| Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th, saat menyampaikan materi seminar, Jumat (9/10/2026).(Foto-Foto AsenkLeeSaragih) |
Seminar Sehari " Keluarga Kuat, Iman Kuat di Era Digital" dengan Tema "Penumbuhan Iman di Tengah-Tengah Keluarga Dalam Era Digital"
Jambi, S24- Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan keluarga dan pertumbuhan iman. Ketika interaksi semakin banyak berlangsung melalui layar, kedekatan emosional dalam keluarga berisiko tergantikan oleh hubungan virtual yang belum tentu menghadirkan keintiman dan kepedulian nyata.
Hal tersebut mengemuka pada Seminar Sehari " Keluarga Kuat, Iman Kuat di Era Digital" dengan Tema "Penumbuhan Iman di Tengah-Tengah Keluarga Dalam Era Digital" yang diselenggarakan Panitia Tahun Transformasi HKBP Jambi di Gereja HKBP Jambi, Jumat (9/10/2026) dari Pukul 14.00 WIB hingga Pukul 17.30 WIB dengan Pembicara Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th, Dosen Universitas HKBP Nommensen - Pematangsiantar.
Seminar ini dihadiri sekitar 800 peserta yang terdiri dari remaja, naposo (Pemuda/Di), orang tua dari Jemaat HKBP Resort Jambi. Juga hadir Siswa-Siswi Sekolah Nomensen Jambi.
Panitia Tahun Transformasi HKBP Jambi 2026 yakni Ketua: Prof Dr Ir Dompak MT Napitupulu, M.Sc
Sekretaris I: Drs Fendi Sinabutar, Sekretaris II: St Paul Gultom, SE, Bendahara: St Ines Br Simarmata, A.Md. Sedangkan Ketua Panitia Seminar Sehari yakni S Robinson Hutapea, S.Pd.
Seminar diawali dengan Ibadah dengan dengan Pelayan Nyanyian Rina Br Sinaga, Kotbah Pdt Ferdinand Tampubolon, S.Th, Organis: Diny Cecilia Br Sinabutar dan Pianis: Iren Br Simanungkalit dan Song Leader Boas, Natasya dan Kanaya.
Rundown acara Seminar Sehari yakni mulai dari Ibadah Pembukaan Kotbah Pdt Ferdinand Tampubolon, S.Th, Persiapan Seminar Panitia, Kata Sambutan Pimpinan Jemaat/Ketua Tahun Transformasi Prof Dr Ir Dompak MT Napitupulu, M.Sc, Sambutan Ketua Pelaksana Seminar S Robinson Hutapea, S.Pd.
Selanjutnya Panel Materi oleh Pdt. Dr. Ir. Freitz Sihombing dengan diskusi moderator oleh St. H. Simalango, S.Pd serta noutulen oleh St Paul Gultom, SE.
Seminar Sehari oleh Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th dengan topik "Keluarga Kuat, Iman Kuat di Era Digital" dengan Tema "Penumbuhan Iman di Tengah-Tengah Keluarga Dalam Era Digital," persoalan tersebut menjadi perhatian Pdt Dr Ir Fritz Sihombing, M.Th, yang mengangkat tema pergeseran kehidupan manusia dari genuine menuju artificial dalam makalahnya mengenai penguatan iman keluarga di tengah perkembangan teknologi digital.
Menurut Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th, tantangan terbesar keluarga saat ini bukan semata-mata keberadaan teknologi, melainkan perubahan kebiasaan, pola relasi, dan orientasi hidup manusia yang semakin dipengaruhi oleh dunia digital.
Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th menggambarkan kondisi tersebut melalui situasi yang mungkin dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, satu rumah dihuni empat orang, tetapi masing-masing sibuk dengan telepon genggamnya sendiri.
“Dari jam tujuh malam sampai jam dua belas malam, tidak ada yang bicara. Semua sibuk dengan dunia artifisialnya masing-masing. Itulah realitas degradasi yang saya maksud. Kita bersama, tetapi tidak hadir,” demikian gambaran yang disampaikan Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th dalam pemaparannya.
Gambaran itu menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan yang lebih mendasar: ketika keluarga masih tinggal di bawah satu atap, apakah mereka masih sungguh-sungguh hadir bagi satu sama lain?
Ketika Relasi Autentik Tergeser Dunia Artifisial
Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th membedakan dua orientasi kehidupan, yakni genuine dan artificial. Genuine dimaknai sebagai sesuatu yang autentik, berakar, otentik, dan mampu menghasilkan perubahan dalam kehidupan. Sebaliknya, artificial merujuk pada sesuatu yang bersifat tiruan, instan, performatif, dan berisiko kehilangan kedalaman makna.
Dalam pandangannya, perkembangan media sosial dan sistem algoritma ikut membentuk cara manusia memandang kebahagiaan, persahabatan, keberhasilan, bahkan kehidupan beriman.
Konten yang terus-menerus dikonsumsi dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri dan orang lain. Kebahagiaan seolah harus diperlihatkan, pertemanan diukur melalui jumlah pengikut, sementara aktivitas keagamaan berpotensi bergeser menjadi pertunjukan untuk mendapatkan pengakuan.
Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th mengingatkan bahwa persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius karena dapat merembet ke kehidupan rohani keluarga. “Jika tidak disadari, iman kita ikut menjadi artificial,” menjadi salah satu pesan utama dalam makalah tersebut.
Meski demikian, persoalannya bukan berarti seluruh aktivitas digital atau penggunaan AI selalu membawa dampak negatif. Tantangan yang perlu dihadapi adalah bagaimana keluarga menggunakan teknologi secara kritis tanpa kehilangan kemampuan membangun relasi yang autentik, menjalani kehidupan rohani yang mendalam, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Dengan kata lain, teknologi seharusnya tetap menjadi sarana yang membantu kehidupan manusia, bukan kekuatan yang menentukan seluruh orientasi hidupnya.
| Organis: Diny Cecilia Br Sinabutar dan Pianis: Iren Br Simanungkalit. |
Sepuluh Pilar untuk Membangun Iman yang Tangguh
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th merumuskan sepuluh pilar iman tangguh yang berlandaskan nilai-nilai Alkitab. Kerangka ini menempatkan keluarga sebagai ruang utama pembentukan karakter, kedewasaan rohani, dan kemampuan berpikir kritis.
Pilar pertama adalah menjaga hati, sebagaimana ditekankan dalam Amsal 4:23 dan Matius 22:37. Di tengah paparan media sosial, seseorang dapat terjebak dalam kecemasan, iri hati, dan kecenderungan membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Karena itu, menjaga hati menjadi bagian penting dari pembentukan iman.
Pilar kedua adalah mencabut cinta uang, merujuk pada 1 Timotius 6:10. Fritz menyoroti persoalan pinjaman online dan judi online yang dapat memperburuk tekanan ekonomi serta merusak kehidupan keluarga. Ia mengajak keluarga mewaspadai godaan memperoleh uang secara instan dan membangun kesadaran mengenai tanggung jawab dalam mengelola keuangan.
Pilar ketiga adalah berakar pada firman Tuhan, bukan algoritma. Dengan merujuk Ulangan 6:6–7, ia menegaskan pentingnya pengajaran iman yang berlangsung secara berulang dan berkesinambungan di dalam keluarga. Pesan-pesan singkat yang dikonsumsi melalui media digital tidak seharusnya menggantikan proses pembelajaran iman yang mendalam.
Pilar keempat menekankan kehidupan doa bersama yang tidak bersifat performatif. Doa, menurut kerangka pemikiran tersebut, tidak semestinya dilakukan demi memperoleh perhatian atau pengakuan di media sosial. Keluarga perlu menghidupkan kembali doa pribadi dan mezbah keluarga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pilar kelima adalah bertumbuh dalam komunitas nyata. Mengacu pada Ibrani 10:25, Fritz mengingatkan bahwa banyaknya teman di dunia maya tidak selalu berarti seseorang memiliki dukungan ketika menghadapi kesulitan. Kehadiran, kunjungan, kepedulian, dan persekutuan secara langsung tetap penting dalam kehidupan bergereja.
Pilar keenam menempatkan kasih kepada mereka yang kecil dan membutuhkan sebagai wujud konkret iman. Dengan merujuk Matius 25:40, Fritz mengajak keluarga tidak berhenti pada aktivitas digital, tetapi menghadirkan kepedulian melalui tindakan nyata kepada orang miskin, kelompok rentan, dan sesama yang membutuhkan pertolongan.
Pilar ketujuh adalah kesadaran eskatologis, yakni kesadaran akan tujuan akhir kehidupan dalam iman Kristen. Berlandaskan Matius 24:42, keluarga diajak untuk tidak menjadikan popularitas dan viralitas sebagai tujuan utama, melainkan tetap berpegang pada nilai-nilai iman.
Pilar kedelapan menegaskan bahwa kehidupan bukan semata-mata soal capaian, melainkan soal bagaimana manusia hidup. Merujuk Matius 5:13, Fritz mengajak umat memprioritaskan kesetiaan dalam menjalani panggilan hidup daripada sekadar mengejar jumlah pengikut, target, atau ukuran keberhasilan yang ditentukan lingkungan digital.
Pilar kesembilan adalah menuju kedewasaan dan keutuhan manusia. Melalui Matius 5:48, ia menyoroti makna teleios, yang berkaitan dengan kesempurnaan atau kematangan. Tujuannya bukan membentuk manusia yang tampak sempurna di hadapan publik, melainkan pribadi yang bertumbuh, dewasa, dan utuh dalam kehidupan nyata.
Adapun pilar kesepuluh menjadi pengunci seluruh kerangka tersebut, yakni iman yang berpikir, memilih, dan bertanggung jawab. Berlandaskan Roma 12:2 dan 1 Petrus 3:15, Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th menekankan bahwa umat perlu mengembangkan kemampuan membedakan nilai yang benar, menimbang informasi, mengambil keputusan, serta mempertanggungjawabkan pilihan hidupnya.
Kata Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th, pilar terakhir ini memiliki posisi penting karena keluarga tidak cukup hanya diajarkan untuk menjauhi pengaruh negatif teknologi. Mereka juga perlu dibekali kemampuan berpikir kritis agar dapat memanfaatkan teknologi secara bijaksana.
"Pertanyaan yang perlu dibiasakan dalam keluarga, menurut semangat makalah tersebut, adalah, apakah pilihan yang sedang diambil sesuai dengan kehendak Allah, atau sekadar mengikuti dorongan dan rekomendasi algoritma?," tanya Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th.
| Ketua Panitia Tahun Transformasi HKBP Jambi 2026 Prof Dr Ir Dompak MT Napitupulu, M.Sc. |
Gereja Tidak Boleh Membiarkan Keluarga Berjuang Sendiri
Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th menegaskan bahwa sepuluh pilar tersebut tidak akan berjalan optimal apabila tanggung jawab pembinaan iman hanya dibebankan kepada keluarga.
Keluarga saat ini menghadapi beragam tekanan, mulai dari persoalan ekonomi, kesenjangan komunikasi antargenerasi, hingga tantangan mendampingi anak-anak yang tumbuh bersama teknologi digital. Dalam situasi tersebut, gereja perlu mengambil peran lebih aktif, bukan hanya melalui khotbah dan pengajaran, tetapi juga melalui dukungan pastoral serta program yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th, dalam tradisi Kristen, keluarga dikenal sebagai ecclesia domestica atau gereja rumah tangga. Konsep ini menempatkan keluarga sebagai lingkungan pertama bagi pertumbuhan iman, pembentukan karakter, dan pengenalan nilai-nilai Kristiani.
Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th menghubungkan pemahaman tersebut dengan Ulangan 6:4–9, yang menekankan pentingnya mengajarkan firman Tuhan secara berulang kepada anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.
"Namun, agar tanggung jawab itu dapat dijalankan, keluarga membutuhkan dukungan yang nyata. Gereja tidak cukup hanya meminta orang tua membangun mezbah keluarga apabila mereka tidak memperoleh pendampingan, kesempatan, dan ruang untuk mempraktikkannya,"kata Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th.
Dalam konteks HKBP Jambi, Ressort Jambi, Distrik XXV, Tahun Transformasi 2026, Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th menawarkan sejumlah langkah yang dapat dikembangkan sebagai agenda pelayanan gereja.
Pertama, penguatan fungsi pastoral dan motivasi. Pimpinan jemaat diharapkan secara rutin mengingatkan umat bahwa keberhasilan keluarga tidak hanya ditentukan oleh pencapaian pekerjaan atau materi, tetapi juga oleh kualitas hubungan, pertumbuhan iman, dan kebersamaan di rumah. Gereja juga dapat memberikan apresiasi pastoral kepada keluarga yang secara konsisten membangun mezbah keluarga.
Kedua, penyediaan waktu bagi keluarga. Gereja diusulkan menetapkan satu hari dalam seminggu sebagai hari tanpa kegiatan gerejawi yang terjadwal, sehingga keluarga memiliki kesempatan untuk makan bersama, berdialog, berdoa, dan membangun komunikasi dengan anak-anak, termasuk generasi Z.
Gagasan ini menekankan bahwa pelayanan gereja tidak hanya berlangsung melalui kegiatan kelembagaan. Memberi ruang bagi keluarga untuk bertumbuh di rumah juga merupakan bagian dari upaya membangun kehidupan iman jemaat.
Ketiga, pelatihan literasi digital Kristiani bagi orang tua. Gereja diharapkan memfasilitasi pembelajaran praktis mengenai pendampingan penggunaan telepon genggam pada anak, pengaturan keamanan digital, komunikasi iman dengan generasi muda, serta pengenalan risiko judi online dan pinjaman online.
Keempat, pembentukan Kelompok Kecil Keluarga (K3) yang melibatkan tiga hingga empat keluarga. Kelompok ini dapat menjadi ruang untuk saling mengunjungi, berbagi pengalaman, mendampingi keluarga yang menghadapi kesulitan, serta melakukan pelayanan kasih kepada masyarakat yang membutuhkan.
"Melalui langkah-langkah tersebut, pembinaan iman keluarga diharapkan tidak berhenti sebagai slogan program tahunan, tetapi menjadi praktik pelayanan yang terstruktur dan berkelanjutan," jelas Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th, yang juga pernah melayani di HKBP Resort Jambi ini.
| Peserta Seminar Antusias. |
Mengembalikan Mezbah Keluarga di Tengah Kehidupan Digital
Pada bagian penutup, Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th mengusulkan tiga gerakan nyata yang dapat dimulai keluarga setelah seminar.
Gerakan pertama adalah Mezbah Keluarga Tanpa HP, yakni menyediakan waktu sekitar 30 menit setiap hari untuk mematikan telepon genggam, membaca firman Tuhan, dan berdoa bersama. Tujuannya bukan sekadar mengurangi waktu layar, tetapi mengembalikan perhatian anggota keluarga kepada hubungan dengan Tuhan dan sesama.
Gerakan kedua adalah Kasih kepada yang Kecil. Setiap keluarga diajak mengambil bagian dalam kepedulian nyata terhadap satu keluarga yang membutuhkan dukungan. Bentuknya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan, mulai dari kunjungan, pendampingan, bantuan praktis, hingga dukungan sosial yang berkelanjutan.
Gerakan ketiga adalah Gerakan Akal Budi, yaitu membiasakan anak untuk berpikir kritis sebelum menerima informasi, mengikuti tren, atau mengambil keputusan di dunia digital. Orang tua perlu mendorong percakapan terbuka agar anak mampu menilai informasi secara bertanggung jawab dan memahami konsekuensi dari tindakannya.
Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th juga menyebut akun “Heard in Prayer” sebagai contoh penggunaan media yang, menurut kerangka pemikirannya, dapat diarahkan untuk menyampaikan pesan secara autentik.
Menurut Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th, ketiga gerakan tersebut memperlihatkan bahwa jawaban atas tantangan era digital tidak harus selalu berupa penolakan terhadap teknologi. Yang lebih mendasar adalah membangun kebiasaan, nilai, dan relasi yang membuat keluarga mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kedalaman iman dan kemanusiaan.
Transformasi Iman Dimulai dari Rumah
Gagasan yang disampaikan Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th pada akhirnya membawa perhatian kembali kepada rumah sebagai ruang pembentukan iman yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di tengah kemajuan teknologi, keluarga menghadapi pilihan, membiarkan relasi ditentukan oleh kebiasaan digital atau secara sadar membangun kembali komunikasi, doa, kepedulian, dan tanggung jawab bersama.
Kata Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th, bagi gereja, tantangannya adalah memastikan bahwa keluarga tidak berjalan sendirian. Dukungan pastoral, pelatihan, komunitas kecil, dan kebijakan pelayanan yang memberi ruang bagi kehidupan keluarga menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
Transformasi iman, dalam kerangka pemikiran ini, tidak diukur dari seberapa banyak aktivitas keagamaan ditampilkan kepada publik, tetapi dari seberapa jauh nilai-nilai iman sungguh-sungguh hidup dalam keputusan, relasi, dan tindakan sehari-hari.
"Pesan yang hendak ditegaskan sederhana, tetapi mendasar, keluarga perlu menjadi tempat manusia belajar mengasihi, berpikir, memilih, dan bertanggung jawab di hadapan Tuhan," ujar Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing.
| Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing memberikan pokok pemikiran perkembangan HKBP ke depan. |
Keluarga HKBP Jambi Soroti Tantangan Orang Tua
Lebih jauh Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing menjelaskan, tantangan keluarga di era digital menjadi sorotan dalam materi seminar yang mengangkat tema “Home Sweet Home (Aplikasinya di Tengah Belantara Digital)”. Materi tersebut menekankan pentingnya peran keluarga dalam menghadapi tekanan ekonomi, kesenjangan antargenerasi, serta pengaruh industri digital terhadap kehidupan anak dan orang tua.
Dalam akhir pemaparannya, keluarga digambarkan sedang menghadapi perjuangan yang semakin berat. Beban mendidik dan membimbing anak dinilai tidak seharusnya hanya ditanggung oleh orang tua tanpa dukungan lingkungan dan nilai-nilai yang kuat.
Disebutkan, Konsep Home Sweet Home menekankan empat unsur utama dalam membangun keluarga yang harmonis, yakni Tuhan sebagai pemimpin keluarga, aturan dan pembagian peran yang seimbang, kekuatan melalui firman Tuhan, doa dan kebersamaan saat makan, serta buah berupa anak-anak yang hidup dalam kebenaran sebagaimana tertulis dalam 3 Yohanes 1:4.
Selain itu, materi tersebut mengajak keluarga untuk menjadikan nilai-nilai iman sebagai pedoman dalam menghadapi perkembangan teknologi, termasuk mendampingi anak dalam penggunaan telepon genggam dan membangun komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak.
Pesan tersebut ditutup dengan kutipan Filipi 4:8, yang mengajak setiap orang untuk memikirkan segala sesuatu yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, berkebajikan, dan patut dipuji.
"Melalui pesan ini, keluarga diharapkan tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang yang aman, penuh kasih, dan berlandaskan iman untuk menghadapi berbagai tantangan zaman,"pungkas Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing.
Usai seminar, setidaknya ada "Janji Keluarga Kuat, Iman Kuat di Era Digital"yang dibacakan oleh seluruh peserta seminar. Janji Pertama"Kami berjanji menjadikan Kristus sebagai pusat keluarga kami, bukan gadget, sehingga setiap waktu online dan offline kami pakai untuk saling mengasihi dan membangun iman".
Janji Kedua "Kami berjanji menjaga hati, mata, dan jari kami di dunia digital, memilih tontonan yang benar, perkataan yang membangun, dan teladan yang memuliakan Tuhan di rumah dan di media sosial".
Janji Ketiga " Kami berjanji bertumbuh bersama sebagai keluarga yang berdoa, bersekutu, dan melayani, kuat menghadapi tantangan zaman karena iman kami berakar di dalam Firman Tuhan".
Sukses Panitia Tahun Transformasi HKBP Jambi
Panitia Tahun Transformasi HKBP Jambi sukses menggelar Seminar Sehari dengan Tema, "Penumbuhan Iman Ditengah-tengah keluarga dalam Era Digital." Subtema, "Meningkatkan peran keluarga dalam menumbuhkan iman ditengah-tengah perkembangan tehnologi informasi," dengan Narasumber Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th.
Ketua Panitia Prof Dr Ir Dompak MT Napitupulu, M.Sc didampingi Sekretaris Panitia I Drs Fendi Sinabutar, mengatakan, adapun tujuan seminar sehari ini guna membekali orangtua dan keluarga Kristen dalam menumbuhkan dan mengajarkan iman Kristiani kepada anggota keluarga.
Kemudian meningkatkan kualitas relasi dan komunikasi antara orangtua dan anak, khususnya generasi Z di tengah tantangan era digital. Mendorong terbentuknya anak-anak yang beriman, cerdas serta memiliki karakter Kristiani yang kuat.
| Ketua Panitia Seminar Sehari S. Robinson Hutapea, S.Pd. |
Serta meningkatkan pemahaman orangtua mengenai pengaruh media sosial serta strategi penerapan pengajaran iman Kristiani di dalam keluarga.
Sementara Ketua Panitia Seminar Sehari S. Robinson Hutapea, S.Pd menambahkan, ditengah derasnya digitalisasi yang menggerus nilai-nilai kebersamaan keluarga, Panitia Tahun Transformasi HKBP Jambi menggelar seminar sehari, "Keluarga kuat, Iman kuat, Di Era Digital."
Menurut Robinson Hutapea, S.Pd bahwa seminar ini sangat urgent. "Kita tidak bisa menolak era digital, tapi kita harus memastikan iman keluarga tidak tergerus. Banyak anak lebih dekat dengan gadget dari pada dengan orang tua, banyak keluarga kuat secara ekonomi, namun rapuh secara iman, inilah yang ingin kita jawab melalui seminar ini," kata mantan Kepala SMA Negeri 6 Kota Jambi ini.
Menurut Robinson Hutapea yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPD PIKI) Provinsi Jambi ini, bahwa sesuai dengan amanat Tahun Transformasi HKBP, gereja harus hadir memberikan solusi praktis.
"Seminar ini bukan hanya ceramah, tapi akan ada dialog tentang bagaimana membangun mezbah keluarga di rumah, bagaimana orang tua menjadi teladan iman digital dan bagaimanamemamfaatkan TIK bahkan AI untuk penguatan iman, bukan justru menjauhkan kita dari Tuhan," terangnya.
Antusisame seluruh keluarga, kaum bapak, kaum ibu, pemuda dan remaja HKBP se Ressort Jambi serta jemaat Kristen lintas dedominasi gereja yang hadir menampakkan suksesnya seminar ini guna membangun keluarga beriman di era digital.
Robinson Hutapea juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh yang hadir serta panitia serta pihak-pihak yang mensukseskan Seminar Sehari "Keluarga Kuat, Iman Kuat di Era Digital" dengan Tema "Penumbuhan Iman di Tengah-Tengah Keluarga Dalam Era Digital" tersebut.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama Panitia Tahun Transformasi HKBP Jambi dan Pembicara Pdt. Dr. Ir. Fritz Sihombing, M.Th, serta undangan seminar lainnya. (S24-AsenkLeeSaragih/Fendi Sinabutar)
Galeri Foto Seminar Sehari "Keluarga Kuat, Iman Kuat di Era Digital" dengan Tema "Penumbuhan Iman di Tengah-Tengah Keluarga Dalam Era Digital".
.JPG)
.JPG)
.JPG)
.jpeg)
.jpeg)




.jpeg)
.jpeg)





0Komentar