Medan, S24 - Perlawanan para majelis, pelayan dan jemaat atas rencana pengosongan paksa gedung Persekutuan Oikoumene Umat Kristen (POUK) Gereja Oikoumene Chapel USU makin panas pasca terbitnya surat resmi PGIW-Sumatera Utara dan Rektorat USU (Universitas Sumatera Utara untuk mengosongkan Gereja tersebut.

Rencana pengosongan paksa gedung POUK Gereja Oikoumene (Chapel USU) di Jalan Sumarsono No 66, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan yang berakibat terhadap pimpinan gereja, majelis dan jemaat memasuki babak baru dan terus disorot.

Rektorat USU yang turut terlibat dalam pengosongan paksa gedung gereja tersebut, diketahui setelah Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Infrastruktur dan Bisnis, Muhammad Anggia Muchtar mengirimkan surat resmi berlogo kampus USU.

Belum terungkap jelas apa motif dari Wakil Rektor, Muhammad Anggia Muchtar mengirimkan surat hingga tiga kali secara berkala kepada pimpinan gereja Oikoumene untuk mengosongkan gedung.

Diduga keras bahwa Wakil Rektor tersebut memiliki ‘sentimen’ agama terhadap golongan tertentu. Meskipun itu hanya dugaan, namun cara-cara demikian sangat mudah disimpulkan publik pada umumnya.

“Mengirim surat pengosongan gedung gereja secara paksa hingga tiga kali, ini sama saja memantik amarah dan perpecahan sesama umat beragama Kristen. Mohon kepada Rektorat USU lebih bijak dan beradab. Jangan berlindung dengan berjubahkan nama besar USU,” tegas Ketua Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumut, Dedy Maurutz Simanjuntak kepada wartawan, Sabtu (6/6/2026).

Dibalik Alasan Renovasi, Kursi Kepemimpinan Gereja Oikoumene Jadi Rebutan Elit

‎Seorang wanita sekaligus pimpinan gereja di gedung Persekutuan Oikoumene Umat Kristen (POUK) Gereja Oikoumene Universitas Sumatera Utara (USU), Pdt Gloria Iriany Balle, S.Th, M.Div terus diberondong hantaman keras secara membabi buta tanpa henti-henti.

Berbagai alibi maupun alasan yang cenderung ‘akal-akalan’ terus dilemparkan kepada Pdt. Gloria Iriany Balle demi untuk mendepaknya dari kursi kepemimpinan POUK Gereja Oikoumene Chapel USU.

Tidak tanggung-tanggung, yang ingin menyingkirkan Pdt. Gloria Iriany Balle bukan orang sembarangan, tetapi justru datang dari Ketua Umum PGI Wilayah Sumatera Utara Pdt. Dr. Viktor Tinambunan.

Memang tidak dilakukan secara serampangan menyingkirkan Pdt. Gloria, tetapi lewat lembaga resmi dilengkapi dengan tandatangan sakti dari lembaga yang dipimpinnya. Ketua Umum PGIW-SU, Viktor Tinambunan mengeluarkan surat resmi berlogo PGI nomor 101/B/PGIW-SU, teranggal 5 Juni 2025, perihal Keputusan Rapat MPH PGIW-SU.

Poin penting dalam surat dari Viktor Tinambunan yang diterima TRIBRATA TV, menyatakan, bahwa Pdt. Gloris Iriany Balle, S.Th., M.Div bukan Pendeta Tenaga Utusan Gereja (TUG) yang ditempatkan oleh PGIW-SU untuk melayani di Chapel Oikoumene USU.

Mirisnya lagi, Viktor menyebut bahwa Pdt Gloria tidak berhak menggunakan logo dan segala atribut yang terkait PGIW-SU. Hal ini sangat disayangkan, karena bukan justru meredam situasi atau menyejukkan umat, namun akan memicu terjadinya pertikaian sesama umat beragama.

Seakan sejalan dan kompak menyingkirkan Pdt. Gloria Iriany Balle, dan ditanggal yang sama, Rektorat USU melalui Wakil Rektor, Muhammad Anggia Muchtar juga mengeluarkan surat nomor 13984/UN5/WR4/R4/PL.02.02/2026, perihal Peringatan Ketiga Pengosongan Ruangan Gedung Chapel USU, tertanggal 5 Mei 2026.

Alasan penataan serta renovasi terhadap gedung Gereja Oikoumene tidak begitu mendesak dilakukan, Hasil penelusuran dilapangan, segi kualitas dan kuantitas bangunan masih sangat bagus. 

Bahkan, belum ada yang keropos atau tidak layak pakai, semua masih tertata utuh. Hal itu seirama oleh berbagai narasumber yang layak dipercaya menyebutkan, bahwa alasan untuk renovasi/revitalisasi hanya ‘akal-akalan’ sejumlah pihak yang punya niat lain.

Majelis dan Jemaat Kompak Melawan Diskriminasi dan Sewenang-wenang para Elit

‎Sebagai bentuk perlawanan terhadap oknum-oknum yang belakangan ini telah mencoba merongrong dan melakukan tindakan dugaan tak manusiawi, intimidatif dan kesewenang-wenagan terhadap pelayanan di POUK Gereja Oikoumene Chapel USU, para pelayan, majelis dan Jemaat gereja menyampaikan pernyatan sikap tegas.

Bentuk tindakan dugaan tak manusiawi, intimidatif dan kesewenang-wenangan tersebut antara lain, “memaksa” mengosongkan dan menutup gedung gereja dengan memasang seng, digembok dan spanduk pelarangan beribadah dengan dalih renovasi dan revitalisasi.

PERNYATAAN SIKAP MAJELIS DAN JEMAAT GEREJA OIKOUMENE CHAPEL USU MEDAN

‎Shalom, Kami dari Jemaat Pouk Chapel USU Gereja Oikoumene menyatakan:

1. Tetap Mendukung ibu Pendeta Gloria I Balle, S.Th, M.Div sebagai Tenaga Utusan Gereja di Pouk Chapel USU Gereja Oikoumene ini.

2. POUK Chapel USU Gereja Oikoumene merupakan Gereja dibawah binaan PGI Wilayah Sumatera Utara.

3. Kami tetap beribadah di POUK Chapel USU Gereja Oikoumene, Jalan Dr. Sumarsono No 66, Medan. Tuhan Yesus Memberkati, Shalom.

Janggal Munculnya Pengurus PIWK Baru Diduga Tak Sesuai AD/ART

‎Melalui proses panjang, rektorat USU pada tahun 1986 di bawah kepemimpinan Prof Dr. A.P. Parlindungan, SH resmi mengeluarkan SK penetapan lahan seluas 750² bagi Persekutuan Iman Warga Kristen (PIWK) Kampus USU dengan status hak pakai masih berkekuatan hukum, diperuntukkan khusus aktivitas kerohanian.

Menurut jemaat, konflik tersebut murni bermula dari masalah mandeknya regenerasi kepengurusan majelis yang mayoritas profesor pendiri yang kini telah lanjut usia.

Niatnya untuk meregenerasi struktural pengurus harian tetapi, justru berujung penolakan penahbisan oleh majelis yang lama.

Situasi kian meruncing ketika majelis baru secara sepihak membawa masalah ke ranah rektorat USU. Puncaknya, gereja ditutup paksa menggunakan seng dengan dalih renovasi dan revitalisasi, meski tidak memiliki urgensi perbaikan gedung.

Pihak gereja menyoroti kejanggalan, muncul Ketua PIWK baru tanpa melalui mekanisme AD/ART yang jelas, dan menegaskan legalitas pendeta yang sudah 20 tahun melayani di gereja sah melalui penugasan dari sinode asal maupun PGI.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Umum PGI Wilayah Sumatera Utara, Pdt Dr Viktor Tinambunan tidak menjawab pertanyaan wartawan, tampak hanya centang satu. Ketika ditelepon via WhatsApp hanya muncul tulisan dilayar memanggil. Tim redaksi terus berupaya mengonfirmasi Ketua Umum PGIW-SU dan rektorat USU untuk menghadirkan berita berimbang. (S24/Red).