![]() |
| S. Robinson Hutapea, S.Pd Ketua DPD PIKI Provinsi Jambi dan mantan Kepala SMA Negeri 6 Kota Jambi, anggota jemaat HKBP Jambi Ressort Jambi Distrik XXV Jambi). |
Di usia 165 tahun ini, HKBP tidak boleh sekadar merayakan pesta pora dan seremonial. Ia harus melakukan refleksi teologis yang jujur: Apakah kita masih setia pada panggilan awal dengan apa yang dilakukan missionaris? atau sudah tersesat di jalan?.
Ada tiga komitmen mendesak yang harus diteguhkan HKBP di usia 165 tahun ini.
1. Komitmen Teguh Terhadap Tri Tugas Panggilan Gereja: Koinonia, Marturia, Diakonia. Gereja yang lupa Tri Tugasnya akan menjadi klub sosial. Di usia 165 tahun, HKBP harus kembali ke jantungnya.
Koinonia (Persekutuan): HKBP harus menjadi rumah yang menyembuhkan luka perpecahan. Masih banyak warga jemaat yang terpecah karena marga, parhobas, Parhalado, penempatan Pendeta, dan konflik sinode.
Koinonia bukan hanya duduk bersama di bangku gereja, tapi berani melakukan rekonsiliasi yang radikal. Tahun Transformasi harus benar-benar menjadi perubahan internal. HKBP harus menjadi contoh persatuan bagi bangsa.
Marturia (Kesaksian): Pekabaran Injil HKBP tidak boleh berhenti pada liturgi yang megah di gedung gereja yang besar. Marturia di era digital adalah kesaksian yang hidup: apakah perilaku pejabat gereja, penatua, dan warga jemaat mencerminkan Kristus di kantor, di ladang, dan di media sosial? Kesaksian bukan hanya khotbah, tapi karakter.
Diakonia (Pelayanan): Gereja mula-mula dikenal karena pelayanannya. Jika HKBP hanya sibuk membangun gedung gereja yang megah dan semakin mewah sementara jemaatnya miskin, dan luput dari bantuan dan perhatian sosial maka ia telah gagal dalam Diakonia.
2. Kepedulian Nyata Terhadap 4 Musuh Kemanusiaan: Kemiskinan, Kebodohan, Ketidakadilan, dan Krisis Ekologi
Inilah pergumulan teologis yang paling kontekstual. Iman tanpa kepedulian adalah mati.
a. Peduli Kemiskinan: HKBP lahir di tengah kemiskinan. IL. Nommensen tidak hanya membawa Alkitab, tapi juga membangun sekolah dan rumah sakit. Hari ini, banyak jemaat HKBP di pedalaman Toba, Humbang, dan didaerah lainnya bahkan di perantauan yang masih bergumul dengan ekonomi.
Di usia 165 tahun, HKBP harus berani menjadi Bank bagi yang miskin, bukan hanya mengumpulkan persembahan orang miskin untuk kemegahan institusi. Kenyataannya dibidang kesehatan Rumah Sakit HKBP mengalami degredasi dan tidak mengalami perkembangan.
b. Peduli Kebodohan: HKBP adalah gereja yang sangat mencintai pendidikan. Tetapi hari ini, cinta itu diuji. Apakah sekolah-sekolah HKBP masih menjadi yang terbaik dan terjangkau bagi orang miskin?.
Atau sudah menjadi bisnis pendidikan yang mahal? HKBP harus kembali menjadi pelita pendidikan. Kenyataan pendidikan HKBP mengalami degredasi diseluruh tanah air. Jangankan menambah yang baru mempertahankan apa yang ada tidak mampu.
c. Peduli Ketidakadilan: Gereja tidak boleh diam ketika jemaatnya menjadi korban ketidakadilan agraria, penggusuran, Korupsi dan hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas. Suara kenabian HKBP harus lantang.
Jika HKBP diam terhadap ketidakadilan, maka HKBP mengkhianati Tuhan yang adil. Maraknya kasus pelarangan beribadah, belum tersedianya guru agama Kristen di sekolah, belum terjaminnya kegiatan belajar mengajar (KBM) pendidikan agama Kristen adalah PR yang harus menjadi perhatian serius pada masa kini.
d. Peduli Ekologi: Danau Toba, hutan Tapanuli dipusat HKBP dan terjadinya bencana di sumatera tempat kita berpijak sedang menangis. Penebangan liar, pencemaran Danau Toba, dan krisis iklim adalah isu iman. Termasuk Karhutlah yang Merusak ciptaan Tuhan adalah dosa ekologis yang telah mengakibatkan korban dan sengsara masyarakat.
HKBP di usia 165 tahun harus menjadi garda terdepan pelestarian lingkungan. Tidak ada gunanya kita bermegah atas gereja yang indah jika Danau Toba sebagai beranda HKBP mati dan tidak terurus.
3. Tidak Terkooptasi dengan Kepentingan Politik Praktis
Ini adalah penyakit paling berbahaya di usia tua gereja. Semakin besar HKBP, semakin banyak politisi yang ingin menungganginya. "HKBP bukan partai politik. HKBP bukan tim sukses. HKBP adalah Tubuh Kristus."
Di setiap tahun politik, mimbar HKBP sering disalahgunakan untuk kepentingan politik, untuk dukungan kandidat tertentu. Ephorus, Praeses, dan Pendeta harus tegas: HKBP boleh berpolitik secara etis, memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan, keadilan, dan Pancasila, tetapi HKBP tidak boleh berpolitik praktis, menjadi alat kekuasaan.
Ketika HKBP terkooptasi politik praktis, ia kehilangan wibawa kenabiannya. Ia tidak lagi bisa menegur penguasa karena ia sudah menjadi bagian dari penguasa. Sejarah mencatat, gereja yang dekat dengan kekuasaan akan ditinggalkan Tuhan.
HKBP di usia 165 tahun harus berani mengatakan: Kami berdiri di atas semua golongan untuk kepentingan Kerajaan Allah dan keutuhan NKRI, bukan untuk kepentingan praktis kekuasaan tapi juga tidak untuk kepentingan para pemimpin HKBP yang ingin berpolitik praktis.
Penutup: HKBP yang Kokoh di Zaman yang Goyah
HKBP 165 tahun bukanlah akhir, tetapi awal dari babak baru. Jika HKBP setia pada Tri Tugas Panggilan Gereja, peduli pada 4 pergumulan nyata manusia, dan menjaga jarak kudus dari politik praktis, maka HKBP tidak hanya akan bertahan 165 tahun lagi, tetapi akan menjadi terang bagi Indonesia dan dunia.
Dirgahayu HKBP ke-165. Tetap menjadi garam dan terang. "Horas." (Oleh S. Robinson Hutapea, S.Pd Ketua DPD PIKI Provinsi Jambi dan mantan Kepala Sekolah SMA Negeri 6 Kota Jambi, anggota jemaat HKBP Jambi Ressort Jambi Distrik XXV Jambi).


0Komentar