Bandung, S24 -Di tengah derasnya arus urbanisasi dan anggapan bahwa bertani bukan lagi masa depan, sosok Raja Dolok Silalahi justru berdiri sebagai bukti bahwa tanah tetap setia memberi harapan bagi mereka yang mau merawatnya.
Merantau dari kampung halaman di Tanah Batak, Raja Dolok Silalahi memilih jalan yang tidak populer, menjadi petani di perantauan, tepatnya di Jawa Barat. Keputusan itu bukan tanpa risiko. Ia harus beradaptasi dengan kondisi alam yang berbeda, kebiasaan masyarakat setempat, hingga tantangan modal dan pemasaran hasil panen.
Pada masa awal, Raja Dolok Silalahi mengolah lahan dengan peralatan sederhana dan pengetahuan yang ia miliki. Gagal panen, cuaca tak menentu, serta harga hasil tani yang fluktuatif sempat menguji keteguhannya. Namun ia percaya satu hal: kerja keras yang dilakukan dengan kesabaran tidak pernah mengkhianati hasil.
Perlahan, ia mulai memahami karakter tanah dan iklim setempat. Ia memperbaiki pola tanam, belajar dari petani lokal, serta membuka diri pada inovasi pertanian yang lebih efisien. Ketekunan itu berbuah manis. Hasil panennya meningkat, kualitas produk semakin baik, dan kepercayaan pasar pun tumbuh.
Kini, Raja Dolok Silalahi tidak hanya menghidupi keluarganya dari hasil bertani. Usahanya turut membuka lapangan kerja bagi warga sekitar, menggerakkan ekonomi desa, dan menjadi contoh bahwa petani bisa mandiri dan berdaya.
Di tanah rantau, ia tidak hanya menanam tanaman, tetapi juga menanam nilai kerja keras, kemandirian, dan harapan.
Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak petani Indonesia, khususnya generasi muda, bahwa pertanian bukanlah profesi yang tertinggal. Dengan kemauan belajar, keberanian berinovasi, dan komitmen menjaga tanah, bertani justru menjadi fondasi ketahanan pangan bangsa.
Raja Dolok Silalahi mengajarkan kita bahwa menjadi petani bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk merawat kehidupan. Dari Jawa Barat, ia membuktikan bahwa di tangan petani yang tekun, tanah perantauan pun mampu menjadi sumber kesejahteraan dan kebanggaan.(S24-Dorman Manihuruk/AsenkLeeSaragih)


0Komentar