Karo, S24- Sebanyak 209 siswa dari sejumlah sekolah di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dilaporkan mengalami dugaan keracunan setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (13/8/2026). Data tersebut merupakan laporan sementara dari sejumlah fasilitas kesehatan yang menangani para korban.

Para siswa yang terdampak berasal dari SMA Negeri 1 Berastagi, SMK Bersama Berastagi, SMP Bersama Berastagi, SMP Negeri 1 Berastagi, serta satu sekolah dasar yang identitasnya masih belum diketahui.

Meski jumlah korban mencapai ratusan orang, belum ada laporan korban meninggal dunia. Para korban saat ini menjalani penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan. Sebagian di antaranya dilaporkan mulai menunjukkan kondisi stabil.

Berdasarkan data sementara, distribusi korban yang mendapatkan perawatan adalah sebagai berikut:

RSU Amanda: 69 orang
RSU Kabanjahe: 28 orang
RSU Efarina: 92 orang
Klinik Yoreskita: 10 orang
Puskesmas Berastagi: 10 orang

Dengan demikian, total sementara korban yang tercatat mencapai 209 orang. 

Ratusan Siswa Terdampak, Satu Dapur SPPG Jadi Sorotan

Kasus ini menjadi perhatian serius karena para korban berasal dari beberapa satuan pendidikan, namun terdapat dugaan bahwa makanan MBG yang dikonsumsi para siswa tersebut berasal dari satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Kesamaan sumber makanan tersebut menjadi salah satu aspek penting yang perlu segera ditelusuri untuk mengetahui penyebab munculnya keluhan kesehatan secara bersamaan.

Namun demikian, dugaan tersebut belum dapat disebut sebagai penyebab pasti keracunan sebelum dilakukan pemeriksaan dan investigasi oleh pihak berwenang. Sampel makanan, bahan baku, proses pengolahan, distribusi, hingga kondisi dapur SPPG perlu diperiksa secara menyeluruh.

Kasus dengan jumlah korban mencapai ratusan siswa ini juga menimbulkan pertanyaan serius mengenai pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG, terutama pada tahapan pengolahan, penyimpanan, pengemasan dan distribusi makanan kepada peserta didik.

Investigasi Menjadi Kunci

Penanganan tidak cukup berhenti pada pemberian pelayanan medis kepada para korban. Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu memastikan penyebab kejadian secara ilmiah dan transparan.

Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi siswa, air, bahan makanan, serta sampel lain yang relevan menjadi bagian penting dalam proses investigasi. Selain itu, kondisi kesehatan para korban dan pola gejala yang dialami juga perlu dicatat untuk membantu memastikan apakah kejadian tersebut benar berkaitan dengan makanan MBG yang sama.

Apabila nantinya hasil pemeriksaan membuktikan adanya kontaminasi pada makanan, maka harus ditelusuri di titik mana kontaminasi terjadi, apakah pada bahan baku, proses memasak, penyimpanan, pengemasan, maupun saat distribusi.

Hal ini penting bukan hanya untuk menentukan penyebab kejadian, tetapi juga untuk mencegah kasus serupa kembali terjadi.

Keselamatan Siswa Harus Menjadi Prioritas

Program MBG dirancang untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik. Karena itu, aspek keamanan dan kualitas makanan tidak boleh menjadi bagian yang terabaikan.

Kasus dugaan keracunan massal di Berastagi menjadi alarm bahwa setiap rantai penyediaan makanan untuk siswa harus memiliki standar pengawasan yang ketat. Ketika satu sumber makanan diduga berkaitan dengan ratusan siswa yang mengalami gangguan kesehatan, evaluasi terhadap sistem pengadaan dan distribusi menjadi sesuatu yang tidak bisa ditunda.

Untuk sementara, jumlah 209 korban masih merupakan data sementara dan dapat berubah seiring pendataan serta pemeriksaan lebih lanjut. Tidak adanya korban jiwa hingga saat ini patut disyukuri, namun kondisi para siswa tetap harus mendapatkan perhatian dan pemantauan medis sampai benar-benar dinyatakan pulih.

Pihak berwenang juga perlu menyampaikan perkembangan kasus secara terbuka kepada masyarakat, khususnya kepada para orang tua siswa, agar tidak muncul informasi simpang siur di tengah kekhawatiran yang sedang berkembang.

Catatan: Informasi mengenai dugaan keterkaitan seluruh korban dengan satu dapur SPPG dalam laporan ini masih bersifat dugaan berdasarkan data awal dan menunggu hasil pemeriksaan resmi dari pihak berwenang.(S24-Red)