![]() |
Tapanuli, S24 - Hujan tak kunjung berhenti. Sejak beberapa hari terakhir, langit di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara seakan menyimpan duka yang sama dengan warga yang tinggal di bawahnya. Derasnya air yang turun perlahan menggerus tanah, memecahkan tanggul, dan mengalirkan bencana yang tak pernah diharapkan.
Di Kecamatan Sarudik, Bendungan PLTA Sipan Sihaporas sudah lima kali membunyikan sirene tanda bahaya. Air yang terus naik memaksa pihak PLTA bersiap membuka pintu air agar bendungan tidak jebol. Namun bagi warga di hilir, itu berarti satu hal, ancaman banjir yang bisa datang seketika.
Di tempat lain, di Kecamatan Adian Koting, Tapanuli Utara, tanah longsor memutus jalan di lima titik. Akses transportasi terputus. Warga terpencil di desa-desa seperti Sibalanga dan Pagaran Lambung 1 kini seolah terpisah dari dunia luar.
Satu warga, Haratua Sipahutar, terluka cukup serius dan harus dilarikan ke rumah sakit. Rumah milik Dorlan Simanungkalit rusak tertimbun material longsor. Hujan deras masih mengguyur, memperbesar risiko longsor susulan.
Namun kisah paling menyayat hati datang dari Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah. Sekitar 50 warga terpaksa menyelamatkan diri ke atas gunung, berjalan dalam gelap, menggigil dalam dingin, hanya berbekal apa yang sempat mereka bawa.
Akses ke permukiman tertutup total oleh longsor kiri dan kanan jalan. Tidak ada jalur evakuasi. Tidak ada tempat kembali. Dalam video yang beredar, suara seorang pria terdengar gemetar, “Gada lagi jalan keluar Pak Bupati… kiri kanan sudah longsor…”
Tak lama kemudian, suara seorang ibu menangis histeris, “Tolong kami… tolong!”. Jeritan itu bukan sekadar permintaan bantuan. Itu adalah panggilan darurat dari manusia yang sedang berjuang mempertahankan hidup.
Saat ini mereka bertahan di puncak bukit dengan kondisi seadanya. Tanpa makanan layak. Tanpa perlindungan memadai. Tanpa kepastian kapan bantuan datang. Sementara hujan terus jatuh, seolah tak memedulikan rintihan manusia di bawahnya.
Saatnya Kita Bergerak Bersama
Bencana ini tidak bisa ditangani oleh satu lembaga saja. Dibutuhkan gerak cepat dari semua pihak, Pemerintah daerah, untuk mengerahkan bantuan darurat, membuka akses jalan, dan mengevakuasi warga yang terjebak.
BPBD dan Basarnas, untuk menjangkau lokasi-lokasi yang paling sulit dan mengevakuasi warga yang tengah terisolasi. TNI–Polri, untuk memastikan distribusi bantuan dan keamanan proses penyelamatan.
Relawan, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat luas, untuk mengirimkan logistik, makanan, selimut, obat-obatan, dan dukungan moral. Setiap detik keterlambatan bisa berarti ancaman bagi nyawa seseorang di atas gunung sana. Ini bukan hanya bencana alam, ini ujian kemanusiaan kita.
Tapanuli sedang menangis. Dan ketika satu daerah menangis, seluruh bangsa seharusnya ikut merasakannya. Semoga tangan-tangan yang tergerak segera hadir.
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

0Komentar