Oleh: Dr Wilmar Eliaser Simandjorang
Samosir-Kisah Mahabharata bukan sekadar cerita epik tentang peperangan antara Pandawa dan Kurawa. Di balik konflik keluarga besar tersebut terdapat refleksi mengenai kekuasaan, kepemimpinan, keserakahan, tanggung jawab, keadilan, serta pilihan moral manusia ketika berhadapan dengan kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.
Meski berasal dari ribuan tahun silam, nilai-nilai yang terkandung dalam Mahabharata masih relevan untuk dibaca dalam konteks kehidupan modern. Persoalan mengenai perpecahan, perebutan kepentingan, ketidakadilan dan krisis kepemimpinan tetap menjadi bagian dari dinamika masyarakat hingga hari ini.
Dalam perspektif itu, keruntuhan Hastinapura dapat dipandang sebagai simbol bagaimana sebuah tatanan dapat kehilangan arah ketika kepentingan pribadi dan kelompok ditempatkan di atas kepentingan bersama.
Sebaliknya, karakter Pandawa menghadirkan gambaran tentang pentingnya integritas, keberanian, tanggung jawab dan kesediaan menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas ambisi pribadi.
Salah satu pelajaran penting dari Mahabharata adalah mengenai persatuan. Perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam keluarga, organisasi, lingkungan kerja maupun masyarakat. Namun, perbedaan tidak semestinya berubah menjadi permusuhan.
Keruntuhan Hastinapura dalam kisah Mahabharata dapat dibaca sebagai peringatan bahwa ego yang tidak terkendali berpotensi menghancurkan hubungan dan tatanan yang sebelumnya dibangun bersama.
Dalam kehidupan masa kini, semangat musyawarah menjadi penting untuk menjaga agar perbedaan tidak berkembang menjadi perpecahan.
Kemenangan sebuah kelompok tidak akan memiliki arti apabila kemenangan tersebut justru meninggalkan konflik dan merusak persatuan. Karena itu, kepentingan bersama semestinya menjadi titik temu dalam setiap proses pengambilan keputusan.
Memilih Pemimpin, Memilih Arah Masa Depan
Pelajaran kedua berkaitan dengan kepemimpinan. Mahabharata menghadirkan dua karakter yang kerap dipertentangkan: Duryudana dan Yudistira. Keduanya dapat dibaca sebagai simbol dari dua orientasi kepemimpinan yang berbeda.
Duryudana digambarkan memiliki ambisi kekuasaan yang kuat, sementara Yudistira dikenal sebagai sosok yang mengedepankan kejujuran, keadilan dan kebijaksanaan.
Dalam konteks kehidupan modern, perbandingan tersebut bukan semata-mata soal memilih tokoh tertentu. Lebih jauh, ia menjadi ajakan untuk menilai karakter dan kapasitas seseorang sebelum memberikan kepercayaan kepemimpinan.
Pemimpin tidak cukup hanya memiliki popularitas atau kemampuan membangun citra. Seorang pemimpin membutuhkan setidaknya tiga fondasi utama.
Pertama, integritas, yakni keteguhan memegang nilai kebenaran dan tidak mudah mengorbankan prinsip demi kepentingan sesaat. Kedua, kapasitas, yaitu kemampuan memahami persoalan, memiliki visi serta menerjemahkan gagasan menjadi pekerjaan nyata.
Ketiga, pengabdian, yakni kesediaan menempatkan jabatan sebagai amanah untuk melayani, bukan sebagai sarana untuk dilayani.
Dari perspektif tersebut, memilih pemimpin pada hakikatnya bukan hanya memilih seseorang untuk menduduki jabatan. Pilihan itu sekaligus menentukan arah perjalanan sebuah organisasi, komunitas atau masyarakat.
Belajar dari Arjuna: Fokus pada Tanggung Jawab
Mahabharata juga menghadirkan pelajaran mengenai pentingnya fokus dan tanggung jawab melalui tokoh Arjuna. Dalam kisah Bhagawad Gita, Arjuna mengalami kebimbangan ketika berhadapan dengan situasi perang yang kompleks. Melalui dialognya dengan Krishna, ia diingatkan mengenai kewajiban dan tanggung jawabnya.
Nilai tersebut dapat ditarik ke kehidupan modern, terutama ketika manusia menghadapi derasnya informasi dan berbagai distraksi di era digital.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk berbicara, tetapi juga kemampuan untuk menentukan prioritas.
Fokus pada pendidikan, pekerjaan, pelayanan publik, lingkungan, keluarga dan tanggung jawab sosial menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan yang lebih baik.
Dalam konteks ini, energi masyarakat seharusnya tidak habis untuk saling menyalahkan. Energi tersebut perlu diarahkan untuk memperbaiki keadaan.
Dari Perang Mahabharata ke "Perang Kosmik"
Gagasan tentang kepemimpinan dan tanggung jawab kemudian dapat diperluas melalui konsep yang disebut sebagai "Perang Kosmik", yakni pertarungan moral antara kebenaran dan kebohongan, antara keadilan dan kesewenang-wenangan, serta antara kepedulian dan keserakahan.
Perang tersebut tidak berlangsung di medan tempur sebagaimana perang dalam kisah Mahabharata. Ia berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, ketika manusia dihadapkan pada pilihan untuk membela kebenaran atau membiarkan ketidakadilan.
Keserakahan, misalnya, tidak hanya berdampak pada hubungan antarmanusia. Dalam perspektif lingkungan, keserakahan dapat berujung pada eksploitasi sumber daya alam dan kerusakan ekosistem.
Karena itu, menjaga keadilan dan menjaga alam dapat dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab manusia terhadap kehidupan.
Keselamatan pun tidak semestinya dipahami hanya sebagai keselamatan individual. Keselamatan memiliki dimensi yang lebih luas: manusia yang terbebas dari penindasan, tatanan sosial yang menjunjung keadilan, serta lingkungan yang tetap mampu menopang kehidupan.
Dari Musa, Nehemia dan Ester hingga Tanggung Jawab Masa Kini
Dalam tradisi keagamaan, sejarah juga mengenal tokoh-tokoh yang digambarkan berani mengambil tanggung jawab pada masa krisis.
Musa menjadi simbol keberanian menghadapi kekuasaan. Nehemia dikenang karena upayanya membangun kembali sesuatu yang runtuh. Ester tampil sebagai figur yang berani bersuara demi keselamatan bangsanya.
Ketiga kisah tersebut memiliki benang merah: perubahan tidak selalu dimulai dari mereka yang memiliki kekuasaan terbesar. Perubahan dapat lahir dari individu biasa yang bersedia mengambil tanggung jawab ketika keadaan menuntutnya.
Pesan tersebut relevan bagi masyarakat saat ini. Ketidakadilan tidak cukup hanya disaksikan. Persoalan publik membutuhkan warga yang memiliki keberanian moral, sekaligus tetap menjunjung hukum, etika dan mekanisme yang beradab.
Dalihan Na Tolu sebagai "Terompet" Kebudayaan
Refleksi tentang kepemimpinan dan tanggung jawab kemudian bertemu dengan kekayaan budaya Batak. Bagi masyarakat Batak, Dalihan Na Tolu merupakan salah satu fondasi penting dalam tata hubungan sosial.
Nilai somba marhula-hula, manat mardongan tubu, dan elek marboru mengajarkan penghormatan, kehati-hatian dalam menjaga hubungan serta kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi modal sosial dalam menghadapi perubahan zaman.
Budaya tidak semestinya diposisikan sebagai sesuatu yang hanya menjadi simbol masa lalu. Sebaliknya, nilai budaya dapat terus dihidupkan melalui perilaku dan keputusan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam refleksi yang menggunakan metafora dari novel The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader dan kisah Pangeran Caspian, "terompet" peninggalan leluhur menjadi simbol panggilan untuk kembali mengingat identitas dan nilai yang pernah diwariskan.
Dalam konteks Batak, "terompet" itu dimaknai sebagai Dalihan Na Tolu, ulos, umpasa dan Danau Toba sebagai bagian dari kekayaan budaya dan alam yang perlu dijaga.
Pesannya bukan tentang merebut "tahta", melainkan mengembalikan makna kepemimpinan kepada nilai pengabdian, tanggung jawab dan kepedulian.
Memilih Pemimpin dengan Kesadaran Moral
Pada akhirnya, refleksi tentang Hastinapura, Pandawa, Arjuna, "Perang Kosmik" dan kebudayaan Batak bermuara pada satu pertanyaan, pemimpin seperti apa yang ingin dipilih untuk membawa masa depan?
Jawabannya tidak semestinya hanya ditentukan oleh popularitas, kedekatan atau kepentingan kelompok. Masyarakat perlu mempertimbangkan integritas, kapasitas, rekam jejak, tanggung jawab serta orientasi pengabdian seorang pemimpin.
Pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu menyatukan, bukan memecah, membangun, bukan menghancurkan; serta melihat jabatan sebagai amanah, bukan sekadar kekuasaan. Setiap forum musyawarah dan setiap proses pemilihan pada akhirnya menjadi ruang untuk menentukan arah masa depan.
Dari Hastinapura, manusia belajar bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan dapat membawa kehancuran. Dari Pandawa, masyarakat belajar mengenai pentingnya integritas dan tanggung jawab. Dari Arjuna, manusia belajar tentang keberanian menghadapi kebimbangan. Dari nilai budaya Batak, masyarakat diingatkan bahwa identitas dan hubungan sosial harus terus dirawat.
Karena itu, semangat yang perlu dibangun bukanlah semangat memenangkan kelompok tertentu, melainkan semangat menghadirkan kepemimpinan yang beradab. Kompak, jujur, berani dan bertanggung jawab.




0Komentar