Nahum Situmorang. 

Sipirok, S24- Nahum Situmorang lahir pada tanggal 14 Februari 1908 di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Ia adalah putra dari Guru Kilian Situmorang dan merupakan anak ke-5 dari 8 bersaudara.

Tanggal kelahirannya sangat bagus 14 Februari, pas hari Valentine. sosok yang kemudian dikenal sebagai salah satu maestro terbesar pencipta lagu Batak. Tulisan ini adalah momentum bagi saya dan masyarakat Batak lainnya untuk mengenang lahirnya seorang seniman yang memberikan perhatian lewat lagu-lagu Batak yang indah.

Nahum Situmorang menciptakan banyak lagu yang menjadi warisan budaya, seperti "Anakkon Hi Do Hamoraon di Au", "Pulo Samosir", "O Tao Toba", "Aut Boi Nian", dan "Lisoi". Karya-karyanya tidak hanya menghibur, tetapi juga merekam nilai kehidupan orang Batak, kasih orang tua, kerinduan terhadap kampung halaman, perjuangan hidup, dan kecintaan terhadap budaya.

Nahum Situmorang: lahir membawa talenta, hidup mencipta karya, dan namanya abadi dalam setiap lagu Batak yang terus dinyanyikan sepanjang zaman.

Di antara ribuan nama besar dalam sejarah budaya Batak, sosok inilah yang namanya tidak pernah lekang oleh waktu. Ia bukan hanya seorang pencipta lagu, tetapi seorang memberikan identitas kepada semua orang Batak. Dialah Nahum Situmorang, seorang maestro yang membuat bahasa Batak terus bernyanyi dari generasi ke generasi.

Bagi banyak orang Batak, lagu-lagu Nahum Situmorang bukan sekadar hiburan. Setiap baitnya membawa cerita tentang kerinduan kepada kampung halaman, kasih orang tua, cinta, persahabatan, keindahan alam Danau Toba, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat Batak.

Nahum Situmorang, sejak kecil, ia hidup dalam lingkungan budaya Batak yang kaya akan tradisi, musik, dan sastra lisan. Pendidikan dan pengalaman hidupnya membentuk dirinya menjadi seorang seniman yang memiliki kepekaan luar biasa terhadap kehidupan masyarakat. Ia dikenal sebagai pribadi yang sederhana, tetapi memiliki pemikiran besar. 

Dengan kemampuan musikal dan kecintaan terhadap budaya Batak, Nahum menciptakan karya-karya yang mampu menyentuh hati banyak orang. Pada masa ketika teknologi rekaman belum berkembang seperti sekarang, lagu-lagunya menyebar dari mulut ke mulut, dinyanyikan di rumah, gereja, sekolah, pesta adat, hingga berbagai panggung budaya.

Karyanya Jadi Warisan Abadi

Nahum Situmorang meninggalkan ratusan karya yang hingga kini masih hidup. Beberapa lagu terkenalnya antara lain, Aut Boi Nian, Anakkon Hi Do Hamoraon di Au, Ketabo, Nunga Loja Au, Pulo Samosir, O Tao Toba, Lisoi, dsb.

Misalnya, lagu “Anakkon Hi Do Hamoraon di Au” menggambarkan filosofi Batak bahwa anak adalah kekayaan terbesar dalam kehidupan. Lagu ini tidak hanya populer, tetapi juga menjadi cermin nilai budaya Batak tentang perjuangan orang tua mendidik dan membesarkan anak.

Sementara lagu “Pulo Samosir” menggambarkan rasa cinta dan kerinduan terhadap tanah leluhur di sekitar Danau Toba. Lagu tersebut membuat banyak orang yang merantau kembali mengingat akar budaya mereka.

Kehebatan Nahum Situmorang bukan hanya terletak pada melodi yang indah. Lebih dari itu, ia mampu memasukkan jiwa Batak ke dalam setiap karya.

Ia memahami bahwa lagu adalah cara untuk menyimpan sejarah. Ketika seseorang menyanyikan lagu Nahum Situmorang, sebenarnya ia sedang menghidupkan kembali nilai-nilai, menghormati orang tua, mencintai kampung halaman, menjaga persaudaraan, bekerja keras dalam dimanapun berada, dan tetap mengingat asal-usul (kampung halaman). Karena itulah karya Nahum tidak pernah mati. Lagu-lagunya menjadi jembatan antara generasi tua dan generasi muda.

Banyak penyanyi dan musisi Batak modern terinspirasi oleh karya Nahum Situmorang. Namanya menjadi fondasi penting dalam perkembangan musik Batak, sama seperti para maestro lain yang menjaga kekayaan budaya Indonesia melalui seni.

Di tengah perkembangan musik modern, lagu-lagu Nahum tetap memiliki tempat istimewa. Aransemen boleh berubah, alat musik boleh berkembang, tetapi pesan dan nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan.

Nahum Situmorang telah meninggalkan dunia pada tahun 1969, tetapi karyanya masih hidup hingga hari ini. Ia membuktikan bahwa seorang seniman tidak diukur dari berapa lama ia hidup, tetapi dari seberapa lama karyanya mampu menyentuh manusia.

Puluhan tahun berlalu, namun ketika lagu ciptaannya terdengar, masyarakat Batak masih merasakan hal yang sama: rasa bangga menjadi bagian dari sebuah budaya yang kaya dan penuh makna.
Nahum Situmorang bukan hanya pencipta lagu.

Ia adalah suara hati orang Batak. Ia adalah suara penyimpan kenangan bangso Batak. Ia adalah legenda yang terus bernyanyi sepanjang masa. Horas!(S24-Riduan Sirait-FB)