![]() |
| Bencana Ekologis Tapteng–Sibolga Adalah Alarm Keras yang Tak Boleh Diabaikan.(IST) |
Tapanuli Tengah, S24 - Sepuluh nyawa melayang. Ribuan keluarga kehilangan rumah, keamanan, dan masa depan. Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga hari-hari ini bukan sekadar dilanda banjir dan longsor—tetapi dilanda kenyataan pahit tentang akibat serakah manusia terhadap alam sejak Selasa (25/11/2025) hingga saat ini.
Di tengah hujan yang tak kunjung reda, air meluap, sungai melampaui batas, dan bukit-bukit runtuh tanpa ampun. Namun cuaca buruk bukan akar dari semua ini. Akar bencana sesungguhnya lebih dalam, rusaknya ekosistem Tapanuli akibat eksploitasi besar-besaran yang berlangsung bertahun-tahun.
Hampir seluruh kawasan pesisir Tapteng–Sibolga kini terendam banjir hingga 4 meter di beberapa daerah. Delapan kecamatan, Pandan, Tukka, Sibuluan, Badiri, Pinangsori, Kolang, Sorkam Barat, hingga Pasaribu Tobing berada dalam kondisi lumpuh.
Jalan longsor, jembatan rusak, listrik padam, ribuan warga terjebak tanpa akses. Ini bukan bencana biasa. Ini adalah alarm keras dari alam yang kewalahan menahan beban perusakan.
Batangtoru Juga Tenggelam
Dalam waktu yang hampir bersamaan, Batangtoru di Tapanuli Selatan pun digulung banjir besar. Hulu sungai yang dulu dipenuhi hutan kini dipahat, dikeruk, dan dikoyak demi emas dan keuntungan.
Perusahaan tambang menikmati laba, sementara masyarakat hilir menelan bencana. Komposisi kepemilikan perusahaan yang mengelola tambang emas besar di Batangtoru menunjukkan betapa kuatnya kepentingan modal, 95% saham dikuasai anak perusahaan industri besar nasional, sementara 5% sisanya dimiliki perusahaan daerah melalui pemerintah kabupaten dan provinsi. Pertanyaan publik pun kian nyaring, siapa yang memanen emas, dan siapa yang memanen bencananya?
Luka Ekologis yang Tak Bisa Disembunyikan Lagi
Seruan dari berbagai tokoh masyarakat dan pemimpin agama semakin menguat. Ephorus HKBP, Pdt Victor Tinambunan, menegaskan bahwa bencana ini tidak boleh dianggap sebagai fenomena alam belaka.
“Kenyataan pahit yang kita hadapi hari ini menunjukkan betapa beratnya dampak berkurangnya tutupan hutan akibat operasi industri dan perilaku serampangan sebagian manusia. Alam terluka, masyarakat yang menderita.” ujarnya.
Disebutkan, perkebunan, konsesi industri, dan pembalakan yang berlangsung puluhan tahun telah mengubah wajah Tapanuli. Hutan yang dulu menjadi sabuk pengaman kini hilang, tanah kehilangan daya serap, sungai kehilangan kendali. Ketika alam kehilangan kemampuan untuk menahan air, manusia kehilangan nyawanya.
Hentikan Keserakahan
Bencana ini adalah pengingat bahwa kerusakan ekologis bukan sekadar isu lingkungan, ini isu kemanusiaan. Biaya dari keserakahan manusia bukan hanya kerusakan alam, tetapi hilangnya nyawa, trauma anak-anak, dan masa depan yang terenggut.
Gerakan moral seperti “Tutup TPL” dan desakan pengawasan tambang bukanlah sentimen emosional. Itu adalah jeritan masyarakat agar masa depan Tapanuli tidak tenggelam oleh eksploitasi.
Tapanuli Raya membutuhkan, pemulihan hutan. Pengawasan ketat terhadap industri ekstraktif. Keberpihakan pemerintah kepada keselamatan rakyat, bukan pada keuntungan modal. Rehabilitasi ekologis jangka panjang. Penindakan atas pelanggaran lingkungan.
Banjir dan longsor yang menelan korban jiwa di Tapteng–Sibolga bukan “takdir alam”. Ini adalah hasil pilihan manusia dan hanya manusia pula yang bisa menghentikannya.
Saat ribuan warga masih menunggu bantuan, saat ratusan anak tidur dalam ketakutan, satu pesan menggema dari Tapanuli Raya, hentikan keserakahan. Pulihkan alam. Selamatkan manusia.(S24-Asenk Lee Saragih)
Potret Bencana Ekologis Tapteng–Sibolga
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

0Komentar