. Pentas Hiburan “Live Streaming” Olob-olob GKPS Resort Jambi, Menggugah Kesadaran Pelestarian Lingkungan Hidup Warga Simalungun

Pentas Hiburan “Live Streaming” Olob-olob GKPS Resort Jambi, Menggugah Kesadaran Pelestarian Lingkungan Hidup Warga Simalungun

Longsor dan banjir bandang yang melanda Kota Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara  akibat kerusakan hutan lindung di Kecamatan Sipangan Bolon, Parapat, Kamis, 13 Mei 2021. (Foto : Matra/Kureta.Id)
 
(Matra, Jambi) – Pesta Olob-olob (Perayaan) 118 Injil di Simalungun di tengah pandemi Covid-19 ini banyak dilakukan warga Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) dengan mementaskan hiburan secara virtual (live streaming). Beberapa GKPS di perantauan menggelar pentas hiburan secara live streaming memeriahkan perayaan 118 Tahun Injil di Simalungun untuk memuaskan rasa rindu kampung halaman (marsombuh sihol) medio September ini. 

GKPS Resort Jambi termasuk salah satu GKPS di perantauan yang menggelar pentas hiburan live streaming dalam rangka memeriahkan Pesta Olob-olob 118 Tahun Injil di Simalungun. Pentas hiburan tersebut dilaksanakan Sabtu (25/9/2021) malam di Gedung Sekolah Minggu GKPS Jambi. Namun pentas hiburan live streaming Olob-olob GKPS Resort Jambi ini agak berbeda dengan pentas hiburan serupa yang digelar beberapa GKPS di daerah lain.

Pentas hiburan lives streaming GKPS Resort Jambi kali ini memilih tema “Pelestarian Lingkungan Hidup”. Tema tersebut dipilih sebagai salah satu upaya menggugah kesadaran dan kepedulian seluruh warga GKPS dan umat Kristen di Simalungun dalam pelestarian lingkungan hidup di daerah Simalungun, termasuk di daerah masing-masing di mana warga jemaat GKPS tinggal. 

Mengacu kepada tema tersebut, lagu-lagu yang dilantunkan pada pentas hiburan live atreaming Olob-olob GKPS Resort Jambi tersebut bertema lingkungan hidup dan pembangunan Simalungun. Lagu-lagu tersebut ada yang berasal dari lagu rohani (Haleluya) GKPS dan lagu-lagu populer Simalungun.

Potensi GKPS

Warga GKPS dan umat Kristen di Simalungun perlu kembali digugah mengenai pelestarian lingkungan hidup karena potensi sumber daya manusia GKPS di bidang pelestarian lingkungan hidup tersebut cukup besar. Saat ini GKPS memiliki jumlah warga jemaat jumlah warga GKPS di seluruh Indonesia saat ini mencapai 224.649 jiwa atau 60.307 kepala keluarga (KK). Warga jemaat GKPS tersebut tergabung dalam 638 jemaat, 148 resort dan 11 distrik. Sedangkan jumlah fulltimer aktif di GKPS saat ini mencapai 420 orang. Sekitar 120.409 jiwa atau 53,60 % warga jemaat GKPS tersebut tinggal di Kabupaten Simalungun dan sekitarnya. Sedangkan sekitar 90.813 jiwa atau 40,42 % warga GKPS tersebar di perkotaan (di luar kabupaten Simalungun).

Sesuai dengan data Biro Pusat Statistik Kabupaten Simalungun jumlah gereja di Kabupaten Simalungun hingga tahun ini mencapai 1.246 gereja, terdiri dari 1.047 gereja Protestan dan 197 gereja Katolik. Sedangkan jumlah umat Kristen di Kabupaten Simalungun mencapai  379.900 jiwa, terdiri dari 308.840 jiwa warga Protestan (termasuk GKPS) dan 71.160 jiwa warga Katolik.

Jika seluruh sumber daya manusia di lingkungan GKPS dan gereja-gereja di Simalungun diberdayakan melakukan upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup, tentunya lingkungan hidup di daerah tersebut bisa lebih lestari. Sebaliknya warga GKPS yang diperantauan juga memiliki peran penting menjadi pionir – pionir pelesatarian lingkungan hidup jika dalam diri mereka sudah tertanam rasa pentingnya kelestarian lingkungan.

Memprihatinkan

Peningkatan kepedulian warga GKPS/Kristen di Simalungun perlu terus diupayakan kini dan di masa mendatang karena kondisi kerusakan lingkungan di daerah Simalungun masih terus bertambah. Kerusakan lingkungan tersebut dapat dilihat dari hutan yang semakin gundul, sampah yang belum dikelola secara baik, pencemaran sungai dan Danau Toba akibat limbah dan sampah.

Berdasarkan catatan Wahana LingkunganHidup Indonesia (Walhi) Sumjatera Utara, kerusakan lingkungan hidup (kerusakan hutan) di lingkungan Danau Toba wilayah Simalungun semakin parah. Salah satu di antaranya kerusakan hutan di Kecamatan Sipangan Bolon, Parapat. Kerusakan hutan di daerah itu bahkan sudah menimbulkan banjir bandang seperti yang terjadi akhir Mei 2021.

Kerusakan hutan lindung di Sipangan Bolon sudah mencapai 1.200 hektare (ha).  Berdasarkan Surat Keputusan Kementerian Kehutanan Nomor  8.088 Tahun 2018 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Provinsi Sumatera Utara, luas hutan lindung Sipangan Bolon sekitar 7.026 ha. Luas kawasan hutan tersebut hingg tahun ini tersisa sekitar 5.826 ha. Jadi selama tiga tahun terakhir terjadi kerusakan hutan lindung Sipangan Bolon sekitar 1.200 ha. (PAB, Selasa, 25 Mei 2021).

Longsor yang menyebabkan jalan raya di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara lumpuh, Januari 2021. (Foto : Matra/PalapaPos)

Pengamatan medialintassumatera.com selama ini, sebagian besar hutan di Simalungun kondisinya rusak. Perbukitan – perbukitan di desa-desa pesisir Danau Toba Simalungun juga umumnya gundul alias tidak ada hutan. Misalnya perbukitan dari Desa Bage, Kecamatan Silimakuta hingga Haranggaol, Kecamatan Horisan - Haranggaol.

Selain itu pencemaran air sungai dan Danau Toba di Simalungun juga semakin memprihatinkan. Air Danau Toba dan sungai-sunga di Simalungun yang di era 1980 – an masih bisa digunakan sebagai sumber air bersih (konsumsi), kini sudah tercemar. Air Danau Toba di Simalungun yang tercemar tersebut tidak bisa lagi dikonsumsi.

Berdasarkan kajian Netty Ria Tampubolon, seorang mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (2018), air Danau Toba sudah tercemar berat. Status baku mutu air Danau Toba yang ditelitinya di Balige, Kabupaten Toba - Samosir, dekat Parapat, Kabupaten Simalungun di kawasan permukiman tercemar berat.

Baik di kawasan permukiman dan pelabuhan. Tingginya pencemaran air Danau Toba tersebut membuat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan Danau Toba sebagai salah satu dari 15 danau prioritas nasional yang perlu segera dipulihkan. Tujuh kabupaten yang wilayahnya memiliki kawasan Danau Toba, termasuk Kabupaten Simalungun diharapkan melakukan terobosan penyelamatan Danau Toba (pelestarian lingkungan).

Menyikapi situasi kerusakan lingkungan di Simalungun dan sekitarnya ini, tentunya segenap warga GKPS dan umat Kristen di Simalungun harus melakukan aksi – aksi penyelamatan lingkungan. Aksi tersebut tentunya tidak harus menanam pohon di hutan gundul. Aksi tersebut sedikitnya bisa dilakukan melalui sosialisasi di lingkungan jemaat (gereja) mengenai upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan pembuangan limbah dan sampah ke sungai dan danau. Kemudian pencegahan penebangan dan pembakaran hutan di wilayah Simalungun.

Nah, untuk menggugah kesadaran mengenai kelestarian lingkungan itulah, Panitia Pesta Olob-olob GKPS Resort Jambi  menggelar pentas hiburan secara live streaming dengan tema “Pelestarian Lingkungan”. Mudah-mudahan sajian hiburan bertajuk lestarikan lingkungan tersebut bermanfaat untuk meningkatkan kepedulian segenap warga GKPS di mana pun berada melestarikan lingkungan.Semoga. (Matra/Radesman Saragih/BerbagaiSumber)

 


Berita Lainya

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama