka membawakan lagu Pop Batak.
Pilihan tersebut bukan tanpa tantangan. Lagu “Mardua Holong” memiliki karakter vokal yang kuat dengan rentang nada yang cukup tinggi. Tantangan itu semakin terasa ketika lagu tersebut harus dinyanyikan oleh penyanyi yang tidak tumbuh dengan bahasa dan tradisi musik Batak.
Dalam materi video mereka, Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee bahkan menggambarkan proses latihan lagu tersebut dengan nada humor. Mereka mengaku harus mengerahkan tenaga ekstra untuk mencapai nada-nada tinggi dalam lagu itu dan bercanda bahwa mereka membutuhkan sekitar dua liter air untuk menyelesaikan proses bernyanyi.
Ketika Bahasa Batak Menjadi Tantangan
Selain persoalan teknik vokal, menyanyikan lagu Batak juga menghadirkan tantangan linguistik bagi kedua penyanyi Korea tersebut.
Mereka tidak hanya harus menghafal melodi, tetapi juga berusaha menyampaikan lirik dalam bahasa Batak yang dipadukan dengan bahasa Korea dengan pengucapan yang dapat dipahami oleh pendengar.
Bagi penyanyi asing, hal tersebut menjadi bagian penting dalam membawakan lagu daerah karena bahasa merupakan salah satu unsur utama yang membentuk identitas sebuah karya musik.
Dalam pengakuan mereka, pengalaman menyanyikan lagu bukan hanya dalam bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa Batak, Turki dan negara lainnya, menjadi pengalaman yang menarik sekaligus menantang. Namun paling banyak dicover lagu Pop Indonesia dengan perpaduan bahasa Indonesia dan Bahasa Korea dalam lirik lagu.
Pertanyaan sederhana yang mereka lontarkan mengenai karakter vokal lagu Batak juga menjadi bagian yang menghibur bagi penonton. Mereka bahkan mempertanyakan apakah nada setinggi itu merupakan hal yang biasa bagi penyanyi Batak dan apakah lagu tersebut memang ditujukan untuk penyanyi laki-laki.
Humor semacam itu justru menjadi salah satu daya tarik konten mereka. Tantangan dalam menyanyikan lagu tidak disembunyikan, tetapi ditampilkan sebagai bagian dari proses belajar dan mengenal budaya musik Indonesia.
![]() |
| Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee. |
Dari Cover Lagu Menjadi Jembatan Budaya
Fenomena Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee memperlihatkan bagaimana media sosial dapat mengubah sebuah konten cover menjadi ruang pertukaran budaya.
Sebuah lagu yang berasal dari komunitas dan tradisi tertentu dapat menjangkau pendengar di negara lain melalui platform digital. Dalam kasus “Mardua Holong”, perhatian penonton terhadap versi Korea tersebut sekaligus membawa musik Batak ke ruang penonton yang lebih luas.
Hal ini menjadi menarik karena hubungan budaya Indonesia dan Korea selama beberapa tahun terakhir memang semakin dekat, terutama melalui musik dan industri hiburan. Namun, arus pertukaran budaya tidak selalu berjalan satu arah.
Ketika masyarakat Indonesia menikmati budaya populer Korea, muncul pula fenomena sebaliknya: seniman Korea mencoba mengenal dan membawakan karya musik Indonesia, termasuk lagu daerah.
Di titik inilah cover lagu tidak lagi sekadar persoalan musik. Ia dapat menjadi medium untuk memperkenalkan bahasa, tradisi, karakter vokal, dan cerita dari sebuah komunitas kepada masyarakat yang lebih luas.
Respons Publik Indonesia
Popularitas video “Mardua Holong” menjadi salah satu indikator kuat mengenai besarnya perhatian masyarakat Indonesia terhadap konten tersebut. Jumlah penonton yang menembus lebih dari enam juta kali di Facebook memperlihatkan bahwa lagu Batak dapat memperoleh audiens yang sangat luas ketika dikemas melalui pendekatan yang berbeda.
Komentar dan respons masyarakat juga menjadi bagian penting dalam perkembangan konten Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee. Mereka bahkan mengajak penonton untuk menyarankan lagu daerah lain yang dapat mereka bawakan pada video berikutnya.
Ajakan tersebut membuka kemungkinan yang lebih besar. Setelah mengenal musik Batak, bukan tidak mungkin eksplorasi mereka berlanjut ke lagu-lagu dari berbagai daerah lain di Indonesia.
Dengan lebih dari 17.000 pulau dan ratusan bahasa daerah, Indonesia memiliki kekayaan musik yang sangat luas. Bagi penyanyi asing, setiap lagu daerah dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kebudayaan masyarakat yang melahirkannya.
HoonDoo-TV dan Produksi di Balik Layar
Perhatian publik terhadap Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee juga tidak dapat dilepaskan dari konsistensi produksi konten mereka melalui HoonDoo-TV.
Tim HoonDoo terlibat dalam berbagai aspek produksi, mulai dari video shooting, video editing, Korean lyrics, hingga music arrangement. Dengan demikian, konten yang muncul di hadapan penonton bukan hanya hasil rekaman spontan, melainkan melalui proses kreatif yang mencakup aransemen musik dan produksi audiovisual.
Pendekatan tersebut membuat lagu-lagu Indonesia yang mereka bawakan dapat dikemas untuk menjangkau penonton lintas bahasa dan budaya.
“Mauliate” dan “Horas” dari Korea
Di akhir penampilan, Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee menyampaikan ucapan “Mauliate” dan “Horas”, dua ungkapan yang sangat lekat dengan masyarakat Batak.
Bagi penonton Indonesia, terutama masyarakat Batak, penggunaan ungkapan tersebut menjadi simbol penghargaan terhadap budaya yang sedang mereka pelajari.
Lebih dari sekadar menyanyikan sebuah lagu, Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee memperlihatkan bahwa musik dapat menjadi bahasa yang melampaui batas negara.
Fenomena viral “Mardua Holong” juga menunjukkan bahwa karya musik daerah Indonesia memiliki potensi untuk diterima oleh penonton internasional ketika diperkenalkan melalui pendekatan kreatif yang tepat.
Kini, nama Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee semakin akrab di kalangan pengguna media sosial Indonesia. Dari sebuah cover lagu Batak, keduanya justru menemukan jalan untuk membangun kedekatan dengan publik Indonesia.
Perjalanan tersebut memperlihatkan satu hal sederhana, sebuah lagu yang lahir dari budaya lokal dapat menempuh perjalanan yang sangat jauh. Bahkan sampai Korea Selatan, lalu kembali ke Indonesia dalam suara dua penyanyi Korea yang berusaha menyanyikannya dengan bahasa dan karakter yang berbeda.
Dan mungkin, di situlah kekuatan musik sebenarnya bekerja. Bahasa boleh berbeda, negara boleh berjauhan, tetapi melodi kadang punya paspor sendiri.
Lagu apa yang akan mereka bawakan berikutnya? Publik Indonesia kini tinggal menunggu, sambil berharap lagu daerah lainnya kembali mendapat panggung di luar batas negeri.
Dua Artis Korea yakni Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee kini semakin akrab di mata rakyat Indonesia. Betapa tidak, lewat media sosial mereka mencover puluhan lagu-lagu Pop Indonesia dan Pop Batak Toma "Mardua Holong" hingga ditonton jutaan warga Indonesia dan Korea.
Salah satu lagu Pop Batak "Mardua Holong" yang dipopulerkan Omega Trio dicover Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee hingga tembus penonton di Facebook 6 juta lebih. Lagu-lagu Cover kedua artis Korea ini juga ditayang di Channel YouTubeHoonDoo-TV dengan tim kreatif Produksi HoonDoo, Video Editing HoonDoo, Video Shooting HoonDoo, KOR Lyrics HoonDoo dan Music Arrangement HoonDoo sendiri.
Lagu Pop Batak perdana yang dicover Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee adalah "Mardua Holong". Lagu hari ini adalah Mardua Holong dari Omega Trio. (AsenkLeeSaragih/Berbagaisumber)
Galeri Foto Serbi Jinsoo Doo dan Seung Honn Lee

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

0Komentar