Pamatangsiantar, BS- Nama Pdt. Suriadi Lumban Gaol, S.Th. belakangan menjadi perhatian di media sosial setelah kisah pelayanannya saat mendampingi keluarga yang sedang berduka mendapat banyak respons positif dari warganet.
Pdt. Suriadi Lumban Gaol dikenal sebagai pendeta Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang pernah melayani di sejumlah wilayah pelayanan. Saat ini, ia disebut bertugas sebagai Pendeta Ressort di HKBP Ressort Maranatha Perdagangan, Distrik V Sumatera Timur.
Pusat pelayanan HKBP Ressort Maranatha Perdagangan berada di Gereja HKBP Perdagangan, Jalan Kartini, Kelurahan Perdagangan III, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun. Dalam pelayanannya, Pdt. Suriadi menaungi jemaat di sejumlah gereja di wilayah Kecamatan Bandar.
Perhatian publik terhadap sosok Pdt. Suriadi muncul setelah sebuah unggahan media sosial pada 20 September 2026 menceritakan sikapnya ketika melayani keluarga yang sedang mengalami dukacita.
Dalam tradisi masyarakat Batak, keluarga yang berduka atau hasuhuton kerap memberikan hamuliateon sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada pihak yang telah membantu atau melayani selama rangkaian acara dukacita.
Namun, dalam kisah yang beredar, Pdt. Suriadi disebut tidak bersedia menerima amplop hamuliateon tersebut. Sikap itu kemudian dinilai sebagai bentuk ketulusan dalam menjalankan tugas pelayanan pastoral.
Unggahan Poltak Simanjuntak pada 20 September 2026 turut menjadi perhatian warganet. Hingga informasi tersebut disampaikan, unggahan itu telah memperoleh lebih dari 11 ribu tanda suka, sekitar 1.700 komentar dan ratusan kali dibagikan.
Sejumlah warganet memberikan apresiasi. Anita Siahaan, misalnya, menilai sikap tersebut merupakan hal yang patut diapresiasi.
"Baru ini lah kita dengar pendeta HKBP menolak amplop. Mantaplah kalau begitu amang," tulis Anita Siahaan membalas informasi yang disampaikan Poktak Simanjuntak.
Namun, komentar lainnya juga mengingatkan bahwa tindakan serupa pernah dilakukan sejumlah pendeta HKBP lainnya. Penri Munthe menyampaikan bahwa dirinya juga mengetahui pendeta yang tidak menerima pemberian dari keluarga yang sedang berduka.
"Banyak inang,pdt kami prnh gt,gak di terima sama sekali,lagian ini kan bukan diminta si pdt yg berduka aja yg berinisiatif," balas Penri Munthe dikomentar Anita Siahaan.
Pengalaman serupa disampaikan Lemsi Sembiring. Ia mengisahkan pernah memberikan amplop kepada seorang pendeta setelah anaknya meninggal dunia. Menurutnya, pendeta tersebut justru menolak pemberian itu dan menyampaikan bahwa pelayanan tersebut merupakan tugas dan tanggung jawabnya.
"Saya juga memiliki sebuah gereja di HKBP, tetapi pendeta kini telah dipindahkan. Saya sendiri mengalaminya ketika anak kedua saya dipanggil "bapa di surga" olehnya, yang bertanggung jawab atas anak saya. Setelah kejadian itu, keluarga memberikan sebuah amplop sebagai pesan terima kasih, tetapi dia mencari anak tertua saya dan berlutut kepadanya lagi, mengatakan bahwa itu adalah tugas dan tanggung jawabnya. Semoga berkat selalu melimpah bagi pendeta yang baik." jawab Lemsi Sembiring.
Goklas Sinurat juga menceritakan pengalaman ketika keluarganya hendak memberikan amplop kepada pendeta setelah pemakaman orang tuanya. Menurut Goklas, pendeta tersebut menolak menerima pemberian tersebut.
"Kami juga pernah mengalami hal yang sama, waktu bapak saya meninggal habis pemakaman kami mau menyalam Pdt. Tapi beliau tidak mau menerima," ungkapnya.
Kesaksian serupa disampaikan Posmaria Sipahutar yang mengaku pernah memiliki pengalaman dengan pendeta yang tidak menerima hamuliateon dari keluarga berduka.
"Pendeta kami juga dulu begitu amang,Tidak mau menerima hamauliateon dr keluarga berduka. Salam buat amang Pdt Iyong silaban dan inang Jessica Sitio," jelas Posmaria Sipahutar menyampaikan kisahnya tentang poendeta yang tidak menerima amplop dari keluarga yang berduka.
"Benar.. perlu diikuti oleh pendeta lain," tulis Ormela Butar Butar sambil memberikan gambar dirinya bersama pdt suriadi lumbangaol.
Berbagai komentar tersebut menunjukkan bahwa tindakan menolak pemberian dari keluarga berduka bukan hanya dikaitkan dengan Pdt. Suriadi. Sejumlah warganet menyebut mereka juga pernah menemukan pengalaman serupa dalam pelayanan gereja.
Pdt. Suriadi Lumban Gaol sendiri disebut pernah melayani di HKBP Pembatuan Pekanbaru dan HKBP Resort Kp. Juhar. Informasi mengenai riwayat pelayanan tersebut turut muncul dalam berbagai unggahan dan komentar warganet.
Kisah Pdt. Suriadi kemudian menjadi perbincangan karena menyentuh sisi pelayanan pendeta ketika berada bersama keluarga yang sedang mengalami kehilangan. Bagi sebagian warganet, penolakan hamuliateon tersebut dipandang sebagai bentuk perhatian untuk tidak menambah beban keluarga yang tengah berduka.
Di tengah beragam komentar tersebut, kisah ini menjadi pengingat bahwa pelayanan kepada keluarga yang sedang mengalami dukacita tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ibadah, tetapi juga pendampingan, penguatan dan kehadiran secara pastoral.(FB-BATAK Center)

0Komentar