Menjaga Persekutuan Marga Tetap Menjadi Rumah Persaudaraan
Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
Saudara-saudara anggota perkumpulan marga di mana pun berada. Saya tidak menulis ini dari meja rapat. Saya menulisnya dari kegelisahan melihat bagaimana rumah besar yang dibangun untuk merawat tarombo, sejarah, adat, dan persaudaraan perlahan dapat terseret ke dalam kepentingan politik praktis.
Persekutuan marga pada hakikatnya bukan kendaraan untuk mencapai kekuasaan. Ia adalah rumah kebudayaan, tempat tarombo dirawat, sejarah diwariskan, tutur dipelihara, dan persaudaraan dipertautkan.
Karena itu, ketika politik praktis masuk terlalu jauh ke dalam rumah itu, yang dipertaruhkan bukan sekadar pilihan politik, melainkan keutuhan persaudaraan.
1. KETIKA IKATAN DARAH DITARIK KE PASAR POLITIK
Dalam kehidupan Batak, kita mengenal keseimbangan hubungan kekerabatan: ada yang dihormati, dilayani, dan dijaga. Semuanya berada dalam satu tatanan persaudaraan.
Tetapi ketika politik masuk ke dalam perkumpulan marga, keseimbangan itu dapat bergeser menjadi rekomendasi, dukungan, dana, dan kuasa.
Dulu ketika dua saudara berbeda pilihan politik, kita masih dapat berkata: sama-sama dongan tubu, sama-sama saudara; pilihan boleh berbeda, persaudaraan jangan putus.
Sekarang, jangan sampai muncul suara: “Ini calon kita. Semua harus mendukung. Di mana letak kebebasan warga? Di mana ruang bagi perbedaan? Di mana penghormatan kepada hubungan kekerabatan?
Hilang jika perkumpulan marga berubah menjadi alat pengerahan dukungan politik. Akibatnya sederhana tetapi berbahaya: satu keluarga dapat terbelah, satu kampung dapat terkotak, dan pesta adat yang seharusnya mempertemukan saudara berubah menjadi ruang saling menyindir. Gondang tetap berbunyi, tetapi hati tidak lagi menari bersama.
2. KETIKA KEPENTINGAN POLITIK MASUK MELALUI TRANSAKSI
Yang lebih berbahaya adalah ketika kepentingan politik datang bukan melalui gagasan, tetapi melalui transaksi. Calon datang membawa kepentingan. Ada proposal, bantuan, fasilitas, bingkisan, atau dana kegiatan. Kemudian semuanya diberi nama seolah-olah sebagai “dukungan perkumpulan”.
Di sinilah batas antara kepentingan pribadi dan kepentingan organisasi menjadi kabur. Yang menerima merasa diperhatikan. Yang menolak merasa disisihkan. Yang berbeda pilihan dianggap tidak sejalan. Padahal perkumpulan marga bukan milik calon, bukan milik pengurus, dan bukan milik satu kelompok.
Ia adalah rumah bersama. Politik boleh masuk ke ruang pribadi setiap anggota. Tetapi jangan membawa politik praktis untuk menguasai rumah bersama.
3. JANGAN JADIKAN PERUBAHAN ATURAN SEBAGAI PINTU MASUK KEKUASAAN
Setiap perubahan AD/ART memang dapat diperlukan. Tetapi kita harus bertanya dengan jernih: apakah perubahan itu benar-benar untuk memperkuat persaudaraan, atau justru membuka ruang bagi kepentingan tertentu?
Organisasi marga tidak menjadi besar karena mampu memerintah anggotanya. Organisasi marga menjadi besar karena mampu mempersatukan anggotanya ketika mereka berbeda. Karena itu, jangan sampai aturan organisasi digunakan untuk mewajibkan pilihan politik tertentu. Demokrasi kehilangan maknanya ketika persaudaraan dijadikan alat tekanan.
4. JALAN PULANG: KEMBALI KE HAKIKAT “RUMAH”
Kita tidak terutama membutuhkan aturan yang semakin banyak. Kita membutuhkan etika yang semakin kuat. Ada tiga hal yang mendesak. Pertama, pisahkan organisasi marga dari politik praktis.
Perkumpulan marga tidak perlu memiliki calon resmi. Biarkan setiap anggota menggunakan hak politiknya secara bebas. Di bilik suara kita boleh berbeda pilihan; di luar bilik suara kita tetap bersaudara.
Kedua, bangun pakta anti-transaksi. Jangan gunakan nama, struktur, kewibawaan, dan sumber daya organisasi untuk memenangkan calon atau kekuatan politik tertentu.
Ketiga, perkuat rekonsiliasi dari bawah. Jangan biarkan perbedaan politik merusak hubungan kekerabatan. Kembalilah duduk semeja. Berbicara sebagai saudara. Ingat kembali bahwa perkumpulan marga dibangun untuk mempertemukan, bukan mempertentangkan.
PENUTUP
AD/ART boleh diperbaiki berkali-kali. Kepengurusan boleh berganti. Tetapi jangan sampai semangat persaudaraan berubah menjadi semangat memenangkan kepentingan. Jangan sampai anak cucu kita kelak bertanya:
“Mengapa kita satu marga, tetapi tidak lagi satu meja?” Dan jangan sampai jawaban kita adalah: “Karena pada suatu musim politik, kita memilih kursi daripada memilih saudara.”
Sudahilah. Pulanglah kita kepada hakikat perkumpulan marga: rumah persaudaraan. Marga adalah identitas kebudayaan. Perkumpulan marga adalah ruang persekutuan. Keduanya terlalu luhur untuk dijadikan kendaraan politik praktis. Biarlah politik menjadi pilihan pribadi. Biarlah perkumpulan marga tetap menjadi rumah bersama.(Penulis Adalah Pegiat Lingkungan Berbasis Budaya)


0Komentar