Oleh: Dr Wilmar Eliaser Simanjorang

Di setiap rumah, yang paling berbahaya bukan angin kencang dari luar. Yang paling berbahaya adalah retak kecil di atap yang dibiarkan.  Lama-lama air masuk. Lama-lama tembok lapuk. Lama-lama rumah menjadi tidak nyaman untuk ditinggali.

Begitu juga dengan Rumah Parsaktian atau Parsattian keluarga besar. Rumah Parsaktian bukan sekadar gedung dan papan nama.  Ia tempat doa dinaikkan, tempat leluhur dikenang, tempat anak cucu belajar arti kata "satu marga".  

Di dalamnya ada sejarah. Ada keringat para pendiri. Ada nilai yang diwariskan. Wajar, jika di dalam rumah sebesar ini kadang penghuninya tidak seirama.  Ada yang ingin cepat memperbaiki. Ada yang ingin pelan-pelan merawat.  

Ada yang rindu cara lama. Ada yang ingin mencoba cara baru. Saya teringat buku Surat-surat dari Screwtape karya *C.S. Lewis*. C.S. Lewis adalah penulis dan pemikir dari Inggris. 

Dalam buku ini ia menulis rangkaian surat fiktif dari seorang iblis senior bernama Screwtape kepada keponakannya. Isinya bukan tentang hal besar dan kasar. Tapi tentang hal-hal kecil, salah paham yang dipendam, bisik-bisik, rasa curiga, dan jalan sendiri-sendiri.  

Pesan utamanya, sebuah rumah tidak runtuh karena satu pukulan besar, tapi karena retak-retak kecil yang terus dibiarkan. Mungkin sebuah Rumah Parsaktian keluarga sedang seperti itu. 
 
Bukan karena ada yang bermaksud merusak. Tapi karena ada celah-celah kecil: salah paham, diam, jalan sendiri-sendiri. Kalau dibiarkan, celah itu jadi bocor. Dan kalau sudah bocor, semua yang di dalam basah.

Padahal Rumah Parsaktian ini bukan milik satu zaman. Ia milik para pendiri yang membangun. Milik anggota yang menjaga. Milik anak cucu yang akan mewarisi. Jika ada yang sibuk menunjuk siapa yang membuat bocor, maka air akan terus masuk.
  
Jika anggota keluarga sibuk menjaga ego, maka atap akan terus retak. Leluhur mengajari, manat mardongan tubu. Hati-hati dengan saudara. Karena bocor di satu sudut, akan membasahi seluruh rumah.

Lalu apa yang bisa dilakukan? Kembali ke lage-lage tiar. Ke tempat para leluhur dulu duduk bersama mengambil keputusan. Bukan untuk saling menyalahkan dari mana air masuk.
  
Tapi untuk bermusyawarah dengan unsur keluarga besar, hula-hula, dongan tubu, boru. Di sana tidak ada yang paling tinggi. Yang ada hanya kata sepakat demi rumah. Bagi yang punya pengalaman, mari jadikan itu semen.  

Bagi yang sedang memegang palu, mari jadikan itu kesempatan membangun, bukan memukul. Bagi semua, mari disepakati, menjaga, bukan merusak. Menambal, bukan melebarkan. Karena orang tidak akan bertanya siapa yang dulu memimpin.  

Orang akan bertanya, Apakah Rumah Parsaktian itu masih teduh? Apakah masih layak jadi tempat pulang? Percaya jawabannya, Ya. Selama mau satu tubuh. Selama mau satu langkah.

Satu tubuh. Satu langkah. Agar Rumah Parsaktian tidak bocor. Agar tetap terang, tetap kuat, tetap menjadi tempat berteduh bersama. Horas. (Dr Wilmar Eliaser Simanjorang-Lereng Dolok Pusuk Buhit)