Foto Ilustrasi. (JPO)

Jambi, S24 - Data pertumbuhan ekonomi Jambi sepanjang 2025 hanya mencapai 4,93 persen, masih berada di bawah nasional yang tumbuh 5,11 persen. Bahkan pada triwulan I-2025, ekonomi Jambi hanya tumbuh 4,55 persen, sedangkan nasional mencapai 4,87 persen. Ini menunjukkan bahwa sejak awal tahun, laju ekonomi Jambi memang tertinggal dibanding rata-rata nasional.

Hal itu diungkapkan Pengamat Ekonomi, Dr Noviardi Ferzi SE MM, menanggapi pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi yang masih berada di bawah rata-rata nasional bukan sekadar persoalan angka, melainkan tanda bahwa struktur ekonomi daerah belum sehat dan terlalu bergantung pada komoditas primer.

Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah struktur ekonomi Jambi yang masih terlalu bergantung pada sektor primer. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih mendominasi perekonomian Jambi dengan kontribusi mencapai 34,49 persen terhadap PDRB. 

Sementara sektor industri pengolahan yang seharusnya menjadi sumber nilai tambah baru hanya berkontribusi sekitar 9,77 persen. Kondisi ini membuat Jambi sangat bergantung pada harga sawit, batu bara, dan karet di pasar global. 

Disebutkan, ketergantungan yang tinggi terhadap sektor komoditas primer seperti sawit, batu bara, dan karet membuat ekonomi Jambi belum memiliki fondasi yang kuat untuk tumbuh lebih cepat dan berkelanjutan. Kondisi ini dinilai membuat Jambi rentan terhadap gejolak harga global serta belum mampu menciptakan nilai tambah besar bagi masyarakat dan daerah.

"Padahal secara nasional, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh investasi, konsumsi rumah tangga, industri pengolahan, transportasi, dan jasa. Investasi nasional atau Pembentukan Modal Tetap Bruto tumbuh 6,12 persen pada 2025, sementara industri pengolahan tetap menjadi motor utama pertumbuhan nasional. Di sinilah letak perbedaan Jambi dengan nasional, karena ekonomi daerah masih bertumpu pada ekspor bahan mentah, bukan industri bernilai tambah,"terangnya. 

Dijelaskan, pertumbuhan ekonomi Jambi yang masih berada di bawah rata-rata nasional memperkuat indikasi bahwa daerah ini belum memiliki mesin pertumbuhan baru yang kuat. Saat nasional mampu tumbuh di atas 5 persen karena ditopang industri pengolahan, investasi, hilirisasi, dan manufaktur, Jambi masih bertahan pada pola lama yang terlalu bergantung pada sawit, batu bara, dan karet. Akibatnya, ketika harga komoditas melemah atau produksi menurun, pertumbuhan ekonomi Jambi ikut tertahan dan sulit mengejar laju nasional.

Lebih jauh Noviardi Ferzi menilai pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi yang masih berada di bawah rata-rata nasional bukan sekadar persoalan angka, melainkan tanda bahwa struktur ekonomi daerah belum sehat dan terlalu bergantung pada komoditas primer.

Kata Noviardi, teori ekonomi pembangunan menjelaskan bahwa daerah yang terlalu bergantung pada sawit, batu bara, karet, dan hasil tambang cenderung sulit tumbuh tinggi secara berkelanjutan. Ketika harga komoditas naik, ekonomi daerah ikut tumbuh. Namun saat harga turun, pertumbuhan langsung melambat karena tidak ada sektor lain yang cukup kuat menopang ekonomi.

Ia menilai kondisi Jambi saat ini mendekati fenomena Dutch disease, yaitu situasi ketika booming sektor sumber daya alam justru membuat sektor lain seperti industri pengolahan, manufaktur, dan jasa modern tidak berkembang optimal.
Dr Noviardi Ferzi SE MM.

Dalam teori tersebut, keuntungan besar dari komoditas membuat investasi dan tenaga kerja lebih banyak masuk ke sektor tambang atau perkebunan, sementara sektor industri tertinggal. Akibatnya daerah memang tumbuh, tetapi tidak menghasilkan transformasi ekonomi yang kuat dan berjangka panjang.

Noviardi menambahkan, Jambi selama ini masih menikmati pertumbuhan dari ekspor bahan mentah, tetapi belum berhasil membangun rantai nilai industri yang panjang. Sawit masih banyak dijual dalam bentuk mentah, batu bara lebih banyak keluar daerah, sementara industri turunan yang bisa menciptakan lapangan kerja besar belum berkembang.

Padahal teori pertumbuhan wilayah menyebutkan bahwa daerah akan tumbuh lebih cepat jika memiliki pusat pertumbuhan baru atau growth pole, misalnya kawasan industri, sentra hilirisasi, kawasan logistik, atau pusat jasa modern yang mampu menciptakan efek berantai ke sektor lain.

“Jambi jangan terus puas menjadi daerah penghasil bahan mentah. Kalau hanya menjual sawit, karet, batu bara, dan hasil kebun tanpa industri pengolahan, maka nilai tambahnya akan terus lari ke provinsi lain. Jambi hanya dapat debu, sementara keuntungan besar dinikmati daerah yang punya pabrik dan industri,” ujar Noviardi.

Dr Noviardi Ferzi menilai langkah yang paling penting ke depan adalah mempercepat hilirisasi sawit, membangun industri turunan karet, memperkuat kawasan industri dan pergudangan, serta menarik investasi manufaktur agar Jambi tidak terus terjebak pada pola ekonomi lama yang rentan dan sulit tumbuh tinggi. Diversifikasi ekonomi menjadi penting agar pertumbuhan daerah tidak lagi hanya ditentukan oleh naik-turunnya harga komoditas dunia.(S24-AsenkLeeSaragih)