![]() |
| Foto: Penjual daging anjing di Balige, 1935 (KITLV). |
Balige, S24- Lebih dari satu abad yang lalu, Balige telah tumbuh menjadi pusat ekonomi yang sangat penting di tanah Toba. Aktivitas perdagangan di pasar ini digerakkan oleh perputaran masyarakat yang sangat menarik. Penggerak utama sekaligus pedagang yang paling banyak menguasai Pasar Balige adalah kaum perempuan Batak.
Mereka memiliki bakat dagang luar biasa, berkarakter gigih, serta sangat teliti dalam mempertahankan harga saat tawar-menawar, bahkan demi selisih sekeping uang koin kuno sekalipun.
Selain para perempuan Batak setempat, kelompok pedagang di sini juga diramaikan oleh warga lokal yang membuka warung, perwakilan dari dua perusahaan pemasok besar asal Eropa, serta para pedagang Tionghoa yang mulai mendirikan toko-toko kelontong di sepanjang jalan utama kota.
Di sisi lain, pembeli yang memadati lapangan rumput luas setiap hari Jumat mencerminkan hubungan saling membutuhkan yang sangat kuat di sekitar kawasan Danau Toba.
Ribuan pembeli yang datang berbondong-bondong ini mengandalkan angkutan air seperti perahu dayung tradisional dan kapal kayu, serta jalur darat menggunakan bendi dan kereta kerbau.
Mereka adalah masyarakat dari Pulau Samosir yang tanahnya kurang subur sehingga sangat bergantung pada pasokan makanan dari luar penduduk dari pesisir Si Gaol, wilayah Uluan, hingga masyarakat dari dataran tinggi Toba.
Para pembeli ini datang dengan dua cara: ada yang membawa rombongan kuda pengangkut, dan ada pula rombongan pejalan kaki tangguh yang memikul barang dagangan di pundak mereka.
Mereka menyatu bersama ribuan pembeli setempat hingga menciptakan kerumunan yang sangat padat pada tengah hari.
Keunikan lain dari Pasar Balige terletak pada sistem pembayarannya yang masih mengandalkan duit tembaga kuno sebagai mata uang utama.
Meskipun nilai uang tembaga ini sering naik-turun dan penggunaannya cukup merepotkan, para pedagang dan pembeli sangat menyukainya karena mata uang ini mampu menghitung perbedaan harga barang yang sangat kecil dalam recehan.
Berkat uang koin tersebut, perputaran berbagai barang lokal dan buatan Barat dapat berjalan lancar, mulai dari beras kualitas terbaik hasil alam pedalaman Toba, minyak tanah, benang, hingga kain tenun lokal.
Komoditas harian ini dipasarkan berdampingan dengan barang impor seperti korek api, cermin saku, pisau, jarum, peniti, gunting murah, hingga bursa perdagangan hewan hidup seperti kuda, sapi, dan potongan daging kerbau segar yang selalu habis diserbu pembeli. (***)
Sumber teks: M. Joustra (1915). Van Medan naar Padang en Terug: Reisindrukken en -Ervaringen. Leiden: S.C. van Doesburgh. (S24-FB Dian Purba)


0Komentar