Jakarta, S24- Nilai tukar rupiah sempat menembus level Rp 18.000 per dollar AS pada Kamis (4/6/2026), bahkan mencapai Rp 18.015 per dollar AS berdasarkan data Investing dan Rp 18.022 per dollar AS menurut Google Finance.

Level tersebut menjadi yang terlemah sepanjang sejarah. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.966,5 per dollar AS.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra menilai pelemahan rupiah dipicu ketidakpastian geopolitik global, terutama konflik AS dan Iran yang belum mereda.
 
Kondisi itu membuat investor memburu dollar AS sebagai aset aman (safe haven), sehingga mata uang AS semakin menguat.

"Rupiah versus dollar AS sangat rentan dengan isu eksternal. (Pelemahan rupiah) bisa sejauh mungkin kalau masalah (Iran-AS) gak beres-beres," kata Ariston, Rabu (3/6/2026). Ariston menyebut rupiah berpeluang menguat kembali jika konflik AS-Iran mereda.(S24-Red)