![]() |
| Publik Desak Kapolres Batang Hari Segera Ungkap Pembunuhan Pasutri Erlances Pakpahan–Eva Sibatuara di Bungku Batanghari. (IST) |
Batanghari, S24 - Kasus pembunuhan Erlances Pakpahan (42) dan Eva Sibatuara (31) kembali mencuat ke ruang publik dan menjadi ujian awal kepemimpinan Kapolres Batang Hari yang baru, AKBP Arya Tesa Brahmana, S.I.K.. Pasangan suami istri tersebut ditemukan tewas bersimbah darah di rumah mereka di Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, pada 25 September 2025, namun hingga kini belum ada pengungkapan resmi yang memberikan kepastian hukum.
Lebih dari empat bulan berlalu sejak peristiwa itu terjadi. Namun perkembangan penyidikan yang disampaikan kepada publik masih minim. Kondisi ini memunculkan kegelisahan masyarakat serta pertanyaan serius terkait keseriusan dan progres penanganan kasus pembunuhan berencana tersebut.
Usai prosesi Serah Terima Jabatan (Sertijab) Kapolres Batang Hari, Senin (12/1/2026), awak media secara langsung menyoroti kasus Erlances–Eva kepada Kapolres baru. Menanggapi pertanyaan tersebut, AKBP Arya menyatakan bahwa kasus pembunuhan pasutri di Bungku menjadi perhatian utama jajarannya.
“Kami telah memetakan kasus-kasus lama yang belum tuntas, termasuk kasus di Desa Bungku. Kasat Reskrim sudah saya perintahkan untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh dan percepatan penyelidikan,” tegas AKBP Arya.
Luka Sosial yang Belum Sembuh
Pembunuhan Erlances dan Eva tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga menjadi luka sosial bagi warga Desa Bungku dan sekitarnya. Peristiwa yang terjadi di lingkungan permukiman itu menimbulkan rasa takut, sekaligus ketidakpastian hukum yang hingga kini belum terjawab.
Minimnya informasi resmi dari aparat penegak hukum dalam waktu yang relatif panjang turut memperbesar ruang spekulasi di tengah masyarakat. Kondisi ini dinilai dapat menggerus kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian apabila tidak segera direspons dengan langkah konkret.
Kasus pasutri Bungku kini menjadi “tagihan moral” bagi kepemimpinan AKBP Arya Tesa Brahmana. Publik menilai, keberhasilan atau kegagalan pengungkapan kasus ini akan menjadi tolok ukur awal komitmen Polres Batang Hari dalam menegakkan hukum secara profesional, transparan, dan berkeadilan.
Rekam jejak AKBP Arya saat memimpin Polres Kerinci, yang berhasil meraih Juara I Kompolnas Awards 2025, menjadi harapan tersendiri bagi masyarakat Batang Hari. Penghargaan tersebut menilai kualitas pelayanan publik, integritas organisasi, dan tata kelola kepolisian yang baik.
Kini, publik berharap prestasi tersebut tidak berhenti pada simbol, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata, khususnya dengan mengungkap pembunuhan Erlances Pakpahan dan Eva Sibatuara hingga ke akar persoalan.
Publik Menunggu Langkah Nyata
Kapolres Batang Hari menegaskan kembali komitmennya untuk bekerja secara profesional dan akuntabel. Namun bagi masyarakat, komitmen itu perlu dibuktikan dengan perkembangan penyidikan yang jelas, penetapan tersangka, serta proses hukum yang transparan.
Kasus Erlances–Eva bukan sekadar catatan kriminal. Ia adalah ujian kredibilitas aparat penegak hukum. Publik kini menanti, akankah keadilan akhirnya hadir bagi dua nyawa yang terenggut di Bungku?
Masyarakat kini menanti langkah nyata dalam beberapa pekan mendatang, bukan hanya janji, tetapi percepatan proses hukum dan kejelasan perkembangan penyidikan. (S24-Red/AsenkLeeSaragih)


0Komentar