Gerakan ini merupakan bentuk protes terbuka dari gabungan organisasi mahasiswa kelompok Cipayung Plus terhadap kinerja Pemerintah Kota yang dinilai tidak memenuhi ekspektasi publik. #WALKOTPOMADEOUT
Pantauan di sejumlah titik, spanduk dengan latar merah-hitam yang mencolok membawa pesan “MENGGUGAT! RICO WAAS MUNDUR! #WALKOTPOMADEOUT”Tagar tersebut kini menjadi simbol gerakan mahasiswa untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka di ruang publik maupun digital.
Selain mendesak Wali Kota untuk meletakkan jabatan, spanduk tersebut juga secara spesifik menyoroti sejumlah pejabat teras di lingkungan Pemko Medan, termasuk Sekda Kota Medan, Kadis Perkim, Kasatpol PP & Kadispenda
Dalam narasi yang tertulis di spanduk, Aliansi Cipayung Plus Sumut menegaskan bahwa rezim kepemimpinan saat ini dianggap “Kaya Kontroversi Minim Prestasi”. Mereka menuntut agar para pejabat yang disebutkan tidak hanya mundur, tetapi juga diproses secara hukum melalui kalimat “Mundur & Adili Sampai Tuntas!".
Salah seorang aktivis dari aliansi tersebut menyatakan bahwa “Gerakan 1000 Spanduk” ini bukanlah akhir. Mereka mengklaim spanduk-spanduk ini akan terus bertambah hingga aspirasi mereka didengarkan dan ada perubahan nyata di Balai Kota.
Kehadiran spanduk-spanduk yang terpasang di tiang listrik hingga pagar pembatas jalan ini menarik perhatian besar dari pengguna jalan.
Publik menilai aksi ini sebagai sinyal kuat adanya ketidakharmonisan antara kaum intelektual muda dengan kebijakan Pemerintah Kota Medan saat ini.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Pemerintah Kota Medan maupun Wali Kota Rico Waas belum memberikan tanggapan resmi terkait gerakan masif yang dilakukan oleh Aliansi Cipayung Plus Sumut tersebut. (S24/Red).


0Komentar