![]() |
| Warga menyaksikan jembatan lintas jalur nasional putus akibat diterjang banjir bandang di Desa Manyang Cut, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis (27/11). (SUMBER FOTO: ANTARA) |
Medan, S24- Orang-orang sudah depresi, menangis, lapar. Perkembangan terbaru banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Di Kabupaten Pidie Jaya, seorang warga Arini Amalia berkata, airnya deras, arusnya cepat… sudah seperti tsunami. Kalau tsunami airnya hitam, banjir ini airnya kuning keruh," ujarnya dengan suara bergetar.
Perempuan 28 tahun ini tinggal berdua bersama neneknya yang sudah menginjak kepala delapan di daerah Meureudu, ibu kota Kabupaten Pidie Jaya.
Banjir yang datang secara tiba-tiba itu diawali dari hujan lebat tanpa henti yang berlangsung sejak Rabu (26/11/2025) tengah malam.
Dalam hitungan menit, katanya, sungai di kota itu meluap, menjalar hingga ke jembatan penghubung lintas Sumatra.
"Pokoknya air sungai meluap itu cepat sekali... arusnya cepat kali, dalam hitungan detik sampai ke jalan-jalan, masuk ke rumah." Amalia yang masih terjaga, membangunkan neneknya yang sepuh.
Menuntunnya bangkit dari tempat tidur dan mengambil beberapa helai pakaian dari lemari untuk dibawa pergi.
"Saya cuma bisa bawa diri sendiri untuk menyelamatkan diri," ucapnya.
"Barang-barang semua saya tinggalin di rumah. Hanya bawa kunci doang. Habis itu saya lari sama nenek saya ke tempat saudara yang rumahnya lebih tinggi."
Begitu sampai di rumah kerabatnya, Amalia balik lagi ke rumah untuk membawa tambahan baju. Tapi begitu tiba, langkah kakinya terhenti.
Permukiman sekitar rumahnya sudah dikepung banjir setinggi pinggang orang dewasa. Ia tak berani menerobos derasnya air.
"Di depan rumah, samping, depan, semua sudah penuh banjir. Enggak bisa saya jalan lagi ke rumah," imbuhnya. "Itu padahal masih hitungan menit," sambung Amalia.
"Saya sudah bisa membayangkan semua barang di dalam rumah terendam. Televisi, kulkas, kasur sudah terapung semua."
Esoknya, atau Kamis (27/11/2025), hujan deras masih terus mengguyur Aceh. Dengan modal nekat, dia memberanikan pulang ke rumah, sekadar mengecek kondisi rumah.
Namun, yang tampak justru semakin memilukan. Banjir menenggelamkan rumahnya. "Sudah tenggelam." "Kamis jam 5 subuh, hujan berhenti. Sekarang sudah nampak sinar matahari. Banjir sudah surut, tapi tinggal lumpur satu meter di dalam rumah," keluhnya.
Sepanjang hidupnya, Amalia mengaku tak pernah mengalami banjir sehebat ini di wilayahnya. Kalaupun hujan deras, banjir biasanya tak pernah melewati dengkul kaki.
"Tidak pernah. Kalau kata nenek saya, pokoknya ini terparah, dalam sejarah hidupnya inilah yang paling parah," katanya berulang kali seakan meyakinkan dirinya dan saya bahwa bencana kali ini tak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Makanya saya sedikit trauma, karena bagaimana ya… kayak tsunami. Kalau tsunami airnya hitam, [banjir] ini airnya kuning keruh."
Saat ini, warga di kampungnya, betul-betul merana. Listrik dan air padam sejak Rabu lalu. Jalan-jalan dipenuhi lumpur tebal. Warga berjalan dengan pakaian basah. Beberapa di antaranya terpaksa mengungsi ke halaman toko lantaran tempat pengungsian juga kebanjiran.
Sebagian lagi mengungsi ke masjid yang cukup besar dan aman dari banjir. "Harus bagaimana lagi, enggak bisa tidur sepanjang malam."
"Orang-orang sudah depresi, nangis, lapar. Sampai sekarang belum pada pasokan bantuan makanan. Ada anak kecil minum pakai air hujan yang ditampung, untuk bertahan. (Sumber-BBC News Indonesia)
![]() |
| Warga menyaksikan jembatan lintas jalur nasional putus akibat diterjang banjir bandang di Desa Manyang Cut, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis (27/11). (SUMBER FOTO: ANTARA) |
![]() |
| Sejumlah warga korban banjir berada di dalam tenda pengungsian di Desa Pasi Leuhan, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Kamis (27/11/2025). (SUMBER FOTO: ANTARA) |
![]() |
| Sejumlah kendaraan terjebak lumpur pascabanjir bandang di Desa Manyang Cut, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis (27/11). (SUMBER FOTO: ANTARA) |
![]() |
| Warga mengevakuasi kendaraannya yang tertimbun lumpur di depan rumahnya pascabanjir bandang di Desa Manyang Cut, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis (27/11). (SUMBER FOTO: ANTARA) |
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

0Komentar