![]() |
| Kontingen Pesparawi SM GKPS Resort Cililitan. (Foto FB Manria Purba) |
St. Agus Juvenly Purba: Sang Maestro yang Menanam Nada, Iman, dan Keteladanan di Hati Generasi GKPS
Jakarta, S24-Kontingen Pesparawi Sekolah Minggu GKPS Resort Cililitan terasa kurang lengkap tanpa kehadiran St. Agus Juvenly Purba. Namun apa boleh buat, Sang Maestro Simalungun dan GKPS itu telah berpulang pada Mei 2026 lalu.
Bagi warga jemaat GKPS Resort Cililitan, nama St. Agus Juvenly Purba bukan sekadar nama seorang sintua atau pelayan gereja. Ia adalah sosok yang selama bertahun-tahun mengabdikan tenaga, pikiran, waktu, bahkan sebagian besar hidupnya untuk membangun pelayanan, membina generasi muda, dan menghidupkan semangat bermusik serta bernyanyi dalam gereja.
Kepergiannya pada Mei 2026 meninggalkan duka yang mendalam. Bukan hanya karena kehilangan seorang pelayan, tetapi karena kehilangan seorang pribadi yang telah menjadi bagian dari perjalanan iman banyak orang.
Pesparawi kali ini menghadirkan banyak kenangan. Ada kebahagiaan melihat anak-anak tampil, ada rasa syukur menyaksikan proses pembinaan yang terus berlanjut, tetapi juga ada ruang kosong yang begitu terasa. Ruang yang biasanya diisi oleh sosok yang selalu hadir dengan perhatian, masukan, dan semangatnya.
Ketika anak-anak kita hari ini bisa merasakan apa yang pernah kita rasakan di usia mereka, sesungguhnya proses regenerasi sedang berlangsung. Nilai-nilai yang baik sedang diwariskan. Proses duplikasi itu terjadi secara alami, berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, untuk hal-hal yang baik mari terus kita lanjutkan. Dan untuk hal-hal yang kurang baik, marilah kita akhiri bersama.
"O Bang Agus Juvenly Purba...biasanya setelah acara seperti ini kita akan duduk bersama dan berbincang panjang lebar. Membahas banyak hal, mulai dari keberhasilan acara, kekurangan yang perlu diperbaiki, hingga hal-hal kecil yang selalu mampu membuat kita tertawa bersama. Kini momen itu tak ada lagi," tulis Manria Purba membagikan kenangan lewat akun facebooknya.
"Minggu lalu di GPIB, tanpa terasa air mata ini menetes. Saat itu saya benar-benar merasakan kehilangan yang begitu dalam. Bang, ada Sora dan Marvel. Mereka berhasil meraih Juara III. Kami sangat bahagia. Saya masih ingat bagaimana abang pernah mengatakan bahwa Marvel dan Sora sebaiknya mengikuti audisi. Saat itu ada Tulang Roi Josen Purba juga. Syukur ada kesempatan audisi kedua, dan akhirnya mereka bisa menunjukkan kemampuan terbaik mereka,"cerita Manria Purba, yang juga dinobatkan sebagai MC pada Pesparawi SM GKPS Distrik VII, Sabtu 20 Juni 2026 .
Kata Manria Purba, ekspresi Sora begitu hidup saat tampil. Marvel pun tampil penuh semangat. Itu pengalaman pertama mereka mengikuti ajang seperti ini. Bahkan ketika diumumkan sebagai pemenang, mereka menangis haru karena begitu bahagia.
![]() |
"Masih banyak yang ingin kami ceritakan, Bang. Perayaan UEM pun berjalan sukses. Banyak orang hebat yang bekerja dengan dedikasi luar biasa. Nanggi Anne Purba, Kian Triadil Saragih, Erida Manalu, Jhane Madly Cova Saragih, Tulang Roi Josen Purba, dan banyak lagi yang memberikan tenaga, pikiran, serta talenta terbaik mereka," ujar Manria Purba.
"Roi Josen Purba memiliki dedikasi yang luar biasa. Bakatnya begitu besar. Mungkin dialah salah satu sosok yang dapat melanjutkan semangat dan perjuangan yang pernah abang wariskan. Semoga Tuhan memberikan kesehatan dan umur panjang kepadanya,"tambah Manria Purba.
Koor gabungan GKPS juga menunjukkan semangat yang menyala demi menyukseskan acara tersebut. Semua itu menjadi bukti rasa hormat dan cinta kepada abang.
"Pesparawi kali ini saya jalani sendiri, Bang. Rasanya lelah. Menjadi MC tunggal untuk kategori koor dan vocal group bukan perkara mudah. Namun syukur kepada Tuhan, semuanya dapat berjalan dengan baik. Bang...Damailah dalam keabadianmu. Kerinduan ini tak memiliki obat penawar. Siholan na lang dong tambarni. Kerinduan yang hanya dapat dinikmati bersama air mata yang diam-diam mengalir. Selamat beristirahat dalam damai, Bang Agus Juvenly Purba. Warisan keteladanan, dedikasi, dan cintamu bagi pelayanan akan tetap hidup dalam hati kami, serta dalam setiap langkah generasi yang kau bina," terang Manria Purba.
Keteladanan di Hati Generasi GKPS
Ada orang yang hadir dalam kehidupan sebuah jemaat sebagai pelayan. Ada yang hadir sebagai pemimpin. Ada pula yang hadir sebagai sahabat. Namun hanya sedikit yang mampu menjadi ketiganya sekaligus dan meninggalkan jejak yang sulit tergantikan.
Bagi warga jemaat GKPS Resort Cililitan, nama St. Agus Juvenly Purba bukan sekadar nama seorang sintua atau pelayan gereja. Ia adalah sosok yang selama bertahun-tahun mengabdikan tenaga, pikiran, waktu, bahkan sebagian besar hidupnya untuk membangun pelayanan, membina generasi muda, dan menghidupkan semangat bermusik serta bernyanyi dalam gereja.
Kepergiannya pada Mei 2026 meninggalkan duka yang mendalam. Bukan hanya karena kehilangan seorang pelayan, tetapi karena kehilangan seorang pribadi yang telah menjadi bagian dari perjalanan iman banyak orang.
Bagi mereka yang pernah bekerja bersama almarhum, satu hal yang paling mudah diingat adalah kehadirannya. Ia hadir ketika gereja membutuhkan tenaga. Ia hadir ketika anak-anak membutuhkan pembimbing. Ia hadir ketika panitia membutuhkan pemikir.
Ia hadir ketika paduan suara membutuhkan pelatih. Dan ia hadir ketika seseorang hanya membutuhkan teman berbicara.
Dalam banyak kegiatan gerejawi, nama Agus Juvenly Purba hampir selalu menjadi bagian dari cerita sukses sebuah acara. Ia bukan tipe pelayan yang mencari sorotan. Justru sebaliknya, ia lebih sering ditemukan bekerja di belakang layar, memastikan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Namun justru dari tempat yang tidak terlihat itulah pengaruhnya menjadi begitu besar.
Sosok yang Selalu Hadir dan Maestro yang Melahirkan Generasi
Di lingkungan GKPS, khususnya dalam pelayanan musik gerejawi dan Pesparawi, almarhum dikenal sebagai sosok yang memiliki kepekaan musikal yang luar biasa. Tidak sedikit anak-anak, remaja, dan pemuda yang pertama kali mendapatkan kepercayaan untuk tampil karena dorongan darinya.
Ia mampu melihat potensi bahkan ketika orang lain belum melihatnya. Banyak yang masih mengingat bagaimana ia mendorong anak-anak untuk mengikuti audisi, melatih mereka dengan sabar, memberikan koreksi tanpa menjatuhkan semangat, dan mengajarkan bahwa pelayanan bukan hanya tentang menang atau kalah, melainkan tentang memberikan yang terbaik bagi Tuhan.
Ketika seorang anak akhirnya berdiri di atas panggung dan menerima penghargaan, sesungguhnya ada jejak tangan seorang pembina yang selama ini bekerja diam-diam di belakang mereka.
Jejak Itu adalah Agus Juvenly Purba.
Hari ini mungkin sebagian anak-anak yang pernah ia bimbing belum sepenuhnya memahami betapa besar pengaruhnya dalam perjalanan mereka. Namun suatu hari nanti mereka akan mengerti bahwa keberanian mereka tampil, semangat mereka melayani, dan kecintaan mereka terhadap pelayanan musik gereja tidak lahir begitu saja.
Semua itu tumbuh dari benih yang pernah ditanam oleh seorang pembina yang percaya kepada mereka. Ketika Pesparawi menjadi ruang regenerasi. Bagi Agus Juvenly Purba, Pesparawi bukan sekadar perlombaan.
Pesparawi adalah ruang pembentukan karakter. Tempat anak-anak belajar disiplin. Tempat remaja belajar bertanggung jawab. Tempat generasi muda belajar bekerja sama. Dan tempat gereja mempersiapkan masa depannya.
Karena itulah setiap kegiatan Pesparawi selalu ia jalani dengan sungguh-sungguh. Ia memahami bahwa yang sedang dipersiapkan bukan hanya penampilan di atas panggung, tetapi generasi penerus gereja.
Hari ini, ketika anak-anak Sekolah Minggu GKPS mulai meraih prestasi dan tampil percaya diri, sesungguhnya proses regenerasi yang pernah ia impikan sedang berlangsung.
Warisan itu hidup. Warisan itu bertumbuh. Warisan itu sedang berjalan. Pribadi yang dicintai karena ketulusannya. Banyak orang dihormati karena jabatannya. Banyak orang dikenang karena prestasinya.
Namun Agus Juvenly Purba dikenang karena ketulusannya. Ia mampu menjalin hubungan dengan berbagai kalangan tanpa membedakan usia maupun latar belakang.
Anak-anak merasa nyaman berada di dekatnya. Kaum muda menghormatinya. Rekan pelayanan mempercayainya. Para orang tua menghargainya. Ia memiliki kemampuan langka untuk membuat orang merasa didengar dan dihargai.
Dalam dunia yang semakin sibuk dan individualistis, kualitas seperti itu menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Kehilangan yang Sulit Digantikan
Setelah kepergiannya, banyak orang mulai menyadari bahwa ada ruang besar yang kosong. Bukan karena tidak ada lagi orang-orang hebat di sekitar gereja. Melainkan karena setiap orang memiliki tempat yang unik.
Dan tempat yang selama ini diisi Agus Juvenly Purba tidak mungkin digantikan sepenuhnya oleh siapa pun. Ada percakapan-percakapan yang kini hanya tinggal kenangan. Ada diskusi panjang setelah acara selesai yang kini tidak lagi terjadi.
Ada tawa yang kini hanya tersimpan dalam ingatan. Ada nasihat yang kini hanya bisa dikenang. Kerinduan seperti itu tidak memiliki obat. Namun kerinduan juga menjadi bukti bahwa seseorang pernah hidup dengan sangat berarti bagi orang lain.
Dalam iman Kristen, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Tubuh boleh beristirahat, tetapi pengaruh hidup seseorang dapat terus berjalan jauh setelah ia meninggalkan dunia.
Warisan terbesar Agus Juvenly Purba bukanlah jabatan. Bukan pula penghargaan. Melainkan manusia-manusia yang pernah disentuhnya. Anak-anak yang kini berani bernyanyi.
Pemuda yang kini berani melayani. Pelayan yang kini berani memimpin. Dan jemaat yang kini memahami arti dedikasi.
Selama masih ada generasi yang melanjutkan nilai-nilai tersebut, selama masih ada pelayanan yang dijalankan dengan semangat yang sama, selama masih ada orang yang memilih melayani dengan tulus seperti yang pernah ia contohkan, maka sesungguhnya Agus Juvenly Purba belum benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam karya yang ditinggalkannya.
Sebuah Penghormatan
Untuk warga jemaat GKPS Resort Cililitan, mengenang St. Agus Juvenly Purba bukan hanya tentang mengingat masa lalu. Mengenangnya berarti melanjutkan apa yang telah ia mulai.
Membina generasi muda. Mencintai pelayanan. Mengutamakan kebersamaan. Menjaga semangat bergereja. Dan bekerja dengan ketulusan tanpa mengharapkan pujian.
Karena pada akhirnya, ukuran kehidupan seseorang bukanlah seberapa lama ia hidup, melainkan seberapa banyak kebaikan yang ia tinggalkan. Selamat beristirahat dalam damai, St. Agus Juvenly Purba.
Nada-nada pelayananmu mungkin telah berhenti terdengar di dunia ini, tetapi gema keteladananmu akan terus bergema di hati jemaat GKPS Resort Cililitan, dari generasi ke generasi. "Orang benar dikenang karena berkat yang ditinggalkannya." (Amsal 10:7)
Horas, Bang Agus. Namamu akan tetap hidup dalam kenangan, pelayanan, dan kasih yang pernah kau tanam di tengah jemaat.
Pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Sekolah Minggu GKPS Distrik VII Tahun 2026 dilaksanakan di Gedung Smesco Jakarta, Sabtu 20 Juni 2026. Hadir juga Pimpinan Sinode Ephorus dan Sekjen GKPS Pdt DR Jhon Criatian Saragih dan Pdt Dr. Janhotner Saragih dan Praeses GKPS Distrik VII Pdt Jan Kris Sinaga. Pesparawi SM GKPS Distrik VII diikuti wilayah Lampung, Pulau Jawa, Bali, Kalimantan.
Ada tiga kategori pada Pesparawi Sekolah Minggu GKPS Distrik VII Tahun 2026 ini, yakni Lagu Paduan Suara (Koor) "Marbanggal Ibagas Tuhan" Ciptaan Pdt. Henki Arapan Simarmata dan lagu Vokal Group "SAI HOBAS" Ciptaan Pdt Ito Belihar Purba. Dan lomba "Marturiturian Bibel " (Bercerita Alkitab).
Paduan suara hanya diikuti 9 kontingen dari 18 Resort di wilayah GKPS Distrik VII. Sementara peserta vokal group hanya 11 kontingen. Sedangkan peserta Lomba Marturiturian sebanyak belasan peserta.
Pesparawi bukan sekadar perlombaan bernyanyi rohani, melainkan wadah pembinaan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi masa depan gereja. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak belajar membangun kerja sama, disiplin, dan rasa tanggung jawab sebagai bagian dari pelayanan gereja.
Hasil Juara Pesparawi SM GKPS Distrik VII di Jakarta, Sabtu 20 Juni 2026
Koor (Paduan Suara):
Juara I: GKPS Resort Salemba
Juara II: GKPS Resort Cikoko
Juara III: GKPS Resort Cililitan
Juara Harapan I: GKPS Resort Cibubur
Vokal Group:
Juara I: GKPS Resort Salemba
Juara II: GKPS Resort Cililitan
Juara III: GKPS Resort Depok
Juara Harapan I: GKPS Resort Bandung
Lomba Marturiturian Bibel (Bible Story Telling)
Juara I: GKPS Resort Bekasi (Misura Siregar)
Juara II: GKPS Resort Cililitan (Veno Sinaga)
Juara III: GKPS Resort Depok (Michele Tarigan)
Juara Harapan I: GKPS Resort Bandung (Abraham Saragih).
(AsenkLeeSaragih)
Galeri Foto Kontingen Pesparawi SM GKPS Resort Cililitan dikutip dari FB Manria Purba.
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

0Komentar