Sebagai Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN), pria kelahiran Surakarta, 5 November 1954 ini bukan sekadar birokrat yang menduduki jabatan strategis; ia adalah seorang dirigen yang sedang mengorkestrasi transisi historis pusat pemerintahan Indonesia. Perjalanan Basuki menuju puncak kepemimpinan di IKN merupakan sebuah narasi panjang tentang ketekunan yang bersahaja.
Lulusan UGM Lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menempa intelektualitasnya hingga meraih gelar master dan doktoral di Colorado State University, Amerika Serikat.
Namun, di balik kecemerlangan akademisnya, tersimpan kisah humanis yang menggugah. Basuki pernah menceritakan bagaimana ia berjibaku menaklukkan keterbatasan bahasa saat menempuh studi di negeri Paman Sam. Dengan cara yang sangat membumi, ia belajar kosa kata Bahasa Inggris melalui kemasan sampo di kamar mandi, sebuah fragmen hidup yang menunjukkan bahwa kebesaran seringkali dimulai dari ketelitian pada hal-hal kecil.
Setiap duduk nongkrong di kamar mandi itu saya baca apa itu yang namanya sampo, luxury shampoo, opo iki, mana adjective-nya, mana verb-nya," kenang Basuki dengan dialek khasnya yang jenaka namun penuh makna dalam sebuah acara ESG Lecture. Filosofi "belajar dari sampo" ini kemudian bertransformasi menjadi ketelitian luar biasa dalam mengelola anggaran dan desain infrastruktur raksasa di tanah air.
Dedikasi Basuki selama lebih dari tiga dekade di Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah membentuk karakternya menjadi sosok yang "lapangan banget". Panglima Infrastruktur Sejak dilantik sebagai Menteri PUPR pada tahun 2014 oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo, ia dikenal sebagai panglima infrastruktur yang tak segan berlumur debu demi memastikan jalan, bendungan, dan perumahan rakyat terbangun dengan presisi.
Kini, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, mandat tersebut mengalami eskalasi. Basuki dilantik sebagai Kepala Otorita IKN definitif pada 5 November 2024, sebuah tanggung jawab yang menempatkannya sebagai ujung tombak dalam merealisasikan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2025.
Bagi Basuki, IKN bukan sekadar proyek konstruksi, melainkan sebuah komitmen konstitusional yang sakral. Ia mencermati bahwa Presiden Prabowo telah mengikatkan diri secara politis dan hukum untuk menjadikan IKN sebagai wajah Indonesia di mata dunia.
Mengutip pandangan akademisi hukum tata negara Jimly Asshiddiqie, Basuki menegaskan bahwa keberlanjutan IKN adalah sebuah keniscayaan. "Beliau menyampaikan, artinya Pak Presiden sudah mengikatkan diri secara politis dan secara konstitusi bahwa yes IKN akan menjadi ibu kota negara," ujarnya dengan nada penuh keyakinan.
Gebrakan Basuki di Otorita IKN melampaui urusan teknis pembangunan fisik. Ia secara agresif mendorong skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) untuk mengamankan aliran investasi. Leading by Example Baginya, keterlibatan sektor swasta adalah instrumen vital untuk memastikan IKN menjadi kota yang mandiri dan kompetitif
Namun, yang paling menggugah dari profil seorang Basuki adalah integritasnya dalam memimpin melalui teladan atau leading by example. Sejak Maret 2025, ia memilih untuk menanggalkan kenyamanan ibu kota lama dan menetap di Rumah Tapak Jabatan Menteri di IKN.
Ia memilih tinggal di tengah hutan yang sedang bersolek, merasakan langsung setiap detak pembangunan, dan memastikan setiap kendala di lapangan mendapatkan solusi instan. Fokus sang maestro kini terarah tajam pada target 2028: menjadikan Nusantara sebagai ibu kota politik Indonesia yang paripurna.
Di tengah skeptisisme dan tantangan global, Basuki Hadimuljono tetap berdiri tegak dengan topi lusuhnya, memastikan bahwa janji pembangunan ini bukan sekadar fatamorgana di cakrawala Borneo. Ia sedang menulis sejarah, bukan dengan tinta, melainkan dengan aspal, beton dan dedikasi yang tak kunjung padam bagi kejayaan Nusantara. (S24/Red).


0Komentar