Pemerintah Tak Boleh Lagi Tutup Mata
Pamatangsiantar, S24 - Kerusakan hutan di Tapanuli Raya bukan lagi isu pinggiran. Ia telah berubah menjadi tragedi ekologis yang berjalan di depan mata. Setelah Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah hancur akibat pembalakan liar dan eksploitasi masif, kini Kabupaten Dairi berada di jalur yang sama, terjerumus perlahan namun pasti menuju bencana.
Foto-foto yang beredar dari wilayah Parbuluan, Kabupaten Dairi, memperlihatkan bukaan lahan yang menganga, pohon-pohon tumbang, dan hutan yang dikuliti tanpa ampun. Pemandangan itu menjadi alarm keras bahwa kerusakan ini bukanlah kebetulan, melainkan pola sistematis yang terus dibiarkan.
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Bane Raja Manalu, geram melihat kenyataan tersebut. " Saya tak ingin tulis terlalu panjang tentang foto-foto ini. Pemandangan ini tersaji di Parbuluan Kabupaten Dairi. Tinggal menunggu giliran untuk menjadi seperti Tapsel dan Tapteng. Dengan sajian ini maka Tobat Ekologis bukan seruan tanpa dasar. Masih mau diam?,"tanya Bane Raja Manalu.
“Saya tak ingin menulis terlalu panjang tentang foto-foto ini. Pemandangan ini tersaji di Parbuluan, Dairi. Tinggal menunggu giliran untuk menjadi seperti Tapsel dan Tapteng,” ujarnya penuh kekesalan.
Dia menegaskan, seruan “Tobat Ekologis” bukan sekadar kata-kata indah, tetapi jeritan peringatan. Ketika hutan ditebangi, ketika bukit digunduli, ketika sungai dibiarkan dipenuhi lumpur dan potongan kayu, maka bencana bukan sekadar ancaman, melainkan kepastian waktu.
Diam Sama Dengan Bersekongkol
Yang lebih menyakitkan, pembalakan ini seolah berjalan tanpa hambatan. Pertanyaan besar muncul:
Di mana pemerintah? Di mana pengawasan? Di mana keberanian untuk bertindak?
Ketika warga harus menanggung banjir bandang, longsor, dan kesulitan air bersih, ketika anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang rusak, pihak-pihak yang mendapat keuntungan dari hutan yang ditebangi tetap bebas berkeliaran.
Sementara masyarakat yang hidup di sekitar kawasan menjadi penonton kehancuran alam mereka sendiri. Dairi bisa menyusul, jika tidak adda tindakan hari ini.
Kata Bane Raja, apa yang terjadi di Tapsel dan Tapteng sudah cukup menjadi pelajaran pahit, banjir dan longsor datang berulang. Rumah dan ladang warga hancur. Infrastruktur rusak. Ekosistem runtuh.
"Dan kini, Dairi berada di garis tembak berikutnya. Tanah yang terus dibuka tanpa kendali akan menjadi awal dari tragedi yang sama. Hentikan pembalakan, sebelum hutan hanya tersisa nama,"terang Bane Raja.
Dikatakan, kerusakan ini tidak boleh dibiarkan menjadi warisan generasi berikutnya. Pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten harus berhenti saling melempar bola. Penegak hukum harus turun sebelum hutan benar-benar habis.
Masyarakat juga tidak boleh lagi diam. Diam hanya berarti satu hal: kita ikut menyetujui kehancuran ini.
“Dengan sajian ini maka Tobat Ekologis bukan seruan tanpa dasar. Masih mau diam?” tegas Bane.
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

0Komentar