Samosir, S24- Menjelang pelaksanaan Musyawarah Besar (MUBES) PPTSB yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026, perhatian terhadap soliditas persaudaraan Toga Sinaga kembali mengemuka.

Pemerhati Pemerhati Masalah Budaya dan Sosial masalah budaya dan sosial, Dr Wilmar Eliaser Simandjorang, mengingatkan seluruh unsur parsadaan agar perbedaan aspirasi, dukungan maupun pilihan dalam proses menuju MUBES tidak berkembang menjadi perpecahan di tengah keluarga besar Toga Sinaga.

Hal itu disampaikan Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Putra Toga Sinaga dari Dolok Pusuk Buhit Sianjurmula-Mula, Samosir dalam analisisnya yang diterima Penulis, Jumat (4/9/2026).

Menurut Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, momentum MUBES seharusnya menjadi ruang musyawarah untuk memperkuat persaudaraan, bukan arena untuk saling mengalahkan.


Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang menilai semangat tersebut telah tercermin dalam nilai-nilai yang terkandung dalam Mars Toga Sinaga. Lagu tersebut, menurutnya, tidak semata-mata untuk dinyanyikan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan dan perilaku sehari-hari.

Di dalamnya terdapat pesan hasadaon, yakni satu hati sebagai pomparan, serta prinsip somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Nilai itu juga mengajarkan pentingnya menimbang secara adil, menjaga tali persaudaraan, merintis jalan bagi yang berada di depan, sekaligus menjadi panggomgomi bagi mereka yang berada di belakang.

"Jika sungguh dihidupi, organisasi bukan gelanggang untuk saling mengalahkan. Ia adalah rumah parsantian," ujar Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang sebagai refleksinya mengenai dinamika menjelang MUBES PPTSB 2026.

Perbedaan Aspirasi Jangan Menjadi Perpecahan

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang menegaskan bahwa perbedaan di dalam sebuah parsadaan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Cabang, wilayah, Dewan Pembina, Dewan Penasehat, Dewan Pengawas, Dewan Pakar, para tua-tua hingga generasi muda memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan dan aspirasi.

Namun, seluruh perbedaan tersebut, menurut dia, harus ditempatkan sebagai kekayaan dalam proses musyawarah.

"Di rumah itu aspirasi, dukungan, pandangan, bahkan pilihan boleh berbeda. Tetapi persaudaraan tidak boleh berbeda," ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa deklarasi merupakan bentuk aspirasi, dukungan merupakan bentuk kepercayaan, sedangkan pilihan merupakan hak setiap individu maupun kelompok sesuai aturan yang berlaku.

Karena itu, seluruh proses menuju MUBES harus tetap berada dalam koridor aturan dan kewenangan parsadaan.

Wilmar juga menyoroti kemungkinan masuknya kepentingan tertentu dalam dinamika organisasi. Ia mengingatkan agar perbedaan tidak dimanfaatkan sebagai kendaraan bagi kepentingan politik, pribadi maupun kelompok.

Menurutnya, yang perlu dihindari bukan keberadaan orang atau kelompok tertentu, melainkan cara-cara dan kepentingan yang berpotensi merusak persaudaraan. "PPTSB bukan panggung kepentingan politik. PPTSB adalah rumah persaudaraan," tegasnya.

Ia mengajak seluruh pihak untuk tetap dapat berbeda pilihan tanpa kehilangan ikatan sebagai saudara. Jika terdapat persoalan atau arah organisasi yang dinilai menyimpang, penyelesaiannya harus ditempuh melalui aturan, keterbukaan, musyawarah dan kebijaksanaan. "Yang kita luruskan adalah jalannya, bukan menjatuhkan orangnya," kata Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang.

Menghidupkan Kembali Semangat Lage-Lage Tiar

Dalam menghadapi perbedaan dan persoalan organisasi, Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang mengajak seluruh keluarga besar Toga Sinaga untuk kembali kepada nilai-nilai kebersamaan yang menjadi akar kehidupan parsadaan.

Ia menggunakan filosofi lage-lage tiar sebagai gambaran tentang bagaimana setiap orang seharusnya menempatkan diri dalam kehidupan bersama.

Duduk menurut ordo, mengetahui posisi, tidak meninggikan diri, bersedia mendengar serta menjaga satu sama lain merupakan bagian dari sikap yang dinilainya penting menjelang MUBES.

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang kemudian menghadirkan simbol parsonduk bolon sebagai gambaran mengenai kasih dan kebersamaan.

Menurutnya, parsonduk bolon bukan sekadar hidangan yang disajikan dalam sebuah pertemuan, melainkan bahasa kasih yang mampu menghangatkan hati, melunakkan kata-kata dan mengingatkan setiap orang untuk kembali kepada akar persaudaraan.

Di dalam suasana seperti itu, kata dia, tidak ada lagi sekat kubu. "Di sana kita tidak duduk sebagai kubu. Kita duduk sebagai saudara," ujarnya.

Belajar dari Kearifan Ompung Paltiraja

Dalam menyelesaikan persoalan kemasyarakatan, Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang juga mengajak keluarga besar Toga Sinaga untuk kembali mengingat keteladanan dan kearifan Ompung Paltiraja.

Ia menggambarkan Ompung Paltiraja sebagai sosok yang mengedepankan kejernihan dalam menimbang persoalan, mendengarkan dengan hati dan mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama.

Nilai tersebut tercermin dalam poda: "Parhatian sibola timbang, paninggala sibola tali; tu ginjang so ra monggal, tu toru so ra teleng."

Bagi Wilmar, pesan tersebut mengandung prinsip keseimbangan dan persaudaraan: menimbang secara adil, memegang tali persaudaraan, tidak meninggikan diri ketika berada di atas dan tidak merendahkan diri ketika berada di bawah.

Kearifan itu, menurutnya, relevan untuk menjadi pegangan dalam menghadapi dinamika organisasi menjelang MUBES.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak mengubah cara pandang terhadap proses pemilihan dan kepemimpinan. "Jangan pertama-tama bertanya, siapa yang menang? Tanyakan: bagaimana agar Toga Sinaga tidak kalah?" katanya.

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang menilai kepemimpinan dalam parsadaan tidak semestinya hanya diukur dari kemampuan seseorang berdiri di depan atau memperoleh dukungan terbanyak.

Lebih dari itu, pemimpin harus mampu merintis jalan, mendengarkan suara yang berbeda, menjaga keseimbangan serta menjadi panggomgomi ketika berada di belakang.

"Jangan bertanya siapa yang lebih kuat, tetapi bagaimana persaudaraan lebih kuat daripada kelompok. Jangan hanya mencari siapa yang pantas memimpin, tetapi carilah cara memilih yang pantas bagi sebuah parsadaan," ujarnya.


Pandangan tersebut menjadi penting karena MUBES bukan hanya berkaitan dengan pergantian atau penetapan kepemimpinan, tetapi juga menjadi momentum untuk menentukan arah perjalanan organisasi dan menjaga keberlanjutan nilai-nilai persaudaraan.

Dari Mars Toga Sinaga Menjadi Jalan Hidup

Pada akhirnya, Wilmar berharap Mars Toga Sinaga tidak berhenti sebagai lagu yang dinyanyikan dalam berbagai kegiatan organisasi.

Ia menginginkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya benar-benar menjadi pedoman kehidupan bersama. "Biarlah Mars Toga Sinaga bergerak: dari lagu menjadi nilai, dari nilai menjadi sikap, dari sikap menjadi budaya, dari budaya menjadi karakter, dan dari karakter menjadi warisan," tulisnya.

Pesan persaudaraan itu kemudian dirangkai dalam seruan: "Horas ma Sinaga, horas nang boruna, horas saluhutna, horas ma sude."

Bagi Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, seruan tersebut seharusnya tidak hanya terdengar sebagai suara dalam sebuah acara, tetapi hidup dalam hati dan dibuktikan melalui tindakan.

Ia menegaskan bahwa kemenangan dalam sebuah proses organisasi bukanlah kemenangan individu atau kelompok.

"Yang harus menang bukan aku, bukan engkau, bukan kelompok ini atau kelompok itu. Yang harus menang adalah hasadaon. Yang harus tetap utuh adalah persaudaraan," tegas Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang.

Menjelang MUBES PPTSB 2026, Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang mengajak seluruh unsur parsadaan untuk kembali ke "rumah parsantian", duduk dalam semangat lage-lage tiar, menimbang, mendengar, bermusyawarah dan mencari mufakat.

Sebab, menurut dia, keputusan yang baik bukan hanya keputusan yang mampu menyelesaikan persoalan organisasi, tetapi juga keputusan yang memastikan hubungan persaudaraan tetap terjaga. "Toga Sinaga maju terus. Mejuah-juah. Horas!". (S24-AsenkLeeSaragih)