Pamatangsiantar, S24- Perjalanan HKBP Pardamean Pematangsiantar tidak dapat dipisahkan dari semangat kebersamaan warga jemaat yang sejak awal berupaya menghadirkan tempat ibadah di tengah permukiman masyarakat.

Berdiri melalui proses panjang sejak awal dekade 1970-an, HKBP Pardamean di Jalan Lapangan Bola Bawah, Kota Pematangsiantar, berkembang dari sebuah jemaat filial menjadi Huria na Gok, kemudian melalui perjalanan panjang akhirnya menjadi Ressort HKBP Pardamean.

Salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah tersebut adalah Pdt. Dr.Frans Hanaehan Sianipar, yang lebih dikenal sebagai Pdt. Dr. F.H. Sianipar. Ia merupakan tokoh gereja, pendeta, akademisi dan teolog yang memiliki peran penting dalam perjalanan pelayanan HKBP.

Pdt. Dr. F.H. Sianipar, Tokoh Gereja dan Akademisi

Pdt. Dr.Frans Hanaehan Sianipar. dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan gereja dan pendidikan teologi di lingkungan HKBP.

Selain menjalankan pelayanan gerejawi, ia juga berkiprah dalam dunia akademik, khususnya dalam pengembangan pendidikan teologi di Indonesia. Namanya memiliki keterkaitan erat dengan Sekolah Tinggi Theologia (STT) HKBP Pematangsiantar, salah satu lembaga pendidikan teologi penting di lingkungan HKBP.

Dalam struktur kepemimpinan HKBP, F.H. Sianipar dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal HKBP periode 1974–1978. Ia mendampingi Ephorus Ds. G.H.M. Siahaan dalam menjalankan kepemimpinan gereja.

Salah satu bagian penting dari masa pelayanannya adalah ketika ia hadir dalam perkembangan sejumlah jemaat HKBP, termasuk HKBP Pardamean Pematangsiantar.

Pada 7 November 1976, Pdt. Dr. F.H. Sianipar dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Jenderal HKBP meresmikan HKBP Pardamean menjadi Huria na Gok, atau jemaat penuh.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah HKBP Pardamean.

Awal Berdirinya HKBP Pardamean

Sejarah HKBP Pardamean bermula dari kebersamaan warga Batak yang tinggal di kawasan Jalan Lapangan Bola Bawah, Jalan Mangga, Jalan Pisang dan wilayah sekitarnya.

Pada 23 Oktober 1971, sejumlah warga mengadakan pertemuan di kediaman Dr. O. Harianja. Pertemuan tersebut dihadiri 27 orang penatua dan dikoordinasikan oleh sejumlah tokoh, antara lain St. Chr. Simorangkir, St. B.T. Hutasoit, Gr. O. Harianja dan St. P.H. Simatupang.

Pertemuan tersebut menjadi titik awal terbentuknya kesepakatan bersama untuk mendirikan tempat ibadah HKBP di kawasan tersebut.

Dalam perkembangan selanjutnya, panitia pembangunan dibentuk. Di antara tokoh yang terlibat dalam kepanitiaan awal tercatat Garuda Siagian, M.S. Pakpahan dan I.B. Siregar.

Panitia kemudian melakukan upaya pengadaan tanah untuk pembangunan gereja. Tanah pertapakan gereja seluas sekitar 18 x 100 meter diperoleh dari Toko Obat Segar milik Timour boru Pardede.

Kebaktian Perdana HKBP Pardamean

Setelah persiapan dilakukan, sebuah momentum bersejarah terjadi pada Minggu, 5 Desember 1971. Pada tanggal tersebut dilaksanakan kebaktian perdana HKBP Pardamean di lokasi pertapakan gereja. Tempat yang digunakan pada saat itu merupakan bekas asrama bertenun.

Kebaktian perdana tersebut dipimpin oleh Pdt. A. Sihombing, yang pada saat itu merupakan Pendeta Ressort Pematangsiantar.

Pada tahap awal, HKBP Pardamean masih berstatus sebagai jemaat filial HKBP Pematangsiantar. Status tersebut menjadi tahap pertama sebelum jemaat berkembang menjadi sebuah huria yang berdiri lebih mandiri.

Pembangunan Gedung Gereja

Perjalanan HKBP Pardamean kemudian dilanjutkan melalui pembangunan gedung gereja. Pembangunan tersebut tidak terlepas dari kerja keras panitia serta dukungan warga jemaat dan para donatur.

Sejumlah tokoh yang terlibat dalam proses pembangunan antara lain Op. Tiuurma Simamora, N.H. Hutasoit, St. T.H. Simanjuntak, St. M. Sianturi, St. O. Panjaitan, St. Drs. P.M. Sitinjak, Gr. C. Nainggolan, St. Drs. A. Manurung, St. F. Manik dan St. Pahala Nadapdap.

Pembangunan juga mendapat dukungan dari donatur Bard Hersfeld, Jerman. Berkat kebersamaan tersebut, pembangunan gereja akhirnya dapat diselesaikan.

Pada Minggu, 22 Juni 1975, jemaat HKBP Pardamean mulai memasuki gedung gereja yang baru. Ibadah tersebut dipimpin oleh Pdt. JBH Sianipar.

Peristiwa ini menjadi tonggak baru karena jemaat HKBP Pardamean tidak lagi hanya beribadah di tempat sementara, tetapi telah memiliki gedung gereja sendiri.

Menjadi Persiapan Huria

Perkembangan organisasi HKBP Pardamean terus berlangsung. Pada 1 Februari 1976, HKBP Pardamean ditetapkan menjadi Persiapan Huria. Tidak lama setelah itu, tepatnya pada 7 November 1976, status jemaat tersebut kembali mengalami perkembangan penting. HKBP Pardamean resmi menjadi Huria na Gok.

Peresmian tersebut dilakukan oleh Sekretaris Jenderal HKBP Pdt. Dr. F.H. Sianipar. Dengan demikian, tanggal 7 November 1976 memiliki tempat khusus dalam sejarah HKBP Pardamean karena menandai perubahan status dari persiapan menuju jemaat penuh.

Perkembangan Pelayan Jemaat

Setelah menjadi Huria na Gok, pelayanan HKBP Pardamean terus diperkuat. Pada 1977, pimpinan HKBP menempatkan Kandidat Pdt. Balosan Rajagukguk untuk mendukung pelayanan jemaat. Kemudian pada 1979, Gr. Drs. JB Tamba ditempatkan sebagai Guru Huria Full Timer.

Kehadiran pelayan penuh waktu tersebut menjadi bagian dari proses penguatan kehidupan bergereja dan pembinaan jemaat HKBP Pardamean.

Pesta Mangompoi Gereja Tahun 1985

Salah satu peristiwa besar berikutnya terjadi pada 8 September 1985, ketika HKBP Pardamean melaksanakan Pesta Mangompoi Gereja.Acara tersebut dipimpin oleh Ephorus HKBP Ds. G.H.M. Siahaan bersama Sekretaris Jenderal HKBP Ds. P.M. Sihombing.

Perayaan tersebut juga dihadiri rombongan dari Gereja Bard Hersfeld, Jerman, yang selama perjalanan pembangunan HKBP Pardamean turut memberikan dukungan.

Rombongan tersebut antara lain terdiri dari Otto Elauud, Frau Stingel, Karlhains, Pfarrer Perels dan Chepaar Borcshel, serta didampingi St. Pahala Nadapdap.

Kehadiran rombongan dari Jerman menjadi bagian dari sejarah hubungan dan dukungan lintas gereja yang ikut mewarnai perjalanan HKBP Pardamean.

Gagasan Menjadi Persiapan Ressort

Memasuki perkembangan berikutnya, HKBP Pardamean mulai memiliki cita-cita untuk meningkatkan status pelayanannya menjadi Persiapan Ressort. Pada masa itu, HKBP Pardamean dipimpin oleh Guru Jemaat Edison Surya Saragih, S.Pd.

Gagasan tersebut mendapat perhatian dari Praeses HKBP Distrik V Sumatera Timur Pdt. Dr. Plaston Simanjuntak. Namun, proses tersebut belum dapat langsung diwujudkan karena adanya perubahan ketentuan dan peraturan organisasi HKBP.

Saat itu jumlah jemaat tercatat sekitar 270 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 1.120 jiwa. Keinginan untuk menjadi Persiapan Ressort tidak berhenti. Jemaat kemudian kembali mempersiapkan berbagai persyaratan sesuai ketentuan HKBP.

Ketika permohonan kembali diajukan, jumlah jemaat telah berkembang menjadi sekitar 283 kepala keluarga atau 1.154 jiwa.

Menjadi HKBP Persiapan Ressort Pardamean

Perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada Minggu, 17 Juli 2016, dalam kebaktian Minggu, HKBP Pardamean Ressort Mahanaim diresmikan menjadi HKBP Persiapan Ressort Pardamean.

Peresmian dilakukan oleh Praeses HKBP Distrik V Sumatera Timur Pdt. Tendes Simanjuntak, S.Th. Keputusan tersebut dituangkan melalui Surat Keputusan Nomor 236/DV/SKVII/2016 tertanggal 15 Juli 2016.

Pada tahap tersebut, medan pelayanan terdiri dari HKBP Pardamean sebagai gereja induk dan HKBP Pos Parmingguan Anugerah di Jalan Sipahutar, Pematangsiantar.

Status Persiapan Ressort menjadi langkah penting dalam perjalanan organisasi HKBP Pardamean menuju kemandirian pelayanan yang lebih luas.

HKBP Pardamean Resmi Menjadi Ressort

Perjalanan tersebut akhirnya mencapai salah satu tonggak terbesar pada Minggu, 23 Juli 2017. Pada tanggal tersebut, HKBP Pardamean resmi diresmikan menjadi Ressort.

Peresmian dilakukan oleh Praeses HKBP Distrik V Sumatera Timur Pdt. Same Siahaan, S.Th. Dengan status tersebut, perjalanan HKBP Pardamean yang dimulai dari persekutuan warga di sekitar Jalan Lapangan Bola Bawah pada 1971 telah berkembang menjadi sebuah ressort dalam struktur pelayanan HKBP.

Warisan Sejarah yang Terus Hidup

Jika melihat perjalanan dari awal, sejarah HKBP Pardamean merupakan kisah tentang iman, kebersamaan dan kegigihan jemaat. Dari pertemuan sederhana pada 23 Oktober 1971 yang dihadiri puluhan penatua, kebaktian perdana pada 5 Desember 1971, pembangunan gedung gereja, penetapan sebagai Huria na Gok pada 1976, hingga menjadi Persiapan Ressort pada 2016 dan akhirnya Ressort pada 2017, seluruh proses tersebut berlangsung melalui perjuangan banyak orang.

Di dalam perjalanan itu, nama Pdt. Dr. F.H. Sianipar memiliki catatan tersendiri. Sebagai Sekretaris Jenderal HKBP periode 1974–1978, ia tercatat sebagai tokoh yang meresmikan HKBP Pardamean menjadi Huria na Gok pada 7 November 1976.

Jejaknya tidak hanya berada dalam struktur kepemimpinan gereja, tetapi juga dalam dunia pendidikan teologi dan dokumentasi sejarah gereja.

Salah satu karya yang dikaitkan dengannya adalah “Barita ni Ompu i, Dr. Justin Sihombing”, yang mendokumentasikan perjalanan kehidupan salah satu tokoh penting dalam sejarah kepemimpinan HKBP.

Bagi warga HKBP Pardamean, perjalanan sejak 1971 hingga menjadi ressort merupakan warisan yang tidak hanya berbicara mengenai bangunan gereja, tetapi juga tentang orang-orang yang bekerja, berdoa, memberi tenaga, pikiran dan materi demi keberlangsungan pelayanan.

Dari sebuah persekutuan kecil di kawasan Jalan Lapangan Bola Bawah, HKBP Pardamean bertumbuh menjadi ressort yang memiliki sejarah panjang dan menjadi bagian dari perjalanan gereja HKBP di Kota Pematangsiantar.

Sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah gereja tidak dibangun hanya oleh tembok dan bangunan, tetapi terutama oleh iman, pengorbanan, persaudaraan dan kesetiaan jemaat dalam menjalankan panggilan pelayanan. (S24-red/tam/heta/BS)