Jangan Sekadar Memilih Pemimpin, Pilihlah Pembaharu
SUARA HATI WILMAR ELIASER SIMANDJORANG
Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang
Menjelang Mubes PPTSB Oktober 2026, perbedaan pilihan mulai berpotensi menjadi gesekan. Dukungan kepada figur tertentu pun dapat berkembang menjadi pengelompokan. Saya tidak menulis ini untuk mencari siapa yang salah, tetapi mengajak kita menjaga sesuatu yang jauh lebih berharga: persaudaraan Toga Sinaga.
Pertanyaan kita jangan berhenti pada, “Siapa yang paling banyak pendukungnya?” Pertanyaan yang lebih penting ialah: “Pemimpin seperti apa yang sungguh-sungguh dibutuhkan PPTSB?”
Menurut suara hati saya, PPTSB 2026–2030 membutuhkan pemimpin transformatif, bukan sekadar pemimpin visioner.
Pemimpin visioner menunjukkan arah. Pemimpin transformatif berani mengubah kenyataan: memperkuat tata kelola, menegakkan AD/ART, membangun konsolidasi, memperkuat kaderisasi, meningkatkan profesionalisme, dan memulihkan kepercayaan.
Baca: Dinamika Pengusulan Ketua Umum PPTSB, Dr Wilmar: AD/ART Harus Jadi Ukuran Bersama
Visi menunjukkan arah. Transformasi mengubah kenyataan. Dalam kearifan Batak, Dalihan Na Tolu mengajarkan keseimbangan relasi, penghormatan, tanggung jawab, dan kepantasan dalam kehidupan bersama. Nilai ini perlu dihidupkan dalam organisasi: berbeda tanpa bermusuhan, bersuara tanpa merendahkan, dan berkompetisi tanpa memutus persaudaraan.
Karena itu, pemimpin PPTSB harus menjadi simpul persatuan, bukan pusat pengelompokan. Kita boleh berbeda pilihan. Kita boleh berbeda pandangan. Tetapi setelah Mubes, kita tetap saudara dalam satu Toga Sinaga.
PPTSB BUKAN MILIK SIAPA PUN
PPTSB bukan milik Ketua. Bukan milik Pembina. Bukan milik Penasehat. Bukan milik Dewan Pakar. Bukan milik satu Wilayah. Bukan milik satu Cabang. Bukan milik satu kelompok. Bukan milik satu tokoh. Dan bukan pula milik satu generasi.
Setiap unsur memiliki kedudukan, fungsi, tanggung jawab, dan kewenangan sesuai AD/ART. Jabatan adalah amanah, bukan kepemilikan. Kewenangan adalah mandat, bukan hak pribadi. Dukungan adalah aspirasi, bukan legitimasi final.
Karena itu, pemimpin harus tegak dalam amanah dan merdeka dalam pertimbangan. Ia boleh mendengar banyak suara, menghormati setiap kelompok, dan menerima nasihat, tetapi keputusan harus tetap berpijak pada aturan, mandat organisasi, dan kepentingan bersama.
Pemimpin bukan perpanjangan kehendak figur atau kelompok tertentu. Ia adalah pemegang amanah seluruh organisasi.
JAGA MARWAH PROSES
Menjelang Mubes, setiap tindakan harus ditempatkan pada kewenangan dan waktunya. Jangan biarkan surat mendahului kewenangan. Jangan biarkan dukungan mendahului proses. Jangan biarkan deklarasi mendahului legitimasi. Dan jangan biarkan kepentingan mendahului persaudaraan.
Surat adalah sarana organisasi, tetapi tidak dengan sendirinya melahirkan kewenangan. Dukungan adalah aspirasi, tetapi tidak dengan sendirinya menjadi keputusan. Deklarasi adalah pernyataan sikap, tetapi tidak menggantikan mekanisme organisasi.
Dalam kearifan Batak, kata, sikap, dan tindakan memiliki tempat dan kepantasan. Karena itu, biarlah proses berjalan sesuai tata, kewenangan bekerja sesuai mandat, dan keputusan lahir melalui forum yang sah.
Boleh mendukung, tetapi jangan mendahului legitimasi. Boleh berbeda pilihan, tetapi jangan merusak persaudaraan.
Mubes bukan arena membuktikan siapa yang paling hebat. Mubes adalah ruang memilih siapa yang paling siap mengemban amanah.
Maka ukur calon pemimpin melalui integritas, kapasitas, rekam jejak, kepatuhan terhadap AD/ART, kemampuan merangkul perbedaan, keberanian membenahi organisasi, dan kesanggupan menyiapkan generasi penerus.
Pemimpin yang baik tidak membangun kelompok untuk membesarkan dirinya. Ia membangun sistem agar PPTSB tidak bergantung pada dirinya.
Saya menulis ini sebagai putra Sinaga yang bermukim di Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-mula. Dari tanah yang menyimpan jejak perjalanan leluhur, saya melihat PPTSB bukan sekadar organisasi hari ini, melainkan warisan yang harus kita jaga untuk generasi yang belum lahir.
Keagungan Toga Sinaga bukan terletak pada siapa yang paling kuat pengaruhnya, tetapi pada kemampuan kita menjaga persaudaraan di tengah perbedaan dan menempatkan kepentingan bersama di atas ambisi pribadi.
PPTSB harus lebih besar daripada siapa pun yang memimpinnya. Jabatan akan berakhir. Masa bakti akan selesai. Figur akan berganti. Tetapi persaudaraan Toga Sinaga harus tetap berdiri.
Maka marilah kita memasuki Mubes bukan dengan semangat memenangkan kelompok, tetapi dengan hati yang mencari pemimpin terbaik untuk membangun PPTSB yang lebih kuat, tertib, bermartabat, dan berkelanjutan.
Jangan biarkan perbedaan pilihan memutus persaudaraan. Jangan biarkan kebesaran seorang tokoh mengecilkan kebesaran Toga Sinaga. (Penulis Adalah Putra Sinaga-Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-mula. Minggu, 30 Agustus 2026, Pukul 13.40 WIB)


0Komentar